Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

"Selamat sore, Li Zeyan!" suara riang seorang gadis dengan disertai raut wajahnya yang terlihat begitu berseri seketika membuyarkan konsentrasi Zen yang sedang menyibukkan dirinya dengan sebuah console game portable.


"Christal?" ucap Zen yang juga terlihat begitu gembira. "Kau sudah pulang sekolah?"


"Sudah dong." sahut gadis manis yang berwajah mungil itu. "Halo kak Kai dan kak Amee." sapanya menatap kak Kai dan Amee yang sedang duduk di sofa di hadapan sebuah laptop.


Yeap, karena kepulangan ke Beijing diundur selama beberapa hari lagi, akhirnya kak Kai membantu Amee meng-edit beberapa poto untuk katalog XMee Fashions.


Daripada bosan di rumah sakit, jadi mereka menggunakan waktunya untuk bekerja.


"Halo, Christal. Apa kabar?" Amee menyauti dengan begitu ramah dan tersenyum begitu hangat menatap Christal.


"Kabarku sangat baik, Kak Amee!" sahut Christal dengan senyum lebar dan mulai melenggang dengan langkah yang terlihat seakan menari-nari mendekati brankar.


"Christal, mengapa kau memanggil Amee dengan sebutan kakak? Sementara kau memanggilku hanya dengan namaku saja?!" protes Zen tak terima. Dan sebenarnya Zen hanya sedang bercanda dan menggoda Christal saja.


Kak Kai dan Christal hanya tertawa kecil menanggapi kedua anak yang masih dianggapnya begitu bocah itu lalu menyibukkan diri mereka dengan pekerjaannya kembali.


"Ahaha ... karena aku merasa lebih nyaman saat memanggil namamu saja sih. Hehe ... Lagian umur kita hanya berbeda 2 tahun saja loh. Jadi tak masalah bukan?" celutuk Christal lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah brankar sambil metelakkan tas sekolahnya di atas nakas.


"Kamu sedang main game apa, Li Zeyan?" Christal sedikit melirik console game portable itu dan terlihat begitu penasaran.


"Final Fantasy." sahut Zen sambil memperlihatkan sedikit console game portable itu kepada Christal.


"Wah ... kau juga menyukainya ya? Kak Jiro juga begitu menyukainya lo akhir-akhir ini! Oops ..." celutuk Christal tanpa sadar lalu segera membungkam mulutnya dengan kedua jemarinya.


Padahal aku sudah berjanji kepada kak Jiro untuk menjaga rahasianya yang menyukai permainan console game. Maafkan aku, Kak Jiro. Semoga Li Zeyan bisa menjaga rahasia ini ...

__ADS_1


Batin Christal yang masih membungkam kedua mulutnya dan menatap Zen begitu waspada. Zen yang menyadari semua itu kini tertawa kecil.


Sebenarnya bukan tuan Kagami Jiro yang suka bermain console game, Christal! Namun itu adalah aku yang saat itu sedang menempati raga tuan Kagami Jiro. Hehe ...


Batin Zen yang masih saja tersenyum begitu gemas membayangkan semua ini dan masih menatap Christal yang begitu was-was. Sementara Kak Kai dan Amee sama sekali tidak mendengar perkataan dari Christal, karena mereka berdua masih begitu serius.


"Li Zeyan ..." ucap Christal begitu memelas dan memperlihatkan mata kucingnya, sementara kedua telapak tangannya di tautkannya rapat dan menghadap ke atas. "Please ... jaga rahasia ini. Aku sudah berjanji kepada kak Jiro akan menjaga rahasia besarnya yang satu ini." imbuh gadis berwajah mungil itu beguitu pelan karena khawatir kak Kai dan Amee akan mendengarnya.


"Hhm? Aku akan menjaga rahasia ini. Tapi dengan satu syarat." ucap Zen dengan tersenyum dan sedikit mengangkat wajah tampannya, sementara sepasang mata bak okavango blue diamond itu masih menatap Christal seakan sedang tersenyum juga.


"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Christal ragu-ragu.


"Syaratnya ... kau harus menemaniku setiap hari untuk bermain console game selepas kau pulang sekolah. Dan itu hanya tinggal beberapa hari saja kok. Karena aku akan segera kembali ke Beijing." ucap Zen dengan nada yang begitu bersemangat.


"Hanya itu?" sepasang manik-manik indah yang besar seperti mata boneka itu membulat menatap pemuda tampan yang sedang duduk di atas brankar.


Christal masih terlihat seolah tak percaya mendengar syarat yang diajukan oleh Zen, karena syarat yang diberikan oleh Zen adalah bukanlah sesuatu hal yang berat, namun itu adalah salah satu kesukaan Christal dan tentu saja Christal akan dengan senang hati menerima permintaan dari Zen.


"Dengan senang hati aku akan memenuhinya." sahut Christal tanpa berpikir panjang lagi dan begitu mantap menjawabnya.


"Okay. Deal ya ..."


"Deal!" sahut Christal dengan senyum lebar dan mengulurkan jari kelingkingnya.


"Apa ini?" tanya Zen tak mengerti.


"Sebagai tanda kesepakatan kita!" Christal menyauti dengan bersemangat.

__ADS_1


"Hhm. Baiklah ..." Zen tersenyum tulus dan membalas uluran itu dengan jari kelingkingnya juga.


"Baiklah. Apakah kau jadi mau mengunjungi kak Jiro? Kebetulan di sana sedang ada kakak ipar saja. Jadi lebih leluasa karena tidak ramai."


"Hhm. Boleh. Ayo!"


"Okay! Sebentar ..." Christal mulai bangkit dari tempat duduknya lalu menyiapkan kursi roda untuk Zen.


Lalu Christal mulai membantu Zen untuk berpindah ke kursi rodanya dengan hati-hati. Saat-saat seperti ini sebenarnya membuat keduanya begitu berbunga-bunga. Namun keduanya sama sekali tak ada keberanian untuk memperjelas semuanya.


Christal yang hanya merasa seperti seorang gadis biasa saja tentu merasa begitu tak pantas dan tak tau diri jika menyukai seorang idol besar seperti Li Zeyan.


Begitu juga dengan Zen, dia hanyalah merasa seperti seorang pria lemah yang hanya memiliki talenta super di dunia entertaiment. Zen merasa begitu lemah dan tak tak akan bisa melindungi Christal dengan baik.


Sementara Kagami Jiro selalu saja menggemborkan bahwa yang pantas untuk bersanding dengan adik kesayangannya adalah seorang pria baik yang bisa mengalahkan Kagami Jiro, setidaknya mengimbangi bela diri seorang Kagami Jiro!


Dan itu adalah hal yang sangat mustahil untuk Zen. Lagipula Zen juga dilarang keras memiliki hubungan dengan gadis manapun, atau pamornya akan turun dan karirnya akan hancur dalam seketika.


Jadi mungkin ... menjadi teman adalah pilihan yang terbaik untuk keduanya. Meskipun tak saling mengungkapkan, namun mereka berdua sudah mengambil keputusan masing-masing, meski tak saling tau menau.


Karena cinta memang tak harus memiliki ... jika memang suatu saat mereka memang ditakdirkan bersama, maka takdir itu akan terjadi! Dan takdir itu akan terjadi sesuai dengan kehendak author. Oops ...


Yeap, karena dunia ini adalah dunia yang dituliskan sesuai dengan imajinasi sang author. Jadi hanya author-lah yang menentukan takdir mereka. Duh mulai ngelantur ... maafkan Anezaki ya, All.


Jangan lupa untuk selalu mendukung Never Say Good Bye, agar Anezaki semakin semangat berimajinasi dan semakin semangat nulisnya. Hehe ...


Anezaki juga minta maaf jika selama ini masih ada beberapa penulisan yang typo dan sedikit rancu ( efek lelah dan kejar bab ). Dan maaf juga ya jika novelnya masih jauh dari kata sempurna.

__ADS_1


Mudah-mudahan kedepannya bisa kembali memberikan karya yang lebih baik dan lebih disukai. Terima kasih juga untuk semua pembaca tersayangku yang sudah selalu setia hadir di karya-karyaku. Peluk dan cium dari jauh ...


Salam hangat dari Anezaki ♡


__ADS_2