
Christal terdiam selama beberapa saat dan berusaha untuk mengingat sesuatu, hingga akhirnya Christal berhasil mengingatnya. "Bukankah ... mereka sudah meninggal? Ops ... maaf, Li Zeyan ..."
Zen menunduk dan tersenyum mendengar ucapan Christal, "Tidak perlu meminta maaf, Christal. Meskipun mereka sudah tiada, bukan berarti aku harus melupakan mereka. Sampai kapanpun kenangan mereka akan selalu tersimpan pada hatiku. Hanya saja ... terkadang aku begitu merindukan mereka. Mereka pergi begitu cepat, bahkan mereka pergi saat aku masih sangat kecil." Zen menautkan kedua jemarinya dan masih menunduk.
Mungkin saat ini kepedihan itu kembali membuat hatinya terasa menjadi sakit kembali. Lima belas tahun hidup tanpa pelukan dan kasih sayang seorang ibu, lima belas tahun tak merasakan dekapan seorang ayah.
Hidup serba berkecukupan, namun kehidupan saat kecil seorang Li Zeyan cukuplah berat. Dia tak pernah memiliki teman saat itu, hanya Amee yang selalu ada untuknya saat itu. Berat dan sakit! Itulah yang dirasakan Zen saat itu.
Namun dia bisa bangkit dan mulai merubah dirinya saat itu. Belajar dan belajar lebih giat lagi untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik dan tak selalu diremehkaan oleh orang lain lagi.
"Hari ini adalah tepat 15 tahun kedua orang tuaku pergi ..." ucap Zen yang masih menunduk. "Namun rasa sakit dan rindu ini begitu terasa dan tak pernah berubah sedikitpun."
Christal mulai berbalik dan mendekati Zen yang masih menunduk saja.
"Li Zeyan ... aku juga pernah merasakan hal yang sama seperti yamg kau rasakan. Aku kehilangan ibuku saat itu, dan rasanya benar-benar duniaku runtuh dalam sekejap. Namun percayalah, Tuhan lebih menyayanginya dibanding dengan kita. Jangan selalu bersedih!" Christal menepuk pelan bahu lebar Zen.
"Christal ... kau benar sekali. Maafkan aku ... aku sungguh memalukan ..." Zen mengusap wajahnya dengan kedua jemarinya.
"Hhm. Tidak perlu meminta maaf kepadaku! Memang kamu bikin salah apa?" Christal tertawa renyah dan seketika kesedihan Zen perlahan sirna kembali. "Masih mau bermain bersama hari ini?"
Zen mulai mendongak menatap Christal dan mengangguk pelan, "Mau bermain apa hari ini?" ucap Zen sambil menggerakkan kursi rodanya menuju sebuah meja untuk mengambil dua buah console game.
"Laga petualangan boleh." celutul Christal lalu duduk di sebuah sofa.
"Okay. Bagaiamana kalau game terbaru Ghostwire Tokyo ? Salah satu game terbaru laga-petualangan lo." ucap Zen sambil memberikan sebuh console game miliknya untuk Christal.
__ADS_1
"Okay! Sepertinya seru!"
"Hhm. Hidupkan saja koneksinya dulu agar saling terhubung dengan console game milikku." ucap Zen lalu meletakkan console game satunya di atas meja, lalu Zen berusaha untuk bangkit dari kursi rodanya dan berniat untuk pindah duduk di sofa bersama Christal.
Christal yang menyadarinya kini segera membantu Zen dengan mengalungkan tangan Zen melingkar pada bahunya.
"Tidak perlu, Christal. Aku bisa sendiri kok." ucap Zen merasa tak enak.
"Hhm. Bukankah kau tidak boleh memaksakan kakimu untuk menopang berat tubuhmu sepenuhnya? Jangan memaksakan diri jika ingin segera sembuh!" celutuk Christal yang masih membantu Zen berpindah tempat dan duduk di atas sofa.
"Tapi aku ingin selalu di Jepang ..." gumam Zen tanpa sadar.
"Maksud kamu?" Christal mulai sedikit menunduk untuk melepas tangan Zen dari bahunya dan segera kembali duduk di sebelah Zen. Tak lupa sebuah console game yang berada di atas meja itu segera diraihnya kembali untuk segera memulai permainan.
"Hhm. Iya!" sahut Christal seadanya karena gadis berwajah mungil itu kini terlihat sedang fokus memilih karakter dan meilik beberapa senjata dan kostum untuk karakternya.
Christal dan Zen terlihat begitu menikmati permainan itu. Bahkan sesekali mereka berteriak bersama dan melakukan tos saking kegirangan sudah berhasil mengalahkan musuh utama mereka.
Kak Kai yang memasuki kamar itu, bahkan sampai tak diketahui kedatangannya oleh kedua anak muda itu. Karena saking asyiknya bermain berdua, mungkin saja jika ada gempa bumi, ****** beliung, ataupun banjir bandang pun mungkin saja tak akan mereka sadari.
Entahlah itu karena mereka yang begitu menikmati permainan itu, ataukah karena mereka yang begitu menikmati kebersamaan di saat-saat terakhir itu.
"Hei, Christal!" ujar kak Kai tiba-tiba yang sudah duduk di seberang Christal dan Zen.
"Eh ... kak Kai. Sejak kapan kak Kai datang? Mengapa aku tak menyadarinya?" celutuk Christal yang hanya sekilas melirik kak Kai, lalu kembali fokus memainkan karakternya.
__ADS_1
"Baru saja kok. Kalian terlalu asyik bermain, jadi tidak menyadari kehadiran kakak deh." sahut kak Kai mengambil sebuah majalah di hadapannya lalu membacanya.
"Christal! Awas sebelah belakangmu ada dua archer dan dua soldier!!" ucap Zen begitu histeris dan masih menekan-nekan beberapa tombol untuk membantu Christal melawan 2 acher dan 2 soldier itu.
"Ahhh ... iya!! Banyak sekali mereka!! Ahh ... ini gara-gara kak Kai yang mengajakku berbincang nih, aku jadi kehilangan konsentrasi hingga mereka semua mengepungku!!" celutuk Christal yang juga mulai terlihat menekan-nekan beberapa tombol dalam console game itu.
Ucapan kata dari Christal itu sukses membuat kak Kai begitu membelalak menatap Christal dan Zen, hingga akhirnya kak Kai memutuskan untuk pergi kembali meninggalkan mereka berdua. Yeap, daripada menjadi sasaran dari kedua anak muda itu, akhirnya kak Kai memutuskan untuk pergi saja.
Setelah beberapa saat akhirnya Zen dan Christal mulai menyudahi permainan itu, karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 PM. Itu artinya sudah cukup lama mereka bermain bersama.
"Christal, besok tidak usah pergi ke hotelku. Biarkan aku saja yang datang ke rumahmu. Kita bermain disana saja. Sekalian aku ingin bertemu dengan si kembar Kenzi dan Kenzou. Rasanya aku juga sangat kangen dengan mereka." ucap Zen sebelum Christal meninggalkan kamar hotelnya.
"Okay deh! Sampai jumpa besok, Li Zeyan!" ucap Christal mulai melambaikan tangan kanannya lalu meninggalkan kamr hotel Zen.
Senyuman Zen masih mengiringi kepergian Christal hingga punggung gadia manis iti menghilang dari pelupuk matanya.
Sementara itu di salah satu kamar di rumah besar Kagami.
Kagami Jiro yang sengaja memasang alat penyadap suara pada ponsel Christal dengan menggunakan sting ray , terlihat sedang mendengarkan setiap percakapan demi percakapan antara Christal dan Zen.
Sebuah senyuman mulai disunggingkannya, menghiasi wajah tegas nan sangar itu.
"Tidak salah lagi! Bocah Li Zeyan adalah bocah yang baik! Bahkan saat sedang berada di sebuah kamar hotel dan hanya berduaan dengan Christal, tak ada sedikitpun niat untuk melakukan sesuatu yang jahat seperti mencari sebuah keuntungan. Hhm ..."
...⚜⚜⚜...
__ADS_1