Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bertemu Dengan Partner Kerja


__ADS_3

"Dimana Zen?" tanya kak Kai kepada Yunxi yang sedang berjaga di luar appartement Zen bersama ketiga pengawal lainnya.


Mereka berempat berdiri di sekitar pintu appartement Zen.


"Tuan Zen masih di dalam, Tuan Kai." jawab Yunxi dengan nada rendah dan sedikit membungkukkan badannya.


Kak Kai segera menempelkan sebuah card berwarna keemasan lalu mulai memasukkan sandi rumah Zen.


BBIIPP ...


Setelah pintu terbuka kak Kai segera melenggang memasuki appartement mewah itu. Kak Kai terlihat mengkerutkan keningnya ketika melihat seisi appartement ini sedikit berantakan.


"Mengapa begitu berantakan? Apa yang sudah terjadi?" gumam kak Kai yang kini berusaha mencari sosok Zen di dalam appartementnya. Kak Kai mulai menyisiri ruangan demi ruangan untuk mencari Zen. "Padahal aku hanya meninggalkannya sebentar. Dasar anak satu itu ..."


Kini kak Kai membuka pintu kamar Zen dan mendapati Zen masih terbaring di atas ranjangnya. Dan terlihat tertidur begitu pulas.


"Astaga! Padahal satu jam lagi harus bertemu dengan Claire. Tapi bocah ini malah tidur." gerutu kak Kai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kak Kai mulai merogoh ponselnya dan mulai mencoba menghubungi seseorang.


Tut ... tut ... tut ...


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya terdengar sebuah sapaan seorang gadis dari seberang.


"Hallo ..." sapa gadis itu dari seberang.


"Hallo, Nona Claire. Ini Luo Kai, manager dari Li Zeyan."


"Oh, Kak Kai. Aku sudah menyimpan nomor kakak kok. Hehe ..." celutuk Claire dari seberang diiringi tawa kecil. "Ada apa , Kak?"


"Sepertinya kita akan sedikit terlambat. Tapi aku akan usahakan akan tiba disana secepat mungkin."


"Baiklah, Kak. Tidak masalah. Kabari saja jika kakak sudah tiba. Karena kebetulan aku sedang menginap di Heaven Hotel."


"Baiklah kalau begitu. Sampai nanti."

__ADS_1


"Sampai nanti, Kak."


Kak Kai segera mengakhiri panggilan itu. Kini kak Kai menangkap sesuatu yang masih berserakan di atas lantai. Sebuah kotak kecil yang sudah terbuka penutupnya. Sementara beberapa barang-barang yang cukup berumur tua juga berserakan di sekitar kotak itu.


Kak Kai mulai jongkok dan memungut beberapa benda itu. Tatapannya kini berubah menjadi begitu dingin dan sedikit murung.


"Emhh ..." terdengar suara Zen yang sedikit merubah posisi tidurnya membuyarkan angan kak Kai tentang sesuatu.


Dengan cepat kak Kai segera mengantongi sebuah buku bercover dusty pink yang berumur cukup tua itu di dalam jaz-nya.


Lalu dia segera merapikan sisa barang lainnya dan menyimpannya di bawah ranjang Zen.


"Sayang ..." kini Zen mulai mengigau dan memeluk gulingnya dengan cukup erat.


Kak Kai yang mendengar Zen yang sedang mengigau segera bangkit dan mendatanginya.


"Eemhh ... muachh ... muachh ..." Zen terlihat mengecup guling itu beberapa kali dengan senyuman dan mata masih terpejam.


Melihat tingkah konyol Zen yang sedang tidak sadarkan diri, membuat kak Kai membelalakan sepasang mata indahnya yang tersembunyi di balik kacamata minusnya. Kak Kai juga sedikit mengernyikan keningnya dan membuka mulutnya karena begitu terkejut.


"Aku sangat merindukanmu ... hoam ..." ucap Zen lagi dengan pelan dan semakin erat memeluk gulingnya.


"Zen! Bangunlah!" kini kak Kai menarik selimut dan guling yang dipeluk oleh Zen. Namun Zen segera merebutnya kembali dan tertidur kembali.


"Hhm ... aku mau tidur." Zen menyauti dengan mata yang masih terpejam.


"Zen! Kita harus bertemu dengan seseorang sekarang. Cepat bangun, mandi dan bersiaplah!" kini kak Kai mulai membuka lemari pakaian Zen dan menyiapkan baju untuknya.


"Aku masih sangat pusing, Bocah! Dan aku sudah mandi ... hhm ..." sahut Zen dengan suara yang masih teler.


Mendengar ucapan Zen kini kak Kai membulatkan matanya menatap Zen dan terlihat begitu kesal.


"Siapa yang kau panggil bocah?! Dasar anak ini!" kini kak Kai mulai menarik selimut lembut itu lagi dan menarik paksa guling itu. "Sekarang cepat bangun dan mandilah!" imbuh kak Kai dengan cukup tegas.


"Baiklah! Awas saja kalau aku sudah kembali ke tubuhku, aku akan membuatmu lari ketakutan!" ucap Zen yang masih ngawur.

__ADS_1


"Sudah mandi saja dan jangan bicara ngelantur! Memang kamu akan kembali ke tubuh yang mana?" kini kak Kai menarik paksa tubuh ramping Zen untuk menuju ke kamar mandi.


"Baru juga kakak tinggal sebentar saja, tapi sudah mabuk saja kamu!" kak Kai mendengus kesal. "Padahal malam ini kita memiliki sebuah janji!"


"Janji dengan siapa? Gadis cantikkah?" kini Zen membuka matanya sedikit dan tersenyum menatap kak Kai yang masih memapahnya menuju kamar mandi.


"Aduh. Apa yang sudah terjadi dengan otakmu, Zen?"


"Otakku baik-baik saja. Hanya saja aku sedang membutuhkan wanita ..." ucap Zen dengan nyengir lebar.


"Jaga sikap dan bicaramu, Zen! Kau adalah bukan orang sembarangan! Salah bertindak dan bergerak sedikit saja, itu akan sangat fatal."


Sedangkan Zen hanya meringis lebar dan menepuk-nepuk pipi kak Kai. Sedangkan kak Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...⚜⚜⚜...


Malam hari, di sebuah hotel mewah milik keluarga Lin Claire, terlihat dua pria mulai memasuki hotel berbintang lima dan super mewah itu.


Kali ini Zen tidak mengenakan masker karena kawasan ini bukan kawasan untuk umum. Kebanyakan pengunjungnya adalah kelas atas, artis maupun pengusaha.


Mereka segera menuju ke restautant dari hotel ini yang berada di lantai 3. Yeap, sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama Claire, malam ini mereka akan bertemu dengan seorang model yang akan berkerja sama dengan mereka.


Terlihat meja-meja bundar yang berukuran cukup besar dengan diameter kira-kira 2,5 meter masing-masing meja. Meja itu juga dihiasi dengan taplak meja maroon yang menjuntai hingga lantai.


Sementara kursi yang mengelilingi masing-masing meja itu adalah sekitar 10 kursi, dan tentu saja kursi-kursi itu juga sudah berbalut dengan kain maroon dengan list keemasan yang begitu bersinar.


Pilar-pilar penyangga juga berdiri dengan sangat kokoh dan berukuran cukup besar. Pilar dengan ukiran bunga-bunga tulip keemasan menambahkan kesan yang begitu elegant.


Tamu-tamu dan pengunjung di sini juga terlihat begitu berkelas. Dengan pakaian, aksesoris dan style yang begitu glamor.


Di sebuah meja sudah terlihat dua orang gadis yang duduk bersama membelakangi kehadiran kak Kai dan Zen. Hanya wajah Claire yang sesekali terlihat oleh kak Kai dan Zen, karena dia sering melihat ke arah gadis satunya saat mereka sedang berbincang.


Claire mengenakan sebuah dress selutut berwarna cream. Sementara si gadis berambut panjang bergelombang kecoklatan itu memakai dress selutut berwarna putih dan berlengan panjang.


Kini kak Kai dan Zen mulai melenggang untuk menghampiri mereka berdua. Langkah demi langkah terasa begitu ringan karena kak Kai tidak mengetahui siapa model yang sebenarnya sedang direkomendasikan oleh Claire.

__ADS_1


"Selamat malam ..." sapa kak Kai dengan ramah setelah berada di samping mereka. Sedangkan Zen terlihat begitu fokus dan sibuk dengan ponselnya. Dia selalu menunggu kabar dari Yukimura dengan hati was-was. Bahkan setiap jam Zen bisa lebih dari 10 kali mengecek ponselnya.


__ADS_2