
Christal mulai bangkit dari tempat duduknya dan segera menyiapkan kursi roda untuk Zen. Lalu Christal mulai membantu Zen untuk berpindah dan duduk di kursi roda itu.
"Kalian mau pergi kemana?" tanya kak Kai mulai menatap Zen dan Christal dari sofa.
"Aku ingin mengunjungi tuan Kagami Jiro, Kak Kai." sahut Zen dengan jujur.
"Ohh, baiklah. Hati-hati ya. Vann, Yunxi, Nokto dan Jin Heng masih berjaga di luar kok. Kau akan aman." sahut kak Kai yang masih tetap duduk di atas sofa itu. "Tapi ingat, kau hanya boleh ke ruangan rawat tuan Kagami Jiro saja! Kau tidak boleh pergi kemanapun selain itu! Jika mau jalan-jalan karena bosan, ajak beberapa pengawal." ucap kak Kai menandaskan karena tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi.
"Okay, Kak." sahut Zen dengan semangat.
"Dan kau, Chistal. Kemanapun kamu pergi, selalu ajak pengawalmu Key! Tak menutup kemungkinan mereka akan mencoba untuk mencelakai kalian lagi. Jadi mulai sekarang harus lebih berwaspada. Terutama kamu, Christal." kini kak Kai beralih menatap Christal.
"Hhm. Iya, kak Kai. Aku paham! Aku akan selalu mengajak pengawal Key kemanapun aku pergi. Dan ... kak Jiro juga akan memberikan menambah pengawal untukku mulai pekan depan." Christal menyauti dengan ekspresi serius menatap pria berkaca mata bening itu.
"Hhm. Iya, untuk antisipasi." ucap kak Kai lagi dengan ekspresi begitu santai menatap Christal. "Ya sudah, kalian pergilah. Aku dan Amee juga akan mengunjunginya dan menyusul kalian setelah menyelesaikan beberapa editan poto ini. Benar begitu, Amee?" kak Kai beralih menatap Amee untuk meminta persetujuan dari Amee.
Amee mulai tersenyum lembut dan mengangguk pelan, "Tentu saja, Kak. Xia Feii akan segera datang. Nanti kita akan bergantian menjaga Zen."
"Baiklah, kalau begitu kita pergi dulu. Dah ..." ucap Christal terlihat begitu bersemangat, dengan senyumaan lebarnya dia mulai mendorong kursi roda itu dan mulai meninggalkan kamar rawat Zen.
Christal terus mendorong kursi roda itu dan mulai melalui beberapa pengawal Zen dan pengawal keluarga besar Kagami di sepanjang lorong itu. Setiap pengawal yang mereka lalui seketika membungkukkan badannya ketika Zen dan Christal melalui mereka.
__ADS_1
Kini Christal mulai mengetuk sebuah kamar rawat VIP yang hanya berselisih 3 kamar saja dari kamar rawat Zen.
"Masuk ..." terdengar suara seorang wanita dari dalam ruangan itu.
Christal mulai membuka itu dan mulai mendorong kursi roda Zen kembali untuk memasuki ruangan rawat VIP itu.
Terlihat seorang pria dewasa dalam posisi duduk di atas brankar dengan tangan kanannya yang masih memakai gips, sementara beberapa perban masih melilit keningnya.
Sementara di sebelahnya sudah ada seorang wanita yang memiliki wajah dan postur tubuh yang masih cukup cantik. Dengan usianya yang bulan depan menjadi genap 26 tahun dan memiliki 2 anak kembar, wanita itu tak akan kalah bersaing dengan seorang gadis yang berumur 22 tahunan.
Kagami Jiro tersenyum hangat menyambut kedatangan Christal dan Zen. Berbeda dengan Yuna, dia begitu malas melihat kedatangan Zen. Karena di matanya, Zen adalah masih tetap menjadi pemuda yang begitu menyebalkan dan tak tau diri.
"Hallo, Kak Jiro ... kakak ipar Yuna!" sapa Christal dengan wajahnya yang berseri dan mendorong kembali kursi roda itu hingga semakin mendekati brankar.
"Tuan Kagami Jiro ..." ucapan Zen juga terdengar begitu bergetar dan penuh haru.
Kedua pria itu saling bertatapan cukup lama hingga manik-manik indah mereka mulai berkaca saking terharunya. Sebuah kejadian luar biasa yang sempat dialami oleh mereka berdua dan hanya diketahui oleh mereka berdua dan Yukimura saja. Sangat di luar nalar namun itulah yang terjadi dan nyata!
Empat bulan mereka saling beradaptasi pada raga yang masing-masing ditempatinya saat itu. Raga dan kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya yang sebenarnya. Empat bulan mereka berusaha menjadi yang terbaik dari yang terbaik untuk raga-raga yang sedang mereka tempati saat itu, dengan versi dari jiwa mereka masing-masing.
Semua itu sangatlah tidak mudah untuk dilalui oleh mereka berdua. Zen yang terus berlatih untuk memperkuat mental dan fisiknya dengan latihan keras di setiap harinya. Kagami Jiro yang terus melatih kesabarannya dan tidak selalu menyelesaikan semua masalah hanya dengan kekuatan dan otot saja, karena saat itu dia juga harus selalu menjaga pamor Zen sebagai seorang Idol.
__ADS_1
Pengorbanan, rindu yang kian menggunung, karena jiwa mereka saling berjauhan dengan orang-orang terkasihnya. Namun mereka tak pernah menyerah, meskipun terkadang begitu lelah dengan keadaan.
Mereka terus selalu berusaha untuk membantu satu sama lain untuk memecahkan misteri demi misteri dari raga yang sedang mereka tempati sebagai cangkangnya. Hingga akhirnya misteri besar mulai terkuak secara perlahan.
Jiwa Kagami Jiro yang bisa memecahkan kasus Zen yang sempat membuat Zen begitu frustasi hingga melakukan percobaan bunuh diri, hubungan darah Zen dengan kak Kai yang tertutup rapat dan tersimpan dengan apik saat itu dan membuat kak Kai menyimpan sebuah dendam dan luka. Semua bisa terpecahkan oleh Kagami Jiro dan berakhir dengan begitu hangat.
Sedangkan Zen yang sedang menempati raga Kagami Jiro, Zen sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan Kagami Jiro dengan Amane dengan meminta maaf. Sebuah kata yang sangat tidak mungkin diucapkan oleh seorang Kagami Jiro hanya untuk seorang wanita! Namun rupanya Kin Izumi tak memiliki jiwa yang lapang dan malah berniat untuk melenyapkannya.
Christal dan Yuna sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Mengapa kedua pria itu begitu terharu setelah bertemu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Bahkan seorang Kagami Jiro bisa begitu terharu saat bertemu dengan Zen. Apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua? Sejak kapan mereka berdua begitu dekat seperti ini?
Mungkin seperti itulah yang sedang dipikirkan oleh Yuna dan juga Christal saat ini. Namun kedua wanita cantik ini tak banyak berkata-kata dan hanya membiarkannya saja.
"Bocah Li Zeyan! Kemarilah!" kini ucapan Kagami Jiro terdengar semakin bergetar dan masih menatap lekat Zen.
Setelah mengedipkan matanya beberapa kali untuk menahan air mata hangat itu agar tidak jatuh begitu saja, Zen mulai berniat untuk menjalankan kursi rodanya mendekati brankar.
Namun belum sempat Zen melakukannya, Christal segera berinisiatif dan lebih dulu mendorong kursi roda itu untuk mendekati brankar.
"Terima kasih, Christal." gumam Zen pelan dan tersenyum samar.
__ADS_1
"Hhm. Sama-sama." sahut Christal seadanya.
Yuna mulai sedikit minggir untuk memberikan ruang untuk Zen dan Christal.