
"Tuan Kagami Jiro! Aku tidak akan berbasa-basi lagi. Datang dan temui aku jika ingin nyawa adik kesayanganmu tetap selamat!" ucap seorang pria dari seberang.
Sontak saja Kagami Jiro mulai memasang wajah serius dan terlihat begitu khawatir.
"Apa maksudmu?" ucap Kagami Jiro mulai terlihat serius dan merasa begitu ketar-ketir
"Datang dan temui aku seorang diri! Jika sampai aku mengetahui kau membawa orang, terlebih anggota dari Doragonshadou, maka aku tak akan bisa memastikan adik bungsu kesayanganmu yang cantik ini akan tetap selamat! Dan akan aku pastikan kau hanya akan bertemu dengan mayatnya saja! Apa kau paham itu?!" ucap pria itu mengancam kembali.
"Jangan sentuh Christal!" tandas Kagami Jiro dengan suara yang begitu menggelegar, dan sebenarnya itu adalah reflek, dan jiwa Zen memang benar-benar juga sangat khawatir saat ini.
"Christal?" Zen yang masih terbaring di atas brankar bergeming pelan dan juga terlihat mulai memasang ekspresi begitu serius karena mengkhawatirkan Christal.
Dan dengan cepat Zen segera duduk dengan tegap dan memberi isyarat kepada Kagami Jiro untuk men-loud speaker panggilan itu. Kagami Jiro mengangguk pelan lalu mengaktifkan loud speaker sesuai dengan perintah dari Zen.
"Aku akan mengirimkan titik lokasi kepadamu! Datanglah sendirian sebelum matahari terbenam, maka akan aku pastikan nyawa adik bungsumu yang cantik ini akan tetap selamat!" pria di seberang line itu menandaskan kembali lalu mengakhiri panggilan itu begitu saja.
Tut ... tut ... tut ...
Selama beberapa saat keadaan menjadi begitu hening. Semua orang sedang bergeming di dalam hatinya masing-masing saat ini. Hingga tiba-tiba 2 kali bunyi dari notifikasi dari ponsel Kagami Jiro memecah keheningan di ruangan itu.
TRRIINGG ...
TRRIINNGG ...
Kagami Jiro melihat kembali ponselnya untuk melihat pesan itu. Ada sebuah alamat yang penjahat itu kirimkan serta sebuah foto yang memperlihatkan Christal yang sudah terikat dengan sebuah kursi di dalam sebuah ruangan tua dengan keadaan mulutnya yang sudah dibungkam dengan kain berwarna putih.
"Christal!" ucap Kagami Jiro hampir tidak percaya setelah menyaksikan foto itu.
__ADS_1
Dengan cepat Zen segera merampas ponsel itu dari Kagami Jiro untuk melihat pesan-pesan itu. Dan hal tentu saja hal itu membuat Vann dan Yuna membelalak saat melihat tingkah kurang ajar dari bocah Li Zeyan yang berani merampas ponsel seorang Kagami Jiro dengan cara yang tidak sopan.
Andaikan saja mereka mengetahui, jika sebenarnya jiwa mereka sedang bertukar cangkang saat ini, tentu saja mereka tak akan begitu terkejut melihat semua kejadian ini. Huft ...
Zen dengan langkah cepat segera melompat dan turun dari brankarnya untuk berniat segera pergi ke tempat yang dikirimkan oleh preman itu, namun Vann segera menahannya dengan meraih lengan Zen.
"Tuan Zen. Tuan mau pergi kemana?" Vann memberanikan dirinya meraih dan menahan lengan kiri Zen.
"Vann, aku harus pergi! Lepaskan aku atau kau akan lenyap ditanganku!" tandas Zen yang sungguh terlihat seperti orang lain dimata pengawal Vann.
Tentu saja Vann merasa ini sangat aneh. Zen yang biasanya selalu bersikap lemah, lembut, dan selalu ramah kepada siapapun kini berkata dengan begitu tegas dan menakutkan seperti itu. Sungguh itu bukanlah menunjukkan pribadi seorang Li Zeyan yang selama ini dikenalnya dalam beberapa tahun ini.
Karena begitu takut, akhirnya Vann segera melepaskan tangannya. Namun kini Kagami Jiro yang mulai berusaha untuk menghalangi kepergian Zen.
"Minggir kau, Bocah!" tandas Zen menatap tajam Kagami Jiro.
Hello, Li Zeyan? Apakah kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu sekarang sehingga melupakan situasi saat ini begitu saja, jika kalian sedang berada di antara Yuna dan juga Vann! Bahwa kalian sedang bertukar raga saat ini! Apakah kini saatnya sebuah kebenaran ini akan diketahui oleh semua orang?
Belum sempat mereka berkata-kata lagi, tiba-tiba saja pintu teebuka dengan sangat kasar dan terburu-buru. Terlihat pengawal pribadi Key mulai memasuki ruangan dengan langkah terburu dan napasnya yang tersenggal.
Zen yang melihat kehadiran Key kini mulai menatapnya dengan sangat tajam dan mulai berjalan mendekati pria yang masih cukup muda itu.
"Katakan padaku! Mengapa kau bisa sampai kecolongan seperti ini?!" Zen meraih kerah baju Key dengan begitu kasar.
Pemuda tampan ini kali ini sungguh memiliki aura yang begitu mencekam dan sungguh begitu menakutkan.
"Nona Christal pergi ke kamar mandi wanita. Namun dia tidak kembali lagi. Padahal aku selalu menunggunya di depan pintu kamar mandi wanita. Akhirnya aku mulai mendobrak pintu kamar mandi itu karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada nona Christal. Namun di dalam sana ternyata sudah tidak ada orang. Dan aku sudah berusaha untuk mencarinya di sekitar tempat itu dan juga beberapa wahana di dekat tempat itu, namun aku tak melihat dan menemukannya, Tuan Jiro. Bahkan ponselnya juga tidak aktif sampai saat ini. Dan sekarang aku tak tau dimana nona Christal berada saat ini, Tuan Jiro. Aku datang kesini karena aku mengira nona Christal sedang berada disini bersama kalian." Key yang masih berada pada cengkeraman Zen menatap Kagami Jiro dan menjelaskan semua itu.
__ADS_1
Zen terlihat mengeraskan rahangnya dan begitu dipenuhi dengan amarah saat ini.
"Dan apa kau tau sekarang dimana dia berada sekarang?! Dia sedang diculik saat ini! Jika sampai terjadi sesuatu kepada Christal, maka aku tak akan memaafkanmu, Key! Kau harus membayar semuanya!" tandas Zen dengan wajahnya yang sudah menjadi merah padan karena sudah dipenuhi dengan amarah.
Zen menghempaskan tubuh Key dengan sangat kasar hingga tubuh Key menabrak nakas dan semua yang ada di atas nakas itu mulai jatuh berserakan.
SRRAAKK ...
BRRAAKK ...
Semua orang yang sedang berada di dalam ruangan itu sebenarnya juga sangat panik, namun mereka semua dibuat begitu bingung dengan apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang mereka saksikan bersama saat ini.
Zen mulai melenggang meninggalkan kamar itu begitu saja tanpa memperdulikan apapun lagi. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah Christal! Yang dia pikirkan saat ini hanyalah sesegera mungkin untuk menemukan adik kesayangannya Christal yang sedang diculik oleh para preman itu.
Vann, Nokto dan Yunxi mulai berlari untuk segera menyusul Zen.
"Igor, Ueki, Key, dan kau Louise! Kalian tetaplah selalu menjaga nyonya Yuna dan kedua putraku! Sekarang bawalah kembali mereka ke rumah besar Kagami!" perintah Kagami Jiro menatap keempat pengawal keluarga Kagami itu dengan begitu tegas lalu mulai menyerahkan Kenzou kepada Igor.
"Baik, Tuan!" sahut mereka bertiga begitu kompak kecuali Igor.
Igor terlihat begitu berat untuk melaksanakan perintah dari tuanya kali ini.
"Tuan Kagami Jiro ... bawalah aku bersamamu ..." ucap Igor yang sebenarnya tak tega untuk membiarkan Kagami Jiro pergi seorang diri.
"Tidak, Igor! Kali ini aku harus menyelesaikannya seorang diri." jawab Kagami Jiro tersenyum hangat menatap Igor. "Terima kasih selama ini sudah selalu ada untukku, Igor! Kau adalah asisten terbaikku!" Kagami Jiro menepuk bahu Igor.
Ucapan Kagami Jiro sungguh membuat Igor merasa sedih sekaligus terharu hingga pria dewasa itu meneteskan air matanya. Meskipun selama ini Kagami Jiro begitu menyebalkan dan sesuka jidatnya sendiri selama menjadi bosnya, namun sebenarnya Igor juga begitu menyayangi Kagami Jiro. Baginya Kagami Jiro adalah bos terbaik untuknya, terlebih dalam 4 bulan ini Kagami Jiro begitu baik dan ramah kepadanya.
__ADS_1