Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Seperti Musim Panas Yang Begitu Dingin


__ADS_3

Angin laut berhembus dengan begitu kencang, membuat rambut kehitaman yang lurus dan lembut itu menari-nari di udara dengan begitu indah. Kemeja putih dengan kancing yang sengaja dibiarkan terbuka itu kini melambai-lambai terkena terpaan angin kencang di kala senja itu.


Sebuah T-Shirt berwarna kuning lembut di balik kemeja putih itu terlihat begitu serasi saat dikenakan oleh pria tampan berkacamata bening itu. Menjadikan pemuda tampan berkacamata bening itu semakin menawan dan bersinar di bawah langit senja yang sudah berubah menjadi kemerahan karena cahayanya yang memukau.


Udara laut yang terpancar juga terasa begitu hangat, mengiringi sang surya yang perlahan-lahan mulai terbenam di ufuk barat. Sinar matahari yang mulai tebenam terlihat menyorot tubuh pemuda berkacamata minus itu. Menjadikan tubuhnya seakan bersinar dalam cahaya hingga membentuk sebuah siluet.


Sungguh ini adalah salah satu fenomena alam yang begitu indah dan memukau. Namun keindahan alam yang begitu menakjubkan itu tak sebanding dengan wajah tampan itu, karena wajah tampan itu kini terlihat begitu murung dan seperti sedang memikul beban yang cukup berat.


Sementara itu, terlihat seorang gadis dengan balutan dress selutut berwarna putih berdiri tak jauh dari pemuda itu. Baginya, matahari yang sedang bersinar di atasnya dan mulai terbenam itu hanyalah meninggalkan sebuah luka dalam yang begitu menyakitkan dan meninggalkan suasana yang begitu dingin seakan mati.


Pemuda itu kini perlahan mulai melangkahkan kakinya, memijaki pasir lembut dan bersinar itu di bibir pantai. Perlahan pemuda itu terus berjalan membelah lautan itu dan terus berjalan di dalam air lautan itu. Tubuhnya semakin masuk ke dalam air hingga sebagian tubuh bawahnya sudah terendam dan masuk di dalam lautan luas itu.


Gadis cantik nan anggun itu terlihat begitu khawatir dan ingin rasanya mengejar pemuda itu, namun kedua kakinya terjebak di dalam pasir dan tidak bisa bergerak satu inchi pun. Sehingga gadis cantik itu hanya bisa melambaikan tangannya, bahkan lidahnya terasa begitu kelu dan tak bisa memanggil pemuda itu.


Raut wajah ayunya begitu terlukiskan sebuah kekhawatiran yang begitu besar. Hingga air matanya kini mulai membasahi pipi lembutnya dan ai mata itu juga mulai mengaburkan penglihatannya.


Bayangan siluet dari pemuda itu kini terlihat semakin menjauh dan semakin memasuki lautan luas itu. Yah ... sosok pemuda itu semakin menjauh namun begitu terlihat nyata oleh gadis itu. Bahkan pandangannya kini telah dipenuhi oleh sosok pemuda itu, tak ada yang lainnya!


Hingga beberapa saat, kini gadis itu mulai menemukan satu-satunya di sepasang mata indahnya ... itu adalah cahaya senja yang sudah semakin redup, dan meskipun saat itu adalah musim panas, namun terasa begitu dingin dan membuatnya begitu menggigil.


Setelah mencoba dan terus mencoba memanggil nama pemuda yang tengah ditelan oleh lautan luas itu, akhirnya gadis yang sudah beruraian air mata itu bisa berteriak dan memanggil namanya, "Kak Kai ..."


Panggilan yang begitu menggema dan memenuhi segala penjuru tempat itu terdengar begitu lirih untuk pemuda tampan bernama Kai itu. Hingga akhirnya pemuda itu menghentikkan langkah kakinya tepat air lautan itu menenggelamkan hampir seluruh badannya, yeap bahkan sudah mencapai leher dari pemuda itu.

__ADS_1


"Kak Kai ... kembalilah ... jangan pergi ... aku rela kakak hanya mempermainkanku ... tapi kembalilah ... tolong ..."


Suara seorang gadis yang terdengar begitu memilukan mulai terdengar begitu lirih seperti sayup-sayup yang begitu samar.


Sepasang mata bening itu kini perlahan mulai terbuka meskipun masih terlihat begitu lemah dan sayu. Pandangannya juga masih terlihat sedikit kabur dan kosong menatap langit-langit. Bibirnya yang pucat terlihat sedikit bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu, namun terlihat begitu berat.


Gadis yang selalu setia menemaninya selama dia tak sadarkan diri kini menyadari, jika pemuda itu sudah terbangun.


"Kakak ... apa kakak bisa mendengarku?" ucap gadis yang tak lain adalah Amee masih terlihat begitu khawatir.


Pemuda itu masih terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun, dan dia masih terus menatap langit-langit di atasnya. Amee segera beranjak dan menekan sebuah tombol beberapa kali agar dokter segera datang dan memeriksanya.


"Kakak, tunggu sebentar ... dokter akan segera datang." jemari kanan gadis itu masih menggenggam jemari hangat dari kak Kai, sementara jemari kirinya dia gunakan untuk menghapus air matanya.


"Nona Xiang Mee, apa yang terjadi?" ucap dokter itu.


"Kak Kai baru saja sadar, Dokter. Tolong periksalah dulu keadaan kak Kai ..." Amee menyauti dan segera beranjak dari tempat duduknya dan sedikit mundur agar dokter itu memeriksa kak Kai terlebih dulu.


Dokter pria itu mulai memeriksa keadaan kak Kai, sementara Amee menunggu di belakangnya dengan memasang mimik wajahnya yang masih terlihat begitu tegang dan khawatir, namun terlihat sedikit lega karena kak Kai sudah muali sadar.


Setelah beberapa saat dokter pria itu menyudahi pemeriksaannya dan mulai mengalungkan kembali stetoskop-nya.


"Tranfusi darah sudah dilakukan dengan baik, karena pasien sempat mengalami pendarahan saat itu. Ritme dari detak jantung pasien sudah kembali normal. Bahkan paru-parunya juga sudah sangat normal. Tuan Luo Kai hanya butuh lebih banyak beristirahat saat pemulihan. Tuan Luo Kai masih sangat beruntung karena salah satu pelurunya melesat hampir saja mengenai jantungnya, hanya tinggal sedikit saja ..." ucap pria yang berbalut almamater putih itu.

__ADS_1


Amee menghembuskan napas kasarnya ke udara dan terlihat begitu lega, bahkan sudut-sudut bibirnya ditariknya hingga menyembulkan sebuah senyuman yang begitu manis.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak ..." ucap Amee penuh haru.


"Sama-sama, Nona Xiang Mee ..." dokter itu menyauti dengan begitu ramah. "Kalau begitu saya permisi, Nona Xiang Mee. Jika ada sesuatu lagi, hubungi dan panggil saja saya saja."


"Baik, Dokter!" sahut Amee.sambil membungkukkan sedikit badannya.


Dokter itu mulai melenggang dan meninggalkan ruangan rawat ini, sementara Amee kembali melenggang mendekati brankar dengan senyuman harunya.


"Kak ..." perlahan Amee mulai duduk di sisi samping brankar dan tersenyum haru melihat kak Kai.


"Amee ..." ucap kak Kai begitu pelan, bahkan hampir saja suaranya tidak terdengar dan hanya terlihat dari gerakan pelan bibirnya yang masih pucat.


"Hhm. Iya, kak. Akhirnya kakak sudah sadar. Aku sungguh merasa lega, Kak." ucapan haru Amee yang tak bisa menahan air matanya untuk terjatuh kembali, namun dengan cepat Amee segera menyekanya.


"Apakah kamu selalu disini, Amee?" tanya kak Kai kembali masih dengan suaranya yang begitu pelan dan lirih.


Amee mengangguk pelan dan kembali menahan air matanya, "Iya, Kak. Aku selalu disini menunggu kakak hingga kakak bisa sadar kembali."


"Amee, maaf jika kakak sudah begitu menyulitkanmu."


Amee menggeleng pelan beberapa kali masih dengan sepasang matanya yang masih begitu berair, "Kakak tidak pernah merepotkanku sama sekali. Aku tulus ingin menjaga kakak."

__ADS_1


Tatapan mereka kini saling bertemu selama beberapa saat, saling menyapa dengan begitu hangat. Dan perlahan kak Kai mulai meraih jemari Amee.


__ADS_2