
"Selamat malam ..." sapa kak Kai dengan ramah setelah berada di samping mereka. "Maaf kami sedikit terlamabat karena ada sesuatu."
"Well. Tidak masalah, Kak." sahut Claire dengan ramah.
Sedangkan Zen terlihat begitu fokus dan sibuk dengan ponselnya. Dia selalu menunggu kabar dari Yukimura dengan hati was-was. Bahkan setiap jam Zen bisa lebih dari 10 kali mengecek ponselnya.
"Oh iya. Silakan duduk, Kak." ucap Claire dengan ramah.
Kak Kai dan Zen kini menarik kursi masing-masing dan segera duduk bergabung bersama mereka.
"Kenalkan ini adalah model yang aku rekomendasikan itu. Meskipun pendatang baru, tapi aku melihat nona ini memiliki potensi yang luar biasa! Aku tidak mau berlian ini ditemukan lebih dulu oleh orang lain!" ucap Claire disertai candaan dan tawa kecil.
Kini kak Kai mulai menoleh ke arah gadis itu. Senyumannya seketika membeku begitu saja setelah menatap gadis itu. Begitu juga, gadis itu juga terlihat sedikit terkejut melihat kak Kai dan Zen.
"Amee?" ucap kak Kai masih dengan ekspresi begitu terkejut.
Sedangkan Amee hanya tersenyum tipis dan sedikit mengangguk.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Claire menatap mereka secara bergantian.
"Hhm. Iya. Kita sudah saling mengenal. Sungguh dunia ini memang sempit sekali. Aku tidak menyangka yang akan menjadi partner kerja kali ini adalah Amee." ucap kak Kai dengan ramah.
"Wah. Sungguh kebetulan sekali bukan." Claire menyauti dengan tawa kecil.
Tiba-tiba ponsel Zen berdering dan dia segera meminta ijin untuk mengangkat panggilan telpon itu.
Zen mulai pergi menuju sebuah lorong yang masih begitu sepi kemudian mengangkat panggilan itu.
"Hallo! Bagaimana keadaan disana?" tanya Zen begitu tak sabaran.
"Jiro. Baru saja terjadi hal yang cukup aneh!" ucap pria dari seberang.
"Aneh bagaimana?! Apa yang sudah dilakukan cecunguk itu terhadap Yuna?!" tanya Zen kalang kabut dan mulai emosi kembali.
"Bukan soal mereka!"
"Lalu?"
"Baru saja ada kekacauan di rumah besar Kagami. Tadi ada yang sengaja menyerang menembak dengan sniper area gudang di lantai 3. Tembak itu berhasil mengenai kaca jendela dan pecah. Namun beberapa saat dia sengaja berusaha menembak dan melayangkan panahnya ke kamarmu. Senjata itu terpental di balkon arean kamarmu."
"Kalian sudah menemukan pelaku?"
"Belum. Tapi tipe peluru ini yang sering digunakan oleh Ley Bixing, begitu juga dengan anak panah khas miliknya. Itu yang dikatakan Yuna."
"Ayah dan Yosuke pergi kemana?"
"Mereka masih di luar kota dan belum pulang."
"Ley Bixing ... mau apa lagi dia?!" gumam Zen mengkerutkan keningnya. "Tolong selalu jaga keluargaku, Yukimura! Sampai aku benar-benar bisa kembali di tubuh asliku, aku tak bisa berbuat apa-apa."
"Tenang saja. Aku sudah berjanji untuk menyerahkan sisa hidupku untuk kalian!" jawab Yukimura dengan tegas.
"Jangan lupa awasi juga tubuhku!"
"Hhm. Tentu saja. Jiro, sepertinya Ley Bixing mencoba berperang melawan Doragonshadou?"
"Bukan, Yukimura! Sepertinya ada sesuatu yang memang ingin dia sampaikan."
"Mengapa kamu bisa berfikir seperti itu?"
"Dia sengaja mengalihkan perhatian para pengawal di lantai 3. Dan di waktu itu dia ingin menyampaikan sesuatu padaku." ucap Zen dengan sangat serius.
"Tapi apa itu? Aku tidak mengerti!"
__ADS_1
"Apa Yuna dan ragaku tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada. Mereka hanya menemukan anak panah dan sebuah peluru saja."
"Tetap awasi raga itu! Aku merasa ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan!"
"Baiklah! Aku akan selalu mengawasinya."
"Dimana sekarang mereka?"
"Di ... kamar ..." ucap Yukimura dengan sangat berhati-hati.
"Cari mati kau membiarkan mereka berada di dalam satu kamar semalaman?! Haahh??"
Yukimura sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena ucapan Zen yang begitu keras, bahkan seperti di-loud speaker saja.
"Tenang saja. Mereka tidak tidur bersama. Tubuhmu tidur di kamarku bersamaku. Karena Christal takut untuk tidur sendirian malam ini. Jadi dia pergi ke kamar kalian dan meminta tidur bersama Yuna."
Zen menghembuskan nafas begitu lega dan tersenyum tipis.
"Besok aku akan memasang miny camera di kamarmu saat mereka tidak di rumah."
"Okay! Sepertinya aku harus kembali bersama yang lainnya. Besok kuhubungi kembali."
"Okay."
Zen segera mematikan panggilannya dan berniat untuk kembali bergabung bersama yang lainnya. Namun tiba-tiba saja Zen menghentikkan langkahnya karena tiba-tiba dia melihat seseorang yang dikenalinya sedang berdiri di seberang bersama seorang gadis bule.
Zen menyipitkan matanya menatap pria itu dari kejauhan, "Lu Yuan?"
Tiba-tiba saja Zen tersenyum misterius menatap keduanya, "Ternyata seperti itu ya. Jadi gadis bule itu adalah suruhanmu ya ..."
Yeap, saat ini Zen sedang melihat Lu Yuan sedang berbincang sangat akrab dengan seorang gadis bule yang pernah mengaku menjadi kekasih Zen saat di pesta ulang tahun An Jiu.
Ketika Lu Yuan pamit dan meninggalkan gadis bule itu, kini Zen mulai melenggang untuk menghampirinya,"Lihat saja! Kau akan rasakan akibatnya, Bocah!"
"Hallo. Masih ingatkah denganku?" Zen menyapa gadis bule itu dengan senyum yang begitu menawan.
Gadis itu membelalak menatap Zen dan terlihat sedikit tersenyum begitu kaku.
"Uhm ... hallo. Tentu saja aku sangat mengingatmu." jawabnya dengan senyum manis.
Zen maju dua langkah dan sedikit menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu. Sementara tangannya sudah bersandar di tembok dan menguncinya.
"Nona. Sebenarnya malam itu kamu disuruh siapa?"
"A-aku ... maafkan aku tapi aku melakukannya atas keinginanku sendiri."
"Wah. Sayang sekali kamu berbohong. Padahal aku ingin mengundangmu makan bersama sekarang jika kamu jujur padaku." ucap Zen tersenyum begitu menawan.
"Benarkah? Sebenarnya aku disuruh seseorang." ucapnya dengan cepat.
"Siapa? Katakan padaku! Aku akan menjamin keselamatanmu darinya!"
"Pria bernama Lu Yuan itu yang memintaku melakukan semua itu."
"Sudah kuduga! Terima kasih sudah mengatakannya." kini Zen sedikit mundur dan mengusap kancing coatnya, yang tentu saja sudah tersembunyi mini camera disana.
"Maafkan aku! Seharusnya aku ... seharusnya aku tidak melakukannya. Ternyata benar semua berita itu. Kamu sangat ramah."
"Hhm? Aku akan selalu ramah jika seseorang tidak menyulut api." ucap Zen dengan senyum misterius. "Mari makan malam bersama! Manager dan partner kerjaku sudah menunggu!" imbuh Zen lalu berbalik dan mulai melenggang.
Gadis bule itu kini mulai mengikuti Zen dan berjalan beriringan denganya. Mereka berdua kembali bergabung bersama Amee dan Claire.
__ADS_1
Kak Kai menatap gadis bule itu sedikit aneh dan kemudian melirik Zen.
"Dia akan makan malam bersama kita. Boleh kan?" tanya Zen dengan ramah sambil menatap Kak Kai, Claire dan Amee.
"Bukankah nona ini yang membuat masalah malam itu?" ucap kak Kai menyipipitkan matanya menatap gadis bule itu.
"Maafkan aku ..." ucapnya dengan nada pelan.
"Semuanya sudah beres, Kak. Aku sudah menemukan dalangnya." sahut Zen dengan senyum lebar menatap kak Kai.
"Oh baiklah ..."
...⚜⚜⚜...
Bonus Adegan tersembunyi yang kemarin sempat disensor.
Pulang dari acara pelelangan, Yuna dan Jiro kembali mendatangi hotelnya kembali dan segera memutuskan untuk beristirahat disana.
Kagami Jiro melepas jaz-nya lalu sedikit melonggarkan dasinya. Dia juga membuka beberapa kancing pakaiannya.
Sementara Yuna juga terlihat melepas satu persatu printilan-printilan aksesoris yang dipakainya. Mulai dari slingbag, blazer, jam tangan dan masih banyak lagi aksesoris dari seorang wanita. Nanti disebutin semua nggak akan habis-habis. Hehe ...
"Sayang ..." Kagami Jiro mulai memeluk Yuna dari belakang dan mendaratkan dagunya pada bahu Yuna.
"Aku mau mandi ..."
"Aku juga mau mandi. Mau mandi bersama?" tanya Kagami Jiro menggoda Yuna. Dan ucapannya sukses membuat wajah Yuna mulai merona.
"Ahaha ... aku akan mandi nanti saja kalau begitu. Kamu duluan saja." jawab Yuna masih dengan wajah memanas.
"Tidak mau! Aku mau mandi bersama!" rengek Kagami Jiro masih berusaha menggoda Yuna. "Kalau begitu kita lakukan olahraga kesukaan kita dulu yuk. Baru mandi bersama." imbuh Kagami Jiro sambil mengecup pipi istrinya.
"Eh ... tapi itu adalah olahraga kesukaanmu! Bukan aku!" kilah Yuna sedikit tergagap masih dengan wajah mamanas. Malah semakin merah saja seperti tomat.
Dengan cepat Kagami Jiro menggendong Yuna dan membaringkannya di atas ranjang. Sementara dia sudah berada di atasnya.
"Apakah aku tidak cukup baik melakukannya dan membuatmu tidak menyukai olahraga ini?" ucap Kagami Jiro dengan pelan dan tersenyum menatap Yuna. "Katakan ... bagian mana yang membuatmu merasa tidak puas. Aku akan memperbaikinya dan membuatmu benar-benar menyukai olahraga ini ..." bisik Kagami Jiro tepat di dekat telinga Yuna.
"Ah ... tidak ... bukan begitu ..." kini Yuna sedikit menahan dan mendorong dada Kagami Jiro agar sedikit mundur. "Semuanya sudah sangat baik." imbuh Yuna malu-malu.
"Lalu apa? Katakan padaku ..."
"Aku sedang datang bulan ..."
Kini keduanya bertatapan cukup lama dan Kagami Jiro segera merebahkan tubuhnya di atas Yuna begitu saja. Raut wajahnya tentu saja terlihat begitu kecewa bukan main.
"Huuftt ..."
...⚜⚜⚜...
...Hallo sahabat Never Say Good Bye. Jangan lupa dukung selalu Zen Jiro ya. Berikan :...
...Like...
...Comment...
...Klik " Favourite "...
...Vote...
...Gift...
...Rate...
__ADS_1
...Siapa nih yang mau lihat dan intip biodata mereka? Jika banyak yang mau lihat, inshaaAllah next akan Author berikan biodata dari karakter Never Say Good Bye. Hihi ......
...Oke, Author ijin undur diri kembali. Mau ngehalu sama Zen Jiro lagi. Hehe ......