Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Dunia Yang Terbalik


__ADS_3

Seorang pria paruh baya terlihat sedang duduk bersama seorang penuda di sebuah apartemen elite di Beijing. Mereka duduk bersama di ruangan tengah.


Suasana begitu hening, pria paruh baya itu terlihat begitu bersedih menatap pemuda yang tak lain adalah cucunya. Tatapan nanar, dan tak tega saat melihat sang cucu sedang mengalami masa yang cukup berat saat ini. Terpuruk dan terhempaskan begitu saja setelah melambung cukup tinggi.


Pria yang seluruh wajahnya sudah dipenuhi dengan guratan halus yang nyata itu kini mulai menepuk pelan dan mengusap bahu sang cucu dengan begitu hangat.


"Zen cucuku. Sudahlah jangan lagi kau pikirkan dunia entertaimen. Kakek masih bisa mengurusmu dengan baik meskipun kamu tidak menjadi seorang idol. Keluarga kita masih bercukupan. Jangan memusingkan lagi masalah itu, Cucuku." pria tua yang tak lain adalah kakek Li Feng berkata dengan hangat dan berharap sang cucu akan bisa bangkit lagi meskipun harus melepaskan dunianya yang selama ini sangat dicintainya.


"Tapi kakek ... aku ... aku tak pernah melakukan semua tuduhan itu. Aku tidak pernah menggelapkan pajak penghasilanku, Kakek. Tapi ... tapi mereka malahmemintaku melakukan semua ini ... mereka memintaku untuk mengakui sesuatu yang tak pernah aku lakukan ..." ucap Zen begitu lirih dan terdengar sangat memilukan.


Kakek Li Feng megambil nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Jemari kanannya mulai mengusap punggung Zen lagi berusaha untuk menenangkan Zen yang saat ini masih saja sangat kacau.


"Kakek percaya padamu, Zen. Bahkan kakek sangat mempercayaimu meskipun kamu tidak menjelaskannya kepada kakek. Kamu adalah cucu kakek yang baik dan jujur. Kamu tak akan pernah melakukan hal seperti itu. Bahkan untuk membohongi kakek saja kamu sangat ketakutan dan tak pernah bisa melakukannya. Jangan khawatir, Zen. Mungkin ini adalah saat yang tepat untukmu meninggalkan dunia hiburan." ucap kalek Li Feng masih berusaha untuk menenangkan cucu tersayangnya.


"Terima kasih, Kakek. Tapi ... aku sudah berjanji akan menyelidikinya. Dan aku akan mengungkap kebenarannya." sahut Zen menatap kakeknya masih dengan tatapan sayu karena akhir-akhir ini Zen sangat minim dengan istirahat.


"Menyimpan sebuah dendam adalah sesuatu yang tidak baik, Cucuku. Alangkah lebih baik jika kamu bisa bangkit dan maju kembali. Berikan sebuah tamparan keras untuk mereka dengan sebuah action positif darimu. Tak perlu dendam atau berniat untuk membalasnya ..." ucap kakek Li Feng memberikan nasehat. "Tapi buktikan jika kamu masih bisa bangkit kembali dengan caramu sendiri!!" imbuh kakek Li Feng mulai tersenyum menatap Zen.


Pandangan kakek dan cucu itu saling bertemu selama beberapa saat. Bertatapan dengan hangat dan penuh haru, hingga membuat sepasang manik-manik keduanya menjadi seperti kristal karena berkaca-kaca.


"Kakek ..." seketika Zen memeluk kakek Li Feng dan terlihat seperti seorang bocah yang sedang mengaduh kepada kakek tersayangnya.

__ADS_1


Kakek Li Feng tersenyum hangat dan kembali mengusap pelan punggung Zen.


"Kamu harus tetap kuat dan selalu tegar, Zen! Bukankah selama ini kamu sudah sangat berubah dan menjadi semakin kuat dan tangguh?! Kamu bahkan bisa bertahan dari racun mematikan dari serangan pisau parysatis?" ucap kakek Li Feng mulai mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Kamu bahkan juga mengalahkan para berandalan yang menculik kakek saat itu. Jujur saja kakek merasa sangat terkejut saat itu, Zen. Bahkan kakek mengira jika cucu kakek adalah bukan cucu kakek. Namun tidak ... karena itu adalah benar-benar kamu. Hanya ada satu Li Zeyan cucuku, dan itu adalah kamu. Kamu harua tetap kuat!!"


Zen yang mendengarkan ucapan dari kakek Li Feng mulai tersenyum tipis di atas kesedihannya saat ini.


Kakek ... saat itu yang menempati raga ini adalah tuan Kagami Jiro. tentu saja dia akan sangat kuat dan tangguh. Coba saja jika saat itu memang benar-benar akulah yang terkena serangan mematikan dari pisau parysatis yang beracun itu. Mungkin saja aku tak akan bisa bertahan, Kakek.


Batin Zen mulai memejamkan sepasang matanya dan menikmati kehangatan serta kasih sayang dari kakek Li Feng, yang selama ini sudah merangkap figur seperti seorang ayah untuknya.


"Aku berjanji aku akan baik-baik saja dan aku akan bangkit kembali, Kakek ..." ucap Zen begitu lirih namun penuh dengan keyakinan.


Suasana begitu hangat dan penuh kasih menyelimuti sore ini di dalam apartemen Zen. Selama ini Zen dan kakek Li Feng sangat disibukkan dengan kesibukan masing-masing hingga keduanya menjadi jarang bertemu.


Mereka berdua hanya sesekali saja bertemu, dan itupun dalam waktu yang cukup singkat karena jadwal Zen yang begitu padat. Dan mungkin kelak mereka berdua akan lebih sering bertemu dan bersama.


Tak mereka sadari, rupanya beberapa saat yang lalu Li Kai sudah memasuki apartemen Zen dan juga melihat semua kehangatan antara kakek Li Feng dan Zen. Entah mengapa raut wajahnya terlihat begitu sulit untuk digambarkan. Bukan sebuah kesedihan, namun juga bukan sebuah kebahagiaan.


Li Kai memutuskan untuk tidak mengganggu waktu berdua antara Zen dan kakek Li Feng. Dan Li Kai memutuskan untuk segera keluar dari apartemen Zen, namun tak sengaja pergerakannya sedikit kurang berhati-hati sehingga malah menyenggol sebuah vas bunga plastik dan membuatnya terjatuh begitu saja.

__ADS_1


BBRRAAKK ...


Kakek Li Feng dan Zen mulai saling melepas pelukan dan beralih untuk melihat ke asal suara. Karena sudah diketahui keberadaannya, kini akhirnya Li Kai mulai berbalik dan kembali lagi untuk bergabung bersama Zen dan kakek Li Feng.


"Kai, sejak kapan kamu datang? Mengapa tidak langsung masuk saja?" tanya kakek Li Feng dengan seulas senyum menatap cucu pertamanya.


"Aku baru saja datang kok, Kakek. Dan aku juga baru saja mau bergabung bersama dengan kalian." jawab Li Kai dengan nada bicara yang masih seperti biasanya, ramah dan hangat. "Oh iya, aku membawakan beberapa kue." imbuh Li Kai mulai meletakkan beberapa bingkisan di atas meja.


"Kue manis? Ini sih kesukaan Zen." celutuk kakek Li Feng diiringi dengan tawa kecil dan sebenarnya ini adalah untuk sedikit menghibur Zen.


Li Kai yang mendengar ucapan dari kakek Li Feng juga mulai tersenyum tipis dan mulai membuka bingkisan itu untuk Zen, karena Li Kai datang ke apartemen Zen adalah juga untuk menghibur Zen.


"Aku tidak tau jika hari ini kakek berkunjung ke apartemen Zen. Jadi aku hanya membeli kue ini saja. Aku akan pesankan sesuatu juga untuk kakek." ucap Li Kai setelah memberikan kue itu untuk Zen dan mulai meraih ponselnya untuk memesan beberapa makanan lagi untuk kakek Li Feng.


"Tidak perlu, Kai. Kakek baru saja makan sebelum kakek datang kemari. Nanti saja kalau sudah lapar dan ingin makan sesuatu saja baru kita memesannya." sahut kakek Li Feng dengan cepat dan membuat Li Kai mengurungkan niatnya untuk memesan sesuatu.


"Baiklah, Kakek." jawab Li Kai dengan penuh hormat. "Zen makanlah beberapa dulu. Semua ini adalah kue kesukaanmu." imbuh Li Kai yang beralih menatap Zen.


"Hhm. Iya, Kak. Terima kasih, Kakak." ucap Zen lalu mulai meniknmati kue itu.


Tak lupa Zen juga mengambilkannya untuk kakek Li Feng dan juga Li Kai.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


__ADS_2