Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
A Togetherness


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pemotretan, kini mereka bertiga memesan beberapa makanan dan menikmatinya bersama. Dan yang paling membuat Amee dan kak Kai terheran-heran adalah Zen sama sekali tidak memesan salah satu makanan faforitnya selama ini.


Zen yang biasanya akan selalu menyukai makanan manis seperti cake, red velvet, dan kue-kue manis lainnya. Zen juga sangat menyukai lobster, cumi, dan semua masakan jenis seafood. Di juga sangat menyukai segala jenis steak.


Namun kali ini, Zen hanya memesan sushi masakan Jepang dan juga chicken pop. Dan dia juga minta dibelikan Americano coffe.


Sungguh kak kai dan Amee sedikit merasa aneh dengan hal ini. Namun keduanya tak terlalu mengindahkannya, dan memesankan saja apa yang Zen mau saat ini.Sambil menunggu pesanan makanan datang, mereka bertiga menyibukkan diri masing-masing.


Amee masih menyibukkan dirinya untuk meng-edit beberapa foto kak Kai dengan laptopnya dan duduk di atas karpet. Sementara Zen masih duduk di sofa dengan kedua kaki diluruskan di atas meja. Sementara jemarinya terlihat sibuk dengan ponselnya.


Sementara kak Kai terlihat sesekali membantu Amee untuk memberikan saran saat meng-edit foto-foto untuk katalog itu.


"Coba tulisan ini digeser ke kanan sedikit, agar tidak terlalu dekat dengan fotonya ..." ucap kak Kai menyarankan dengan begitu hangat. Dia masih terlihat begitu sibuk duduk di atas karpet bersama Amee dan keduanya menatap monitor lekat-lekat. Dan keduanya duduk dengan begitu dekat!


"Seperti ini kak?" tanya Amee setelah melakukan sesuai saran dari kak Kai.


"Hhm. Benar sekali!" sahut kak Kai begitu serius dan masih menatap layar di hadapannya itu.


Sesekali Zen melirik mereka berdua dan tersenyum begitu geli, "Ckk ... dasar anak muda!" gumamnya begitu pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu, Zen?" tanya kak Kai yang sepertinya sedikit mendengar ucapan Zen namun tidak begitu jelas.


"Ahh ... tidak, Kak! Aku hanya mengatakan mengapa pengirim makanan begitu lama dan belum sampai? Aku sudah sangat lapar. Hufft ..." kilah Zen sambil memegangi perutnya dan menunjukkan ekspresi sedang kelaparan.

__ADS_1


"Sebentar lagi pasti juga akan sampai kok." sahut Amee tersenyum gemas melihat tingkah Zen.


Beberapa saat mulai terdengar lantunan bel berbunyi, menandakan sedang ada tamu yang sedang menunggu di luar. Dengan cepat Amee segera bangkit dan melenggang untuk membukakan pintu itu.


Setelah beberapa saat, Amee mulai datang kembali dengan membawa beberapa bingkisan yang tentu saja aromanya begitu menggiurkan saliva. Aroma gurih dan manis menyeruak melalui indra penciuman mereka bertiga.


"Hhmm ... berikan Americano coffe-ku, Amee!" ucap Zen yang kini sedikit merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap.


Dengan senyum lebar, Amee segera memberikan segelas Americano yang masih hangat untuk Zen, "Sejak kapan kau menyukai Americano coffe, Zen? Setauku kopi yang kau sukai adalah capucino."


"Sejak terbangun dari koma, semua yang aku sukai menjadi sangat berubah. Ahaha ... benar begitu kan, Kak Kai?" sahut Zen dengan asal lalu mulai menikmati Americano Coffe-nya.


"Hhm. Benar sekali! Bahkan setelah terbangun dari koma, Zen menjadi semakin kuat dan menjadi begitu ahli dalam ilmu bela diri." sahut kak Kai sambil menikmati sepotong daging wagyunya.


"Benarkah itu? Tidak seperti Zen yang aku kenal ya." sahut Amee sambil mengeluarkan makanan miliknya dari sebuah kantong.


"Memang aku lampu ya, kok bersinar!" celutuk Zen yang terlihat begitu menikmati chicken pop-nya.


"Hampir mirip seperti itu ..." celutuk kak Kai yang kemudian tertawa kecil dan terlihat begitu bahagia. Bahkan Amee juga ikut tertawa kecil bersama kak Kai. Sementara Zen, dia terlihat sedikit kesal namun lebih memilih untuk kembali menikmati chicken pop miliknya yang masih cukup hangat.


Aku ingin sekali semuanya tetap seperti ini. Aku ingin sekali kita bisa memulai lembaran baru bersama. Bahkan aku ingin sekali menghapus beberapa kenangan masa lalu yang mungkin suatu saat akan merusak ikatan kita seperti saat ini. Aku tidak ingin beranjak dari hari ini. Aku takut esok tidak akan bisa seperti ini lagi. Aku ingin kehangatan ini selalu ada dan terjaga ... Zen, kakak ingin selalu bersamamu sekarang dan selamanya. Tapi apakah itu bisa ...


Batin kak Kai dengan wajahnya yang tiba-tiba menjadi sendu, lalu saja sepasang mata bening itu mulai terpejam dan tiba-tiba saja tubuh kak Kai ambruk begitu saja.

__ADS_1


BBRRUUGGHH ...


"Kak! Kak Kai!!" teriak Amee begitu histeris dan segera menghapiri kak Kai yang sudah terjatuh di atas karpet. "Kak ... kakak kenapa?" imbuhnya yang terlihat begitu khawatir.


"Zen! Tolong!" teriak Amee karena Zen hanya melongo saja ketika menyadari kak Kai yang tiba-tiba saja terjatuh tak sadarkan diri.


Kini Zen segera meletakkan segelas Americano coffe-nya di atas meja lalu segera menghampiri kak Kai yang kini sudah berada dipangkuan Amee.


"Panas sekali! Padahal tadi masih baik-baik saja ..." ucap Zen setelah menyentuh tangan kak Kai. "Amee, tolong siapkan air hangat untuk mengkompres. Aku akan memindahkan kak Kai ke dalam kamar." perintah Zen.


"Hhm. Baiklah, Zen." ucap Amee lalu segera bergegas untuk pergi dan menyiapkan air hangat seperti yang Zen perintahkan.


Kini Zen segera mengangkat tubuh kak Kai seorang diri untuk memindahkannya ke dalam kamar. Apa kalian begitu penasaran bagaimana cara Zen mengangkat kak Kai? Dan mengapa Zen begitu kuat? Jawabannya sangat mudah. Karena dia adalah seorang Kagami Jiro! Ahaha ... tentu kalian tau bukan sekuat apa seorang Kagami Jiro yang begitu legendaris itu? Yeap, dia sangat kuat dan tak terkalahkan!


Setelah beberapa saat Amee sudah datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi sebuah baskom berukuran sedang dan sudah terisi dengan air hangat dan disebelahnya juga ada sebuah handuk kecil berwarna cream.


Amee mulai meletakkkan nampan itu di atas meja sebelah pembaringan.


"Kau kompres dulu saja untuk menurunkan demamnya. Aku akan menghubungi dokter!" ucap Zen sambil meraih ponselnya di dalam saku jaznya.


"Hhm. Iya, Zen." jawab Amee seadanya lalu mulai mencelupkan handuk kecil itu ke dalam baskom yang sudah berisi dengan air hangat itu, kemudian Amee memerasnya dan mulai mengkompress kening kak Kai dengan handuk itu.


Sementara Zen sudah meninggalkan kamar dan terlihat sedang menghubungi seseorang. Yeap, Zen menghubungi dokter Zhong Li. Dokter pribadi sekaligus sahabat kak Kai dari masa kuliah.

__ADS_1


Tak beberapa lama dokter Zhong Li sudah datang dan segera memeriksa kondisi kak Kai yang masih belum sadarkan diri.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2