Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bertemu Dengan Sahabat Kuliah


__ADS_3

Beijing Wan Chai University ...


Seorang pemuda tampan mulai melenggang dengan senyum yang selalu dipamerkannya sepanjang jalan. Setiap langkah kakinya seperti ritme indah yang mengiringi arahnya.


Sebuah ear phone berwarna baby blue terlihat sudah dia kenakan, dan sepertinya pemuda itu begitu menikmati lagu yang saat ini sedang dia dengarkan. Terlihat wajahnya yang selalu berseri dan sesekali pemuda itu juga melantunkan beberapa lirik.


"How did someone like me, get someone like you? Damn it feels like i won a lottery. Don't know if i'am awake or if i'am dreaming."


Sebuah lagu yang baru saja dia ciptakan sendiri, dan sedang dia dengarkan saat ini sesekali pemuda itu mengikutinya untuk bernyanyi dengan pelan.


Hingga akhirnya pemuda itu mulai berhenti di halaman utama Beijing Wan Chai University, dan mulai menatap gedung megah nan kokoh itu. Ear phone itu mulai ditanggalkannya begitu saja menggantung pada lehernya. Senyumnya masih menghiasi wajah tampan itu yang saat ini masih menatap gedung di hadapannya.


Ahhh ... rasanya rindu sekali!! Sudah lama aku tidak mendatangi kampus ini! Tidak berangkat kuliah selama 4 bulan rupanya bukan hanya menyenangkan, namun aku lebih merasa begitu merindukannya. Bagaimana kabar Bai Xi dan Jancent ya? Bukankah saat itu Jancent mengalami kecelakaan di ruang Lab kampus ini hingga mengalami cedera yang cukup parah.


Batin pemuda bermata kebiruan yang tak lain adalah Zen.


PPUUKK ...


Sebuah tepukan pada bahu lebar Zen kini membuyarkan angan Zen saat ini. Hingga akhirnya Zen mulai menoleh ke samping, dan Zen sudah melihat seorang pemuda yang memiliki sebatas leher Zen dengan model rambutnya yang begitu khas, jabrik. Dan sudah hampir 3 tahun pemuda itu tak pernah merubah gaya rambutnya sama sekali.


Sudut-sudut bibir Zen mulai ditariknya hingga membentuk sebuah senyuman yang begitu melelehkan siapa saja yang menatapnya.


"Bai Xi!! Aku sungguh merindukanmu!" tak hanya tersenyum lebar karena merasa begitu bahagia karena bisa bertemu dengan sahabatnya saat di kampus, kini Zen juga mulai memeluk Bai Xi begitu saja.


Dan tentu saja ini membuat Bai Xi merasa sedikit aneh. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama satu bulan saja, namun Zen terlihat seperti sudah lama tidak bertemu saja.

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kamu tiba-tiba saja seperti ini, Zen?" tanya Bai Xi begitu tak mengerti.


Zen mulai melepas pelukannya dan menatap Bai Xi selama beberapa saat masih dengan senyuman lebar.


"Aku baik-baik saja! Aku hanya merasa senang karena masih bisa bertemu dan melihatmu lagi seperti ini." jawab Zen dengan jujur.


"Memang kau pikir aku akan mati lebih cepat? Dasar kau ini, Zen!" sungut Bai Xi yang mulai berbalik dan mulai melenggang untuk memasuki kampus.


Zen segera mengikuti Bai Xi dengan tawa kecil dan mulai melingkarkan tangan kirinya pada bahu Bai Xi.


"Berada di Jepang selama beberapa saat saja sudah membuatmu merindukanku ya. Bagaimana jika kelak kau memiliki istri orang Jepang? Apakah kau juga masih akan mengingatku, Zen?" ucap Bai Xi yang sebenarnya asal berkata saja.


Namun perkataan Bai Xi sangat tepat dengan apa yang sedang terjadi saat ini dan seakan-akan Bai Xi memang sedang menggoda Zen.


"Tentu saja aku akan tetap mengingatmu, Bai Xi. Karena tentunya aku akan membawa istriku ke Beijing." jawab Zen dengan tawa lepas.


Zen tidak menjawabnya dan malah terkekeh semakin keras. Langkah demi langkah kaki mereka kini mulai membawa mereka ke dalam salah satu ruangan kuliah yang cukup besar.


Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat sudah berada di dalam ruangan itu dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Ada yang hanya membaca buku, ada segerombolan yang berkumpul dan bergosip ria.


Zen dan Bai Xi tak terlalu menghiraukan mereka, karenq tak terlalu dekat dengan para mahasiswa dan mahasiswi itu. Kini mereka berdua mulai memilih tempat duduk nomor 2 dari di depan.


Setelah beberapa saat, dari arah pintu terlihat Jancent yang datang bersama Li Lian. Dan sebenarnya ini cukup aneh di hadapan Zen. Selama ini Jancent tak pernah dekat dengan Li Lian. Karena selama ini, Zhang Whei tak akan pernah diam saja jika ada seorang pria yang berusaha untuk mendekati Li Lian.


Bahkan saat dulu, Zen yang tak pernah berusaha untuk mendekati Li Lian malah selalu kena ulah usil dari Zhang Wei dan teman-teman satu servernya. Padahal saat itu Li Lian-lah yang menyukai Zen.

__ADS_1


"Mengapa mereka datang bersama?" celutuk Zen kebingungan dan masih menatap Jancent dan Li Lian dari kejauhan.


"Apa?" tanya Bai Xi membulatkan sepasang matanya menatap Zen, dan Zen juga mulai beralih menatap Bai Xi bingung.


"Apanya yang apa? Aku tanya mengapa mereka berdua bisa datang bersama?" Zen mengulangi pertanyaannya lagi.


"Apa kau sedang cemburu, Zen? Sudahlah ... lepaskan saja Li Lian. Jancent dan Li Lian sudah bahagia saat ini. Jangan berusaha untuk merusaknya!!" ucap Bai Xi malah mengancam Zen.


"Siapa yang cemburu? Kamu salah besar, Bai Xi. Lagipula aku tak pernah menyukai Li Lian." jawab Zen dengan jujur.


"Lalu mengapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah wajar jika mereka berdua datang bersama. Toh mereka sekarang sudah memegang komitmen bersama. Aku sangat senang lo ... karena Li Lian bisa terlepas juga dari Zhang Wei si busuk itu!!" geram Bai Xi.


"Maksudmu mereka berdua berpacaran?" tanya Zen lagi.


"Apa kau benar-benar tak mengingat apapun, Zen?" Bai Xi mengkerutkan keningnya menatap Zen.


Sungguh pertukaran jiwa yang terjadi di antara Zen dan Kagami Jiro begitu membuat orang-orang di sekitarnya merasa begitu kebingungan dan tak mengerti.


"Maaf, Bai Xi. Tapi semenjak aku mengalami kecelakaan dan koma beberapa bulan yang lalu, membuat ingatanku menjadi sedikit bermasalah seperti ini." kilah Zen dan berharap Bai Xi akan mempercayainya tanpa memperpanjang masalah ini


"Oh, benar juga. Maaf aku lupa. Tapi aku tak menyangka jika ada jenis penyakit seperti itu di dunia ini lo. Terkadang ingat, terkadang lupa. Jadi lebih menyerupai penyakit orang yang sudah tua saja, Zen. Alias pikun ... ahaha ..." Bai Xi tertawa lepas dan memegangi perutnya.


"Cihh ... kamu menyebalkan ya!!" celutuk Zen sedikit kesal dan mendorong Bai Xi.


Setelah beberapa saat akhirnya Jancent dan Li Lian mulai datang menghampiri mereka berdua dan mulai duduk bergabung bersama Zen dan Bai Xi. Zen merasa begitu bahagia saat melihat Jancent dan Li Lian yang sudah membaik.

__ADS_1


Namun masih terlihat ada sedikit bekas pada kornea mata Jancent. Sementara wajah Li Lian terlihat sudah begitu mulus, karena mungkin Li Lian sudah melakukan sebuah operasi plastik daat wajahnya terluka saat itu.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2