
Japan Telexistence, Tokyo, Chuo City , Harumi.
Begitu banyak robot-robot dengan berbagai model dan type dalam store dan pameran disini.
Di Jepang robot dapat dilatih untuk melakukan berbagai macam pekerjaan tertentu. Para pencipta robot akan menghabiskan waktu bertahun-tahun mengumpulkan data tentang bagaimana manusia memanipulasi tangan robot dengan hati-hati untuk membuat mereka memegang objek tertentu dengan baik. Dan salah satu penanggung jawab keamanan di Japan Telexistence saat ini adalah salah satu klan dari Doragonshadou.
Di suatu ruangan yang luas, terlihat para pekerja terlihat sedang melatih perangkat yang mungkin akan menggantikan sumber daya manusia sebagian di masa mendatang.
Bahkan robot sering bisa dijumpai bahkan di lorong sepi sebuah supermarket kecil di Tokyo, sebuah robot dengan patuh menjalankan tugasnya. Ia merunduk untuk mengambil sebotol minuman yang disukai pelanggan, mengangkatnya dan meletakkannya di rak pendingin. Ia terus bekerja sementara pelanggan datang dan pergi begitu saja. Fantastis.
Robot-robot itu terlihat seperti bekerja secara otonom, tapi sebenarnya itu adalah ilusi. Robot ini tidak bisa berpikir sendiri. Beberapa mil jauhnya, seorang manusia mengendalikan setiap gerakannya dan memantaunya melalui headset virtual reality (VR) yang membuatnya bisa melihat dari mata robot. Keren bukan!
"Kak. Aku akan berkeliling dan melihat-lihat sebentar." ucap Zen setengah berbisik.
"Baiklah. Tapi jangan berusaha melarikan diri lagi!" sahut kak Kai dengan sedikit mengancam. Namun sebenarnya dia sudah meminta sebelumnya kepada kedua pengawalnya untuk selalu mengikuti kemanapun Zen pergi. Tentu saja kak Kai akan lebih ekstra mengawasi Zen kali ini setelah kejadian kemarin. Dia tak ingin kejadian yang sama terulang lagi.
"Ahahaha ... tidak lagi kok. Aku hanya ingin melihat-lihat di toko ini saja kok." ucap Zen dengan tawa kecil dan menepuk-nepuk bahu kak Kai.
"Hhm. Okay ..."
Zen mulai melenggang meninggalkan kak Kai, sementara kedua pengawal mulai membuntutinya dari jarak agak jauh.
Zen berkeliling sebentar lalu menuju pintu exit. Mulai terlihat seperti ruangan basement dan digunakan untuk memarkir beberapa mobil milik pekerja maupun pengunjung.
Zen terus melenggang hingga dia menghentikkan langkah kakinya di tengah-tengah basemant itu. Zen mulai menebarkan pandangannya untuk mencari tau letak kamera cctv. Dan dia memang menemukannya. Ada sekitar 7 kamera cctv pada basement ini.
Dan tergambar dengan jelas, raut wajah Zen yang menggambarkan ekspresi penuh tanda tanya dan kebingungan.
"Ada 7 kamera cctv di tempat ini. Mengapa tidak satupun merekam kejadian saat itu? Dan aku tau betul, semua kamera cctv ini selalu aktif dan menyimpan rekaman. Ini sungguh aneh sekali ..." gumam Zen penuh kebingungan. "Apa memang pelaku penyerangan terhadapku sebenarnya adalah kubuku sendiri?"
"Haishh ... sial! Tidak ada petunjuk sama sekali!" celutuknya mulai kesal. "Saat itu sebuah mobil melaju dengan kencang dan menabrakku. Dan aku tak sadar lagi. Tapi banyak sekali luka seperti luka tusukan saat aku melihat ragaku yang sedang koma. Kemungkinan dia juga menusukku hingga paling tidak 12 tusukan."
Setelah terdiam beberapa saat dan memikirkan sesuatu, tiba-tiba saja Zen teringat sesuatu.
__ADS_1
"Ah ... benar juga! Aku selalu membawa pena yang sudah aku sisipkan mini camera. Seharusnya terekam semuanya!"
Zen segera meraih ponselnya dan menghubungi Yuna.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Ada apa lagi?!" sambutan dingin oleh Yuna dari seberang.
"Ehm ... begini. Aku ingin meminta tolong sesuatu. Bisakah kau mencarikan sebuah pena berwarna keemasan ... milik suamimu?"
"Memang mau kau apakan, Bocah?" tanya Yuna dengan dingin.
"Ada sesuatu yang sedang ingin aku pastikan. Besok serahkan padaku saat aku datang ..."
"Aku tidak tau apa benda itu masih ada."
"Tolong carikan dulu ... karena ini sungguh sangat penting, Yuna ..."
"Baiklah! Aku akan coba cari dulu."
Tut ... Tut ...Tut ...
Seketika Yuna segera mengakhiri panggilan itu. Zen menyimpan kembali ponselnya dengan senyum lebar dan begitu manis. Walaupun dia sedang memakai masker namun senyuman itu terlihat dengan jelas melalui sepasang mata birunya.
Zen segera kembali menemui kak Kai dan kali ini dia segera mengajak kak Kai untuk ke pasar gelap untuk mencari senjata api dan juga samurai.
Kak Kai hanya terheran-heran saat melihat Zen yang begitu bersemangat memilih beberapa benda itu.
"Kau yakin akan belajar memakai semua ini, Zen?" bisik kak Kai yang masih menatap Zen dengan bingung.
"Hhm ... tentu saja!" sahut Zen dengan sangat bersemangat. Sesekali Zen mulai mencoba mengayunkan samurai itu dengan sangat lihai.
Lagi-lagi kak Kai dibuat lebih melongo melihat semua itu. Dan Zen hanya menanggapi dengan tawa lebar.
__ADS_1
"Okay! Aku ambil ini dan ini ..." ucap Zen sambil menyerahkan sebuah samurai dan senjata api. "Bayar, Kak!" perintah Zen kepada kak Kai.
"Ah ... I-Iya ..."
...⚜⚜⚜...
Suara gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi Zen. Sesekali juga terdengar nyanyian darinya. Menggambarkan suasana hatinya yang begitu baik.
Setelah beberapa saat Zen mulai keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk bajunya. Dia terlihat sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah. Wajahnya selalu dihiasi oleh senyuman hari ini karena dia akan bertemu dengan istrinya.
Zen mulai memakai pakaian formal lagi hari ini dengan setelan jaz tentu saja. Terlihat begitu tampan dan berkharisma. Sangat menawan dan membuat mata siapa saja yang melihatnya tak akan mau berpaling darinya, kecuali Yuna ... karena hanya ada sosok Kagami Jiro di dalam mata dan hatinya.
Hari ini pagi sekali Zen sudah meminta diantarkan oleh kak Kai untuk pergi kembali ke kediaman keluarga Kagami. Dan tentu saja keempat pengawalnya dengan setia menemaninya.
Sepanjang perjalanan Zen terlihat selalu melihat kaca dan merapikan rambutnya dengan wajah yang begitu berseri. Sesekali kak Kai meliriknya dengan tatapan aneh dan mengkerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sejak kapan kau mengenal keluarga Kagami, Zen?" tanya kak Kai ingin tau.
"Hhm ... baru beberapa hari yang lalu." Zen menyauti santai dan masih merapikan rambutnya.
"Baru beberapa hari yang lalu?" tanya kak Kai tak percaya.
"Hhm. Sudah aku bilang aku mengidolakan mereka bukan? Selagi aku pergi ke Jepang, makanya aku sangat ingin bertemu dengan mereka!"
"Tapi kakak sungguh heran. Bagaimana bisa kau mengidolakan gangster seperti mereka?"
"Karena mereka sangat keren!" sahut Zen dengan senyum lebar. "Oh iya setelah kita ke Danenchofu kita ke Tokyo St. Luke's International Hospital ya ..."
"Mau ngapain ke rumah sakit?"
"Aku ingin menjenguk seseorang, Kak. Tuan Kagami Jiro si pemimpin Doragonshadou yang sedang terbaring koma saat ini." jelas Zen yang seketika ekpresi wajahnya terlihat begitu sedih.
"Hhm ... Baiklah ..." sahut kak Kai yang kembali serius mengemudikan mobil putih mewahnya.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...