Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Gadis Jepang Yang Menjelma Sebagai Gadis China


__ADS_3

Amee dan Christal tertawa renyah dan terlihat sudah sangat dekat. Sementara Zen yang masih merasa sedikit kesal juga masih melenggang di belakang kedua gadis cantik itu dengan kedua jemarinya yang masih disematkannya dengan rapi di saku celana jeansnya.


Kini langkah kaki mereka membawa mereka bertiga hingga mereka sampai di ruang sebuah ruangan. Dan disana sudah ada Li Kai yang sedang menyibukkan dirinya di depan sebuah laptop.


Ruangaan ini dipenuhi dengan beberapa pakaian yang digantung di masing-masing hanger dan dilapisi dengam plastik bening yang tebal. Dan sepertinya ruangan ini adalah ruangan kerja pribad Amee di rumahnya.


"Halo, Kak Kai!" sapa Christal dengan ramah dan mulai duduk di sofa panjang berwarna cream lembut bersama Amee.


Li Kai mulai beralih menatap Christal dan tersenyum hangat menyambut Christal, "Hallo, Christal!"


"Jadi bantuan apa yang sedang kakak butuhkan saat ini dariku dan Christal, Kak?" kali ini Zen yang sudah mulai duduk di atas sofa tunggal mulai bertanya karena sejak dari tadi sebenarnya Zen sudah cukup sangat penasaran.


"Sebenarnya begini, Zen ..." ucap Li Kai yang mulai terlihat ragu untuk mengatakannya dan membenarkan letak kacamatanya yang dirasa kurang pas olehnya. "Beberapa sample pakaian telah selesai dijahit. Dan sekarang sudah cukup menumpuk. Jika menggunakan kakak sebagai modelnya, itu akan memakan waktu yang cukup lama karena kakak memang tidak memiliki bakat sedikitpun sebagai seorang foto model. Jadi, maukah kamu membantu kami untuk menjadi model dari pakaian terbaru yang dikeluarkan oleh Amee? Kebetulan ada beberapa palaian couple, jadi kamu bisa berpasangan dengan Christal. Kami juga akan membayar kalian kok." jelas Li Kai penuh harap agar Zen menerima tawaran ini. Li Kai juga menatap Christal dan Zen secara bergantian.


"Sebenarnya aku tidak ada masalah, Kak. Tapi ini semua tergantung dengan Christal." Zen menyauti dengan santai dan mulai melirik Christal yang duduk di seberangnya bersama dengan Amee. "Jika Christal bersedia, maka aku akan melakukannya bersama dengannya."


Sebenarnya hal ini cukup membuat Christal sedikit bingung. Karena jika ini terjadi ini, maka ini adalah pertama kalinya Christal melakukan pemotretan bersama dengan Zen. Dan tentu saja Christal juga merasakan kegugupan yang luar biasa yang menjadikannya terdiam selama beberapa saat dan tak menjawab ucapan dari Zen.


Christal mulai memandangi Amee, Li Kai, dan Zen. Meskipun sebenarnya Christal merasa kurang nyaman karena belum terbiasa. Namun tentu saja Christal tak ingin mengecewakan mereka bertiga.

__ADS_1


"Christal, bagaimana? Apa kamu mau melakukannya bersama denganku?" Zen bertanya lagi dengan sedikit lebih lembut. "Jika kamu tidak bersedia tidak masalah kok. Aku paham itu, dan kamu juga pasti kurang nyaman karena belum terbiasa."


"Tidak kok." jawab Christal dengan cepat. "Baiklah. Aku bersedia dan mau melakukannya kok. Tapi maaf jika hasilnya kurang memuaskan, karena aku belum terbiasa melakukan semua itu." ucap Christal yang sebenarnya takut akan mengecewakan mereka bertiga.


"Tenang saja, Christal. Aku akan membantumu." sahut Zen dengan senyum manisnya. "Sekarang gantilah pakaian dulu, biar Amee yang membantumu. Uhm ... maksudku biar kakak ipar Amee yang membantumu dan sekalian meriasmu." imbuh Zen meringis menatap Amee.


"Baiklah. Ayo, Christal!" kali ini Amee mengambil beberapa pakaian sample itu dan mulai mengantar Christal untuk segera berganti pakaian maupun untuk sedikit meriasnya.


Sedangkan Zen juga mulai mengambil beberapa pakaian dan membawanya ke kamar lainnya untuk segera berganti.


"Kak. Aku pinjam kamarmu dulu." ucap Zen sebelum meninggalkan Li Kai.


Pakaian pertama, Zen berganti dengan sebuah pakaian cheongsam berwarna merah dengan ukiran keemasan yang menghiasi pakaian tersebut.


Sementara Christal kali ini tampil elegan dan memukau dalam balutan baju tradisional Cina / qipao dengan model gaun yang press body dan membentuk tubuh rampingnya, Qipao itu cukup panjang dan menjuntai hingga ke mata kakinya. Qipao itu memiliki belahan hingga sampai pahanya dan kaki jenjangnya yang indah akan sedikit terlihat saat Christal melenggang.


Rambutnya digerai dengan rapi dan sedikit dihiasi dengan hiasan rambut berbentuk bunga yang begitu lucu, sementara itu makeup-nya terlihat begitu natural, fresh and young dengan warna bibir soft pink. Cantik dan manis sekali!


Zen tak henti-hentinya menatap seorang gadis Jepang yang saat ini sedang menjelma sebagai seorang gadis China dengan dandanannya yang memakai pakaian khas China. Christal yang menyadari saat Zen terus saja menatapnya juga terlihat sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"Cantik sekali!" gumam Zen tanpa sadar dan masih terus memandangi Christal tanpa berkedip.


"Ehem ..." Li Kai berdehem dan menahan tawa ketika melihat sikap sang adik yang sedang begitu terpana saat melihat seorang gadis, dan ini adalah kedua kalinya Li Kai melihat Zen seperti ini setelah beberapa saat yang lalu tatapan seperti itu pernah diberikan untuk Amee. "Sepertinya Christal memang sangat pantas dan cocok saat mengenakan qipao buatan Amee. Christal, kelak kamu akan menjadi salah satu warga tetap Beijing." imbuh Li Kai kembali menggoda kedua anak muda itu yang saat ini terlihat malu-malu.


"Tentu saja, Kak!" sahut Zen dengan yakin. "Suatu saat nanti dia akan menetap di Beijing bersamaku. Benar begitu, Christal?" kali ini ucapan Zen semakin sukses membuat wajah Christal semakin merona saking malunya.


"Sudah, jangan menggoda Christal terus." ucap Amee menengahi. "Lihatlah wajah Christal menjadi sangat merah karena kalian berdua!" imbuh Amee menatap Zen dan Li Kai secara bergantian.


Sementara kedua pemuda itu tak merasa bersalah sama sekali dan malah tertawa kecil bersama.


"Sekarang lebih baik segera lakukan pemotretan saja. Yuk, Christal!" Amee mulai menuntun Christal menuju ke tempat yang biasanya selalu dia gunakan untuk memotret Li Kai jika sedang menjadi model dari produknya. "Zen, kemarilah!!"


Zen yang sudah mulai menghentikan tawanya kini mulai melenggang ke arah Amee dan Christal untuk segera melakukan pemotreran itu. Sementara Li Kai juga mulai menyusul dengan membawa sebuah kamera yang sudah dia gantungkan pada lehernya.


Zen mulai melenggang mendekati Christal dan berdiri di depan sebuah background kain berwarna putih. Tentu saja Zen sudah terbiasa dengan semua ini, namun tidak untuk Christal. Saat ini Christal sedang merasa gugup luar biasa, hingga saat disuruh untuk tersenyum saja masih terlihat begitu kaku dan tegang.


"Christal, tarik nafas panjang dan keluarkan perlahan. Setelah itu rileks dan santai saja. Jangan anggap kamera itu menyala. Anggap saja kita hanya sedang berdua dan tidak ada kamera." ucap Zen berusaha untuk membuat Christal lebih rileks dan santai.


Christal yang masih menatap pemuda tampan bermata kebiruan itu kini mulai mengangguk pelan dan mengikuti instruksi dari Zen.

__ADS_1


__ADS_2