Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kedatangan Jia Li Dan Du Huanran


__ADS_3

Sore itu lagi-lagi Zen hanya menghabiskan waktunya berada di taman samping rumah. Sementara kak Kai sedang keluar karena harus mengurus beberapa urusan dan menemui beberapa klien.


Dan dua hari ini Zen tidak menghubungi Yukimura sama sekali. Bahkan ketika Yukimura mencoba untuk menghubunginya, Zen selalu mengabaikannya dan mematikan ponselnya.


Aku tidak ingin kalian mengkhawatirkanku saat ini. Aku akan menghubungimu disaat aku sudah pulih kembali.


Batin Zen yang masih menimang-nimang benda pipih yang baru saja dimatikannya itu. Xia Feii yang melihat Zen dari dalam rumah, kini tersenyum manis menatapnya dari kejauhan. Dia berniat untuk menghampiri Zen dan membawakan sebuah obat untuk Zen.


"Hallo ... kau melupakan obatmu, Zen!" Xia Feii mengulurkan sebuah pil berwarna keemasan di atas sebuah piring yang berukuran kecil kepada Zen dan juga segelas air putih. "Minumlah obat yang sudah aku sediakan dengan teratur."


Zen menatap murung obat itu dan sepertinya dia kembali teringat dengan sesuatu.


Biasanya di saat aku sedang sakit, Yuna akan selalu menyiapkan semua obat itu untukku. Bahkan jika aku lupa untuk meminumnya. Dia akan sangat marah dan mengomel-ngomel sepanjang hari. Aku rindu sekali dengan semua itu. Aku rindu sekali semua tentangnya ... bahkan aku juga rindu omelannya disaat aku pulang terlambat atau bahkan karena hal sepele seperti aku yang sering meletakkan handuk di atas ranjang selepas mandi. Aku rindu semuanya ... rindu sekali ...


Batin Zen yang semakin terlihat begitu murung menatap obat keemasan yang sudah diterimanya itu.


"Zen ..." ucap Xia Feii mengejutkan lamunan Zen.


"Oh ... iya ... ehm. Terima kasih ..." sahut Zen lalu meminum obat itu dan meneguk segelas air putih itu. "Kapan aku bisa pulih sepenuhnya?"


"Pemulihan dari racun yang disebabkan oleh sisi pisau parysatis memerlukan waktu paling tidak satu pekan." jawab Xia Feii dengan ramah.


"Kau bisa kembali bekerja dan meninggalkanku. Para pengawalku akan selalu menjagaku. Kau pasti juga sangat dibutuhkan di rumah sakit." ucap Zen datar.


"Tidak ... tidak ... kebetulan aku memang sudah berniat untuk mengambil cuti kok. Tenang saja ... jangan merasa tidak enak. Hehe ..." sahut Xia Feii disertai kekehan kecil yang begitu manis.


"Oh ... baiklah jika memang seperti itu." jawab Zen seadanya.


Tiba-tiba terdengar ritme teratur dari pintu utama, menandakan ada tamu yang sedang datang berkunjung. Ataukah mungkin Vann dan yang lainnya yang datang?

__ADS_1


"Aku akan memeriksanya sebentar ..." ucap Xia Feii lalu bangkit dari duduknya dan mulai melenggang untuk membukakan pintu untuk tamu itu.


Beberapa saat, mulai terdengar beberapa derap langkah kaki dan candaan-candaan dari beberapa gadis. Derap langkah kaki itu semakin terdengar oleh Zen hingga akhirnya mereka menghampiri Zen.


"Zen ... apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau terkena racun yang sangat mematikan." ucapan seorang gadis cantik dengan pakaian ala gothic dan terlihat begitu khawatir.


"Kita benar-benar sangat khawatir padamu ... hiks ..." sahut gadis satunya lagi yang berpenampilan casual dan santai dan langsung memeluk Zen begitu saja.


"Jia Li, Du Huanran ... aku baik-baik saja. Jangan berlebihan!" celutuk Zen karena merasa risih dipeluk mereka berdua.


"Apanya yang baik-baik saja?! Lihatlah luka di tubuhmu! Bahkan kau juga terkena racun dan hampir saja pergi untuk selamanya! Masih bilang kau baik-baik saja?!" celutuk Jia Li begitu kesal. "Kau sungguh menyebalkan, Zen! Hiks ..." ucap Jia Li yang masih terisak memeluk tubuh Zen.


"Kau juga tidak pernah lagi bercerita kepada kami saat mengalami masalah yang begitu berat. Sebenarnya kau anggap kami apa?!" celutuk Du Huanran yang juga sudah menangis.


"Haishh ... bocah-bocah ini!!" celutuk Zen begitu kesal.


"Kau beraninya memanggilku bocah ..." ucap Zen membulatkan sepasang matanya tak percaya.


"Kau memang bocah yang sangat menyebalkan! Hiks ..." sahut Du Huanran.


"Haishhh ..." keluh Zen pasrah melihat tingkah mereka berdua.


Sementara Xia Feii terlihat tertawa kecil melihat tingkah mereka yang menurutnya begitu lucu.


"Aku membawakanmu obat ini, Zen. Kata bibiku ini sangat ampuh dan termasuk si raja obat di China. Lukamu pasti akan segera sembuh jika meminum obat herbal ini." celutuk Du Huanran sambil memberikan sebuah botol kecil bening yang berisikan beberapa butir capsul berwarna kecoklatan.


"Pien Tze Huang?" ucap Xia Feii tiba-tiba yang masih berada di dalam ruangan itu.


"Benar sekali, Dokter Xia Feii. Apakah Zen boleh mengkonsumsi obat ini?" tanya Du Huanran ingin tau.

__ADS_1


"Hhm. Sebenarnya aku sudah meracik obat-obat herbal untuk Zen. Tapi ... tidak akan masalah jika Zen juga meminum pien tze huang. Pien Tze Huang adalah rajanya obat China dan dapat menyembuhkan peradangan dan infeksi akibat bakteri. Akan sangat bagus untuk penyembuhan luka Zen." Xia Feii menyauti dengan ramah.


Yeap, obat China Pien Tze Huang merupakan ramuan tradisional China yang diturunkan secara turun temurun dan sangat dijaga kerahasiaannya. Ramuan ini terbuat dari bahan hewani yang memiliki segudang manfaat bagi kesehatan tubuh seperti batu empedu sapi (Niu Huan), kantung sekresi kijang (Mochus), dan empedu ular.


Pien tze huang dapat disajikan dengan cara ditumbuk atau di blender hingga menjadi bubuk halus. Kemudian di masukan ke dalam 5-6 kapsul kosong sehingga lebih mudah untuk diminum.


"Hhm. Baiklah kami harus segera pergi kembali karena ada pemotretan! Lain kali kalau butuh sesuatu, jangan segan-segan untuk mengatakannya kepada kami." ucap Jia Li yang lebih terkesan seperti sedang mengancam Zen.


"Ah ... iya ... baiklah." jawab Zen seadanya dan cepat agar kedua gadis itu tidak memperpanjangnya lagi.


"Baiklah. Kalau begitu kita permisi, Dokter Xia Feii. Jika pasien Zen bandel, jewer saja dia!" celutuk Jia Li sambil meraih sling bag berwarna keunguan dan menggendongnya.


Zen lebih memilih tak begitu menganggapi ucapan Jia Li dan hanya melengos menatap arah lain. Sedangkan Xia Feii terlihat begitu ramah dan tersenyum mengangguk.


Kini Jia Li dan Du Huanran mulai melenggang dan meninggalkan rumah kuno ini. Dan sekarang hanya tinggal Zen bersama Xia Feii di dalam rumah ini. Sementara Vann, Nokto,Yunxi, dan Jin heng masih dengan setia berjaga di luar pintu.


"Kau beristirahatlah, Zen. Tubuhmu juga masih membutuhkan istirahat yang cukup saat ini."


"Hhm. Baiklah. Aku akan beristirahat di kamar ..."


"Hhm. Bangunlah saat sore untuk membersihkan diri. Aku juga akan memasak untuk makan malam nanti."


"Terima kasih, Xia Feii ..."


Xia Feii menanggapinya dengan senyum lebar dan begitu tulus, "Terima kasih untuk apa? Aku hanya memasak makanan rumahan kok, karena persediaan di lemari dingin sudah tidak lengkap lagi."


"Tidak masalah. Itu sudah sangat baik menurutku."


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2