Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Lu Yuan si Perusuh


__ADS_3

"Dia hanya mengasihanimu. Apa kau tidak memahaminya, Zen?" ucap Lu Yuan dengan seringai manis dan begitu meremehkan. "Tapi malam ini kau sudah berani mengacaukan moodku! Aku akan sedikit memberikan tamparan untukmu agar tau diri!" imbuh Lu Yuan lalu menyiram sisa wine pada pakaian Zen.


BBYYUURR ...


Zen sedikit menunduk dan menatap pakaiannya yang sudah basah karena tersiram red wine itu.


"Dasar bocah gila! Beraninya kau!" geram Zen sangat menakutkan. Sepasang mata bak okavango blue diamondnya kini menyorot dengan menatap Lu Yuan.


"Mau adu kekuatan? Ayo kita lakukan!" ucap Lu Yuan sambil memasang kuda-kuda dengan wajah yang sudah merem melek.


Tahan dirimu, Jiro! Jika kau meladeninya bahkan sampai melukainya ini akan menjadi masalah besar untuk bocah ini! Jangan terpancing dengan pria bodoh yang bahkan sedang tak sadarkan diri ini!


Batin Zen berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak terpancing oleh Lu Yuan.


Zen hanya menatap tajam pria di hadapannya itu dan terus mengawasi setiap gerakannya. Lu Yuan menyeringai manis dan mulai melayangkan tinjunya untuk mencapai sararannya.


Namun Zen dengan sangat santai menghindari serangan itu. Lu Yuan masih tak jera tak melayangkan kembali beberapa tinjunya. Namun lagi-lagi Zen selalu bisa menghindarinya dengan baik.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba datang dua orang lengkap dengan pakaian serba hitam mulai menghampiri Zen dan Lu Yuan.


"Kalian habisi Li Zeyan!" titah Lu Yuan kepada kedua pria sangar itu yang mungkin adalah pengawalnya.


"Tapi, Tuan Lu ..." sergah seorang pengawal yang sepertinya tidak menyetujui dengan perintah tuannya itu.


"Cepat habisi dia atau kalian akan aku pecat!" gertak Lu Yuan lagi setengah berteriak.


Karena tidak ada pilihan lain, kini kedua pengawal itu mau tidak mau harus melaksanakan perintah dari Lu Yuan. Mereka mulai mendekati Zen yang masih berdiri di sebelah meja makan yang cukup besar dengan bertaplak dusty pink yang berkilauan dan begitu elegan. Di atasnya nya sudah dipenuhi dengan makanan-makanan yang begitu menggiurkan saliva.

__ADS_1


Ketika kedua pengawal itu sudah berada kira-kira satu meter dari Zen, Zen segera menarik taplak meja itu dengan begitu cepat dan fantastis tanpa menjatuhkan semua makanan yang berada di atas meja itu. Fantastis.


Zen menggunakan kain itu untuk menjadi senjatanya. Hanya dengan mengayunkannya beberapa kali saja kedua pengawal itu sudah terikat dengan sempurna dengan kain taplak super mewah itu tanpa melukai kedua pengawal itu.


"Sialan!" ucap Lu Yuan yang terlihat begitu kesal lalu segera melenggang mendekati Zen. Lu Yuan mulai mengayunkan kakinya ke udara untuk menendang Zen. Sementara Zen hanya sedikit menendang kursi yang sedang berada tak jauh darinya. Kursi itu mengenai Lu Yuan dengan sempurna sehingga serangannya tergagalkan.


"Li Zeyan!" teriak Lu Yuan yang terlihat sangat kesal. "Andai saja kau mati saat itu, maka akulah yang menjadi nomor satu saat ini!" imbuhnya dengan wajah yang sudah memanas.


"Kenapa? Apa kau merasa sangat tidak percaya diri sehingga menginginkan kematianku?" ucap Zen dengan begitu santai. "Atau jangan-jangan kau adalah salah satu dalang di balik semua ini?" imbuh Zen sambil mengernyitkan keningnya menatap Lu Yuan.


"Beraninya kau mengatakan hal seperti itu padaku!" Lu Yuan menggeram dan mulai berlari ke arah Zen. Dia mengepalkan tangan kanannya dan mulai melayangkan tinjunya untuk Zen.


SWOSSHH ...


Tinju cepat dan tak sekuat tinju seorang Kagami Jiro itu dalam sekejap bisa dihindari Zen dengan sangat baik. Karena saking kencangnya berlari dan mengeluarkan kekuatan untuk tinjunya, tubuh Lu Yuan terhoyong jatuh ke depan ketika Zen berusaha untuk menghindarinya. Tubuh itu terhuyung dan terjatuh di dalam sebuah kolam renang tepat di belakang Zen berdiri.


BBYUURR ...


Mereka yang tadinya sedang berada si dalam ruangan kini berbondong-bondong keluar. Seseorang pengawal Lu Yuan yang baru datang ikut menceburkan diri ke dalam kolam renang itu dengan cepat dan segera menolong Lu Yuan.


Zen mulai melenggang mendekati Amee yang masih berdiri di dekat balkon. Gadis itu terlihat begitu shock dan sangat ketakutan. Bahkan dia mulai menggigil.


"Kamu baik-baik saja, Amee?" tanya Zen karena melihat Amee yang masih terlihat begitu shock.


"A-aku baik-baik saja ... apa kamu juga baik-baik saja, Zen?" ucap Amee begitu khawatir, karena sebelumnya Amee tidak pernah melihat Zen bertarung.


"Aku baik-baik saja. Mereka tak akan bisa melukaiku." sahut Zen dengan seulas senyum. Netra Zen kini menangkap pergelangan tangan kanan Amee yang memerah karena cengkeraman Lu Yuan yang begitu kuat.

__ADS_1


"Amee ... tanganmu ..."


"Tidak apa-apa! Jangan khawatirkan ini!" jawab Amee cepat-cepat menutupinya dengan jemari kirinya.


Amee terlihat mulai menggigil. Entah karena angin malam yang membuatnya kedinginan atau entah karena kejadian barusan yang membuatnya sangat syok.


Kini Zen berinisiatif melepaskan jaznya dan memakaikan untuk Amee.


"Tidak usah, Zen ..." ucap Amee berusaha menolaknya.


"Sudah. Pakai ini dulu ..." ucap Zen kekeh dan tetap memakaikan jaz itu untuk Amee.


Beberapa saat tiba-tiba saja datang dua orang pria. Seorang pria yang ternyata adalah kak Kai mulai menghampiri Zen dan Amee dengan langkah tergesa. Sementara seorang pria lainnya mulai menghampiri Lu Yuan yang sudah naik dari kolam renang. Sepertinya pria itu adalah manager dari Lu Yuan.


Kak Kai sempat menatap Zen dan Amee dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan. Dia melihat Amee yang terlihat sedang dalam kondisi tidak baik, bahkan memakai jaz milik Zen.


"Sebenarnya ada apa ini, Zen?" tanya kak Kai menatap Zen dengan tegas. "Apa kau membuat masalah? Lalu kenapa kau ada disini, Amee?" imbuh kak Kai yang kini beralih menatap Amee.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Tapi bocah bernama Lu Yuan itu tiba-tiba membuat ulah. Dia menyiram pakaianku dengan wine. Bahkan menyuruh para pengawalnya untuk menyerangku. Dan ... dia juga menyerangku tapi malah tercebur dalam kolam renang. Padahal aku sama sekali tidak menyentuhnya. Kalau tidak percaya kakak bisa bertanya kepada tamu yang sedari tadi disini dan menyaksikan semuanya." jelas Zen dengan jujur.


"Dan sebenarnya Lu Yuan yang sedang mabuk tadi sempat menggoda Amee. Namun aku sedikit menegurnya, mungkin gara-gara itu dia menyerangku." imbuh Zen lagi.


Kak Kai terdiam beberapa saat. Raut wajahnya terlihat begitu serius menatap Zen dan Amee secara bergantian.


"Mari kita pulang! Amee, Vann akan mengantarmu. Kakak harus mengantar Zen." ucap kak Kai akhirnya.


"Tidak, Kak! Kakak antar Amee saja. Aku akan pulang bersama Vann." sela Zen dengan cepat.

__ADS_1


"Hhm. Baiklah! Besok pagi kakak akan menjemputmu."


"Baiklah, Kak."


__ADS_2