
Lima hari semenjak penusukan itu, Zen sudah mulai pulih sepenuhnya. Kini dia bersikeras untuk kembali ke appartementnya. Karena dia juga merasa sedikit tidak enak kepada Xia Feii yang mengambil cuti terlalu lama, bahkan Xia Feii juga selalu memasak untuk mereka semua.
Namun sesekali Xia Feii juga mengunjungi Zen di appartement dan melakukan pengecekan terhadap tubuh Zen.
"Syukurlah. Tubuhmu sudah menjadi lebih baik." ucap Xia Feii setelah memeriksa kembali tubuh Zen. Saat ini mereka duduk bersama di sebuah sofa panjang.
"Berikan nomor rekeningmu! Aku akan mentransfer sejumlah uang untukmu, Xia Feii." ucap Zen sambil meraih ponselnya dan berniat untuk mentransfer sejumlah uang.
"Aku tidak mau kau membayar apapun. Aku melakukan semua ini karena aku benar-benar ingin menyelamatkanmu, Zen. Biar bagaiamanapun kau pernah menolongku."
"Keras kepala!" sungut Zen pelan.
"Apa kau bilang barusan?" tanya Xia Feii karena ucapan Zen terlalu pelan dan tidak terlalu terdengar olehnya.
"Hhm. Tapi aku lebih berhutang kepadamu. Katakan bagaimana aku membalasnya? Karena aku tidak suka berhutang budi kepada siapapun." ucap Zen begitu tegas.
"Haahhh ..." Xia Feii menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sedikit kesal.
"Katakan bagaimana aku membalasnya? Karena ini sungguh berarti untukku. Karena berkat kamu, aku masih berada disini dan tetap hidup." ucap Zen dengan kekeh.
Tentu saja, seorang seperti Kagami Jiro akan sangat tidak menyukai hutang budi. Sebisa mungkin dia akan membayar semua itu bagaimanapun caranya!
"Baiklah! Apapun yang aku mau kau akan memenuhinya?" tanya Xia Feii sedikit melirik Zen.
"Ya! Apapun itu akan aku berikan!" jawab Zen dengan tegas dan yakin.
"Kalau begitu aku ingin menjadi kekasihmu!" ucap Xia Feii yang perlahan mencondongkan tubuhnya pada Zen dan mulai mendekati wajah Zen.
"Kekasih? Apa kau sedang membuat lelucon, Nona Xia Feii? Aku bahkan tidak diperbolehkan menjalin ikatan dengan siapapun." jawab Zen yang juga menatap lekat wajah gadis di hadapannya itu yang hanya berjarak beberapa inchi saja darinya.
Beberapa saat keduanya saling terdiam dan hanya saling bertatapan, sementara wajah Xia Feii semakin sudah semakin mendekati wajah tampan Zen.
"Nona Xia Feii. Maaf, tapi aku tidak bisa memenuhi permintaanmu yang ini ..."
Namun tiba-tiba saja Xia Feii menghentikkan niatnya, ketika jarak wajah antara keduanya tinggal sangat dekat. Xia Feii mundur kembali lalu tertawa kecil. Dan ini sungguh membuat Zen sedikit bingung.
"Aku hanya bercanda, Zen!" cetusnya masih tertawa kecil. "Makanya jangan berusaha memaksaku untuk meminta bayaran padamu! Karena aku tulus melakukannya!" imbuhnya lalu meraih ponselnya karena tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Aku angkat dulu sebentar ..." ucap dokter cantik itu lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Zen.
__ADS_1
"Dasar, Bocah ..." keluh Zen lalu membenarkan posisi duduknya kembali.
Setelah beberapa saat akhirnya Xia Feii kembali lagi dan langsung mengambil slingbag-nya.
"Zen ... aku harus segera pergi karena ada pasien yang mau melaksanakan oprasi. Besok aku akan datang untuk memeriksamu lagi!"
"Baiklah. Hati-hati ..."
"Hhm ..."
Xia Feii mulai berlalu meninggalkan appartement Zen, dan kini seorang gadis lain datang dan mengunjungi Zen. Dia adalah salah satu lawan bermain Zen di beberapa film sebelumnya sebelum jiwa Kagami Jiro menempati raga Zen.
Siapa lagi gadis kali ini? Mengapa begitu banyak para gadis di sekeliling bocah ini? Namun tak satupun yang bisa aku rasakan getarannya yang begitu kuat selain gadis bernama Amee itu.
Batin Zen yang masih menatap dan mengamati gadis dengan pakaian sedikit terbuka itu.
"Zen ... apa kabar?" sapa gadis itu terlihat begitu khawatir. "Aku dengar kau cuti seminggu karena sakit. Kau sakit apa?"
"Ehm ... aku hanya kurang enak badan. Dan ingin beristirahat saja." jawab Zen asal yang kini duduk berseberangan dengan gadis itu.
"Wah ... aku bawakan kue kesukaanmu dan juga kopi kesukaanmu, Zen." gadis dengan pakaian super ketat dan membentuk lekuk tubuhnya itu, bahkan design bagian depan juga begitu rendah, mulai bangkit kembali dari duduknya dan melenggang ke arah Zen dengan membawa segelas capucino ice blend yang sudah dibawanya tadi.
GGRREEPP ...
Dengan begitu cepat dan gesit, Zen menangkap segelas capucino ice blend itu dengan begitu sempurna dan sangat keren.
Gadis itu masih terdiam dan seperti begitu tersihir di pangkuan Zen. Bahkan jarak antara keduanya hanya bertaut beberapa inchi saja. Dan parahnya lagi dan sangat membuat Zen merasa tidak nyaman adalah ... salah satu aset berharga dari gadis itu menempel bahkan tertekan pada tubuh Zen. Dan mungkin saja semua pria yang akan menyaksikan salah satu keindahan dunia ini akan benar-benar terpana dan tersihir olehnya.
"Bisakah kau segera bangun, Nona?" ucap permintaan dari Zen sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ma-maafkan aku, Zen ..." ucap gadis itu begitu tergagap.
TRRIINNG ...
KKLLAAKK ...
Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan pria berkacamata yang tak lain adalah kak Kai itu begitu terperanjat dan membulatkan sepasang matanya saat menyaksikan semua itu.
Gadis itu segera bangun kembali dan terlihat sekali wajahnya yang sudah memerah seperti tomat.
__ADS_1
"Ah ... ternyata ada Amoy. Tenang saja kakak hanya ingin mengambil sesuatu di kamar." ucap kak Kai yang merasa malu sendiri setelah melihat Zen dan gadis itu. Dengan langkah cepat kak Kai segera melenggang menuju kamar.
"Lain kali gunakan pakaian yang kau anggap nyaman. Tidak perlu mendengarkan pendapat orang lain agar terlihat selalu cantik. Jadilah dirimu apa adanya!" ucap Zen yang mengetahui jika gadis itu sedikit tidak nyaman dengan pakaiannya.
"Aku baru saja pulang dari acara ulang tahun teman, Zen. Dan belum sempat berganti pakaian. Maaf ..."
"Berpakaian seperti itu dan bertindak begitu ceroboh, akan begitu membahayakanmu. Dari seribu pria, mungkin hanya akan ada satu pria saja yang akan bisa menahannya. Apa kau paham, Amoy?" kicauan Zen yang terdengar seperti sebuah nasehat seorang om-om untuk keponakannya.
"Eh? I-Iya, Zen. Maaf ... kalau begitu aku pulang dulu." pamit Amoy masih dengan wajah yang memerah menahan malu.
Jelas saja Amoy merasa malu. Seorang gadis yang ditegur oleh seorang pria mengenai cara berpakaiannya yang sedikit terbuka seperti itu. Bukannya tergoda, tapi Zen malah menceramahinya panjang lebar. Pasti ada rasa malu dan juga begitu kesal.
"Pakai ini!" Zen mengambil coat abu-abu miliknya dan memberikannya untuk Amoy.
"Terima kasih, Zen. Aku pulang ... kau cepatlah sembuh."
"Yeap. Aku akan segera pulih. Tenang saja!" jawab Zen dengan begitu santai.
Lalu Amoy mulai melenggang meninggalkan appartement Zen.
Beberapa saat kak Kai sudah datang kembali dan bergabung bersama Zen.
"Kau dan Amoy ... apa yang sedang kalian berdua lakukan tadi?" selidik kak Kai.
"Amoy tersandung dan terjatuh di pangkuanku." jawab Zen lalu meneguk capucino ice blend pemberian dari Amoy tadi.
"Serius hanya itu?" selidik kak Kai seolah belum puas mendengar jawaban dari Zen.
"Yeap. Lalu apalagi?"
"Ah ... iya ... kau juga tidak akan mudah jatuh cinta." celutuk kak Kai lalu membuka sebuah bingkisan di atas meja yang beraroma sangat manis itu.
"Hhm ... red velvet. Aromanya manis sekali. Apa kakak boleh mencicipinya sedikit?" tanya kak Kai begitu tergoda setelah melihat red velvet cake itu.
"Hhm. Kue itu untuk kakak semua saja."
Kak Kai sangat terkejut mendengar ucapan dari Zen. Karena biasanya Zen adalah pecinta kue. Lalu kali ini, dia malah memberikan kue itu kepada kak Kai.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1