Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pertemuan Zen Dan Jiro


__ADS_3

TRIINNGG ...


Kini pintu lift itu sudah terbuka, Zen yang sangat bersemangat untuk segera keluar dari dalam lift itu tiba-tiba menghentikkan langkah kakinya begitu saja dan dia terlihat begitu terkejut menatap lurus ke depan.


Terlihat seorang pria dewasa yang sangat dia kenali, pria yang selalu berpendirian, tegas, berwibawa, kini juga terlihat sama terkejutnya sama seperti dirinya. Dan dia sudah berdiri di depan pintu lift itu.


Mereka bertatapan cukup lama. Ada rasa haru, bahagia, rindu yang begitu menggunung. Semua bercampur menjadi satu. Bahkan pria dewasa yang masih berdiri di luar pintu lift itu kini telihat sudah hampir menitikkan air matanya.


Beberapa saat pintu lift itu sudah hampir tertutup lagi. Dengan cepat Zen segera menahannya dengan kaki kanannya ketika pintu lift itu hampir saja tertutup sempurna. Seketika pintu lift itu terbuka kembali, dan dengan cepat Zen segera keluar dan sedikit menarik lengan pria dewasa itu.


"Tuan Kagami Jiro ..." ucap pria dewasa itu pelan.


"Kita berbicara saja di appartemenmu! Oh, bukan! Maksudku appartementku! Karena akulah Li Zeyan saat ini! Jadi semua itu adalah milikku!" ucap Zen yang masih menggiring pria dewasa yang tak lain adalah Kagami Jiro itu menuju sebuah kamar.


"Itu berarti semua yang ada di Jepang saat ini adalah milikku, Tuan? Semua aset, kekayaan, bahkan keluarga?" ucap Kagami Jiro dengan polos.


"Jangan berani menyentuh istriku! Dia adalah tetap milikku!" geram Zen yang kini menghentikkan langkah kakinya di sebuah kamar appartement lalu menempelkan card keemasan dan mulai memasukkan beberapa angka.


BBIIPP ...


Kini mereka berdua mulai memasuki appartement itu bersama. Zen segera melepas gips pada tangan kanannya dan melepas jaketnya karena sedikit merasa gerah. Lalu dia melempar tubuhnya di atas sofa dan mengambil sebotol minuman yang ada di hadapannya.


Kagami Jiro mulai mengedarkan pandangannya dan melihat appartement yang sudah hampir 4 bulan ditinggalkannya itu. Rindu sekali rasanya, dia berjalan mendekati sebuah meja dan mengambil sebuah figura. Terlihat seorang pria tampan bermata biru dengan senyum lebar bersama dengan seorang kakek-kakek.


"Kakek Li Feng ..." gumamnya begitu lirih dan kini matanya sudah kembali berair lagi.


"Bocah, duduklah!" ucap Zen sambil meletakkan minuman botolnya di atas meja dengan cukup keras.

__ADS_1


"Ya, Tuan." dengan patuh Kagami Jiro segera mengikuti ucapan Zen dan segera duduk di hadapannya.


"Tuan Jiro, bagaimana kabar tuan? Aku sungguh minta maaf atas semua perbuatan yang telah dilakukan oleh Lu Yuan. Aku sungguh tidak pernah berfikir dia bisa melakukan semua hal itu. Aku tidak tau mengapa dia begitu tidak menyukaiku. Aku sungguh minta maaf, Tuan." ucap Kagami Jiro sedikit membungkukkan badannya dalam posisi yang masih duduk.


"Tidak masalah, Bocah! Nasib baik masih berpihak kepadaku." Zen menyauti dengan senyum lebar lalu mengambil sebuah botol jus jeruk dan melemparnya ke arah Kagami Jiro. "Minumlah dulu!"


"Baik, Tuan." Kagami Jiro menyauti lalu segera membuka dan meneguk minuman itu. Namun dia masih tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini, sepasang mata kecoklatan itu semakin berair dan kini malah air mata itu tumpah dan membasahi pipinya.


"Hei, Bocah! Kenapa malah menangis?! Kau sungguh ingin menghancurkan karakterku ya?!" tandas Zen dengan suara yang begitu melengking.


"Maafkan aku, Tuan." Kagami Jiro dengan cepat mengusap air matanya kembali. "Aku hanya sangat merasa bersalah kepada tuan Jiro. Target Lu Yuan sebenarnya adalah aku, tapi malah tuan Jiro yang harus mengalami semua itu! Bahkan jika terlambat sedetik saja, tuan benar-benar akan kehilangan nyawa tuan. Hiks ... aku tidak bisa membayangkan betapa kehilangannya kak Yuna, Kenzi dan Kenzou ... hiks ..." ucap Kagami Jiro yang kembali menangis.


"Berhentilah menangis dan menyesali semua itu, Bocah! Saat ini kau adalah Kagami Jiro! Seorang pemimpin dari yakuza terbesar di dunia, Doragonshadou! Sebelum kita bertukar tubuh kembali, maka kau harus melakukan semuanya dengan baik! Kau harus kuat dan selalu tegar! Teruslah berlatih bersama Yukimura!" tandas Zen dengan begitu tegas. "Latihan fisik kelak akan membantumu untuk melindungi dirimu sendiri dan orang yang kau sayangi! Apa kau paham?!" ucap Zen dengan begitu tegas.


"Aku akan berusaha dan melakukan yang terbaik, Tuan!" ucap Kagami Jiro masih dengan berkaca-kaca.


"Jadi ... kalau boleh tau, mengapa tuan berpura-pura mengami cedera tangan kanan?" tanya Kagami Jiro sangat berhati-hati.


"Ah ... ini agar Yuna mengira jika Yukimura benar-benar sudah memberikan pelajaran untukku. Ehm ... soal itu, aku juga minta maaf karena sudah memakai tubuhmu dengan tidak benar. Kau pasti tidak tau, bagaimana rasanya merindukan seorang istri. Saling berjauhan namun tidak bisa saling mengungkapkannya. Rasanya begitu menyiksa dan sakit sekali. Dan lagi, aku adalah pria dewasa yang normal."


"Aku tau bagaimana rasanya, sangat sakit tak berujung. Mengagumi dan selalu merindukannya, namun tak pernah bisa mengungkapkannya." ucap Kagami Jiro tanpa sadar.


"Cckk ... aku kira kau sudah melupakan gadis bernama Amee itu." Zen berdecit lalu membuka lebar kedua tangannya dan menyandarkan di sofa.


"Mengapa tuan Jiro bisa mengetahuinya?"


"Aku bukan anak kecil lagi, Bocah! Aku adalah pria dewasa yang matang dan aku bisa mengetahui karakter orang hanya dengan sekilas berbincang dengannya saja. Namun, ada satu orang yang sangat dekat denganmu yang sangat membuatku penasaran. Terkadang dia baik dan tulus padamu, tapi beberapa waktu silam, dia memiliki aura yang sedikit berbeda. Kelak jika kau sudah kembali ke tubuh ini, kau harus lebih berhati-hati. Karena orang terdekat terkadang adalah orang yang sangat berbahaya."

__ADS_1


"Siapa maksud, Tuan Jiro?" ucap Kagami Jiro begitu kebingungan.


"Belum saatnya kau mengetahuinya. Aku akan memastikannya lagi apa sebenarnya motif dari orang itu." ucap Zen dengan santai. "Aku juga sudah menemukan akun asli orang yang menyebarkan video masa lalumu. Suatu saat aku akan menemuinya sendiri."


"Tuan Jiro, begitu banyak hal yang kau lakukan untukku. Bagaimana caranya aku membalas semua itu?" ucap Zen sangat merasa tidak enak.


"Hhm ..." Zen memicingkan matanya menatap Kagami Jiro. "Kau sudah bertemu dengan Ley Bixing bukan saat itu?"


"Benar sekali, Tuan."


"Apa yang dikatakan Yukimura itu benar?"


Beberapa saat Kagami Jiro terdiam dan mencoba mengingat-ingat sesuatu, "Ya. Semua itu benar. Tapi aku tidak mengetahui siapa yang dia maksud. Aku belum menemukan petunjuk apapun selain benda yang tuan Ley Bixing berikan padaku."


"Sebuah benda?" Zen mengkerutkan keningnya menatap Kagami Jiro begitu penasaran.


"Benar. Sebuah benda milik orang yang sudah menyerang tuan saat itu. Benda itu terjatuh di tempat kejadian Japan Telexistense, dan tuan Ley Bixing yang memungutnya."


"Berikan benda itu padaku!" ucap Zen dengan begitu tegas.


"Sebentar, Tuan. Kebetulan sekali sebelum berangkat ke Beijing aku sudah mempersiapkannya dan berniat untuk memberikannya kepada tuan Jiro." Kagami Jiro mulai mencari sesuatu di dalam semua saku pakaiannya, namun sepertinya dia tidak menemuman apapun disana.


"Sepertinya aku meninggalkannya di Legendale Hotel Beijing, Tuan. Aku akan mengambilnya sebentar." ucap Kagami Jiro dengan wajah serius.


"Kita akan mengambilnya bersama! Ayo!"


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2