
Senja mulai menampakkan cahaya kemerahannya. Dan langit mulai menjadi gelap. Kelap kelip samar dari sang bintang dan rembulan mulai terlihat menghiasi langit yang sudah semakin gelap. Angin yang berhembus terasa begitu dingin dan kencang tidak seperti saat berada di kota.
Zen mulai turun dari taxi dan diikuti oleh Vann. Sementara ketiga pengawal lainnya mulai turun dari taxi lainnya.
Mereka ber-lima kini berjalan menyusuri sebuah gang kecil itu. Jalannya tidak terlalu luas. Mungkin hanya akan muat jika dilalui oleh sebuah mobil. Jika sedang ada dua mobil dari dua arah yang berlawanan, maka harus bergantian dan salah satunya harus menunggu dulu di ujung gang.
"Apa tuan Zen sudah menghubungi tuan Kai jika akan menyusulnya kesini?" tanya pengawal Nokto tiba-tiba.
"Aku tidak memberitahunya. Aku hanya ingin melihat kondisi ibu kak Kai. Selama ini bukankah kak Kai sudah seperti kakakku sendiri?" jawab Zen seadanya.
"Ah ... iya ... benar sekali, Tuan." Nokto menyauti dengan sedikit tergagap kemudian menyikut lengan pengawal Yunxi yang sedang berjalan di samping kirinya. Sementara Zen berjalan di depan bersama pengawal Vann dan pengawal Jin Heng.
Nokto dan Yunxi saling bertatapan dan seperti sedang melakukan percakapan melalui mata.
Matilah kita, Yunxi! Tuan Kai pasti akan sangat marah mengetahui kedatangan kita yang secara tiba-tiba seperti ini! Aku kira tuan Zen sudah memberinya kabar terlebih dahulu.
Batin Nokto menatap Yunxi.
Kau benar sekali! Siap-siap saja kena omelan dari tuan Kai nanti. Hiks ...
Batin Yunxi yang juga menatap Nokto.
Setidaknya akan ada ibu tuan Kai. Mungkin saja tuan Kai tidak akan terlalu meledak.
Batin Nokto menatap Yunxi dan masih berbicara dengan bahasa mata.
Kau benar sekali! Kita masih sangat beruntung, Nokto!
Batin Yunxi lalu merangkul bahu Nokto tanpa sadar, begitupula Nokto juga mulai berjalan sambil merangkul Yunxi.
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" ucap Zen tiba-tiba yang sudah berbalik dan menatap aneh mereka berdua.
Dengan cepat Nokto dan Yunxi segera melepas rangkulannya satu sama lain dan berdiri dengan tegap kembali.
__ADS_1
"Tidak, Tuan. Hanya sedikit dingin saja ..." kilah Yunxi asal.
"Benar sekali. Desa Nahui Guizhou sangat dingin. Tidak seperti saat di kota ..." imbuh Nokto dan segera berakting seakan sedang kedinginan.
"Hhm. Cepatlah sedikit kalau kedinginan! Rumah ibu kak Kai hanya tinggal beberapa meter saja!" tandas Vann begitu saja.
Zen hanya mengkerutkan keningnya dan sedikit melirik Vann, kemudian dia mulai melangkah kembali dengan gagah menyusuri sebuah gang kecil yang sedikit menanjak itu.
Lampu yang menyinari jalanan menjadikan suasana menjadi remang-remang. Kelima pria yang sangat menawan itu melenggang dengan sangat gagah diikuti oleh bayangan mereka.
Beberapa saat mereka sampai pada sebuah rumah dengan bangunan yang cukup tua dan bergaya klasik. Rumah itu terletak di ujung gang kecil ini. Zen menatap Vann dan mengisyaratkan untuk segera mengetuk pintu itu. Vann yang tanggap, akhirnya segera mengetuk pintu itu beberapa kali.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya yang kira-kira berumur 40 tahun di balik pintu. Wanita itu mengkerutkan keningnya menatap Zen dan keempat pengawalnya.
"Kalian siapa?" tanya wanita paruh baya itu yang terlihat begitu kebingungan.
"Uhm selamat sore ... kami adalah ..." ucap Vann yang tiba-tiba saja terpotong karena ada seseorang yang menyusul wanita paruh baya itu.
"Siapa yang bertamu, Bibi?" terdengar suara seorang pria yang sangat familiar. Dan tak lama kemudian seorang pria berkacamata datang untuk melihat siapa yang sedang bertamu di hari yang sudah gelap.
"Kalian ..." ucap pria berkacamata bening itu begitu terkejut setelah melihat Zen dan para pengawal sudah berada di balik pintu.
"Hallo, Kak Kai." sapa Zen tersenyum lebar.
"Mengapa tiba-tiba datang kesini?" tanya kak Kai begitu terkejut.
"Ah, tentu saja aku tak akan membiarkan kakak berlibur sendirian. Desa Nahui Guizhou sangat indah. Tentu saja aku juga ingin melihatnya dong." jawab Zen cengengesan.
"Ah ... iya. Kau benar sekali, Zen! Desa Nahui Guizhou memang sangat indah. Maaf kakak tidak sempat berpamitan kemarin malam. Karena kakak sangat terburu-buru." ucap kak Kai dengan ramah.
"Santai saja. Tidak masalah kok." sahut Zen dengan santai.
"Oh iya. Bibi ... kenalkan. Ini adalah Zen. Aktris yang menjadi tanggung jawabku saat ini." imbuh kak Kai memperkenalkan Zen kepada wanita paruh baya itu, yang mungkin saja adalah bibinya.
__ADS_1
"Salam kenal, Bibi." Zen tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Dan mereka adalah para pengawal yang bertugas untuk menjaga Zen." ucap kak Kai yang kini memperkenalkan keempat pengawal itu.
"Salam kenal. Saya Vann." ucap Vann dengan ramah dan sedikit membungkukkan badannya.
"Salam kenal, Bibi. Saya Yunxi." ucap Yunxi tak kalah ramah dan tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang begitu dalam.
"Salam kenal. Saya Jin Heng." ucap Jin Heng dengan nada rendah dan membungkukkan badannya.
"Dan saya adalah Nokto. Salam kenal, Bibi." ucap Nokto dengan ramah.
"Baiklah. Baiklah. Ajak mereka masuk, Kai! Mereka pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang." jawab bibi Rong, adik dari ibu kak Kai.
"Hhm. Kalian masuklah ..." ucap kak Kai lalu mulai masuk kembali ke dalam rumah.
Zen dan keempat pengawal itu mulai memasuki rumah itu mengikuti kak Kai. Zen harus sedikit menunduk saat melewati pintu itu karena pintu itu sedikit lebih rendah.
"Kalian mandilah dulu dan kita akan makan bersama. Kamar mandi ada di ruangan ujung sebelah tangga." ucap kak Kai menjelaskan.
"Kalian madilah dulu! Aku terakhir saja!" ucap Zen sembari menghempaskan tubuhnya di atas sebuah kursi sofa model klasik.
Zen sedikit memperosotkan badannya dan memejamkan matanya sebentar. Sementara keempat pengawal itu mulai melenggang menuju kamar mandi.
"Mengapa menyusul kakak sampai kesini? Kakak kan hanya sebentar saja disini. Dan sebenarnya kakak berniat untuk kembali ke Beijing besok." ucap kak Kai yang sudah kembali membawakan teh hangat untuk Zen.
"Entah kenapa tiba-tiba saja tubuhku menginginkkan untuk datang dan menyusul kakak." jawab Zen seadanya.
"Ya sudah karena kamu sudah datang, maka kita akan kembali lusa saja. Mumpung jadwalmu juga kosong. Minumlah ..."
"Hhm ..." ucap Zen yang perlahan membuka matanya lalu duduk tegap kembali dan meraih secangkir teh itu.
"Bagaimana kondisi ibu kakak?"
__ADS_1
"Hhm ... kondisi ginjalnya semakin memburuk. Dan dia harus rutin cuci darah tiga hari sekali." jawab kak Kai begitu murung.
"Ah ... kamu harus lebih bersabar. Beri semangat untuknya terus. Kalau bisa kamu harus selalu menemaninya ... kebersamaan itu sangat berharga. Karena kenangan dan hal terindah bersama orang yang kita sayangi akan selalu kita rindukan kelak." ucap Zen tanpa sadar dan tiba-tiba juga teringat dengan sosok ibunya yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu.