
"Apa? Melamar seorang gadis?" ucap Kagami Jiro mengkerutkan keningnya dan terlihat sedikit terkejut setelah mendengar ucapan dari Yukimura.
Yukimura yang baru menyadari ucapannya, kini menunduk, mengkerutkan keningnya dan sedikit memijat keningnya.
"Siapa gadis itu, Paman?" tanya Kagami Jiro begitu ingin tau.
"Ah ... sebenarnya ini hanya siasat licik dari Jiro yang ingin membuatku menikah. Entahlah, apa gadis itu akan menerimaku atau tidak, Bocah. Kau tau bukan aku adalah pria kuat yang sangat menakutkan. Dan tentu saja semua gadis akan takut ketika melihatku." sungut Yukimura sedikit murung. "Maka dari itu, aku sama sekali tak pernah berpikir untuk mencari teman tidur ..."
Kagami Jiro yang sedang meneguk susu hangatnya seketika tersedak karena mendengar kalimat terakhir dari Yukimura yang menurutnya sedikit blak-blakan.
"Kau baik-baik saja, Bocah?" ujar Yukimura lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menepuk bahu Kagami Jiro dengan cukup keras.
"Ahh ... iya, Paman. Aku baik-baik saja." sahut Kagami Jiro saat tenggorokannya merasa lebih baik.
"Bagaimana menurutmu, Bocah? Sebenarnya pekan depan Jiro akan mengajak gadis itu ke Jepang. Dan aku tidak tau harus memulainya seperti apa?" ucap Yukimura yang sebenarnya sangat merasa canggung dan malu membicarakan masalah ini dengan jiwa Li Zeyan. "Aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya."
"Cara untuk memulainya?" Kagami Jiro memutar bola matanya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Bagaimana jika ajak gadis itu mengunjungi tempat romantis untuk makan malam. Dan disana paman juga bisa mengutarakan niat paman untuk melamarnya." usul Kagami Jiro.
"Bagaimana cara mengutarakannya? Kau tentu tau orang yang seperti apa aku ini bukan? Aku tidak pandai berkata-kata, apalagi berkata manis untuk seorang gadis ..." sungut Yukimura memainkan jemarinya dan mengetuk-ngetuk meja beberapa kali.
"Jadi karena hal ini paman menonton beberapa drama ya? Untuk belajar cara mendekati dan melamar seorang gadis? Untuk mencari inspirasi?" tanya Kagami Jiro dengan sangat berhati-hati, karena takut akan menyinggung pria dewasa bernama Yukimura.
"Begitulah, Bocah! Haish ... ini semua karena Jiro yang tiba-tiba memintaku untuk melamar Xia Feii!" ucap Yukimura sedikit mendengus kesal. "Padahal tidak ada yang terjadi antara aku dan gadis itu."
"Xia Feii? Siapa dia, Paman?" tanya Kagami Jiro mengkerutkan keningnya karena seperti pernah mendengar nama itu.
__ADS_1
"Seorang dokter yang kita temui saat perayaan anniversary koi to producer di Beijing. Dokter wanita yang menyelamatkan nyawa Li Zeyan dari racun mematikan pisau parysatis." jelas Yukimura.
"Ahh ... iya. Aku ingat, Paman." sahut Kagami Jiro mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tiba-tiba Yukimura mulai memicingkan sepasang matanya menatap Kagami Jiro dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Hei, Bocah! Kau kan seorang idol dan juga aktor nomor 1. Kau pasti bisa mengajariku bukan?" ucap Yukimura yang masih menatap Kagami Jiro dengan lekat.
"Hhm? Benar juga, Paman. Aku akan berusaha untuk membantu paman sebisaku." sahut Kagami Jiro dengan ramah dan tulus.
"Baiklah, latihan besok pagi gantian kau yang akan mengajariku ya, Bocah!" usul Yukimura untuk merubah latihan otot menjadi latihan drama.
"Baiklah, Paman!"
...⚜⚜⚜...
Salah satu dari pria dewasa itu terlihat sedang melihat selembar kertas dan membacanya. Sementara pria dewasa yang satunya terlihat sedang mendengarkan pria satunya dengan seksama dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
"Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Selama ini aku selalu menjalani hidupku seorang diri. Tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari sosok teman tidur ..." ucap seorang pria dewasa yang sedang terlihat membaca sebuah naskah dengan nada begitu datar namun begitu tegas.
Dan pembawannya malah terdengar seperti seseorang yang sedang membacakan naskah proklamasi. Pria itu adalah Yukimura yang sedang berusaha untukmenjadi sesosok pria romantis yang sedang melamar seorang gadis.
"Paman, jangan gunakan kata yang paling akhir atau Xia Feii akan berpikiran yang kurang bagus tentang paman." potong seorang pria dewasa lainnya yang tak lain adalah Kagami Jiro.
"Memang apa salahnya dengan kata teman tidur?" ucap Yukimura mengkerutkan keningnya menatap Kagami Jiro. "Bukankah menikah itu untuk memperoleh teman tidur, Bocah?! Pada umumnya intinya kan seperti itu kan?!"
__ADS_1
"Memang pada akhirnya akan menjadi seperti itu, Paman. Tapi gunakan ucapan yang baik, yang bisa meyakinkan Xia Feii, jika paman benar-benar serius dan ingin menikah dengannya." jelas Kagami Jiro dengan begitu sabar.
"Lalu bagaimana? Aku harus menggantinya dengan kata apa, Bocah?"
"Coba gunakan kata belahan jiwa atau pendamping hidup, Paman."
"Hhm baiklah ..." Yukimura mulai mengambil napas panjang lalu melepaskannya perlahan.
"Berjuta rasa rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Selama ini aku selalu menjalani hidupku seorang diri. Tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari seorang pendamping hidup. Namun, pada akhirnya ...."Yukimura kembali melihat selembar kertas yang sudah berisi ucapan indah itu karena sedikit lupa dengan ucapan selanjutnya.
"Namun, pada akhirnya takdir kini mulai menjawab segala resah dalam hatiku. Dan waktu itu takdir telah mempertemukan kita, dan membuatku diriku merasa berbeda dari biasanya. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan dalam hidupku selama ini, kini yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku, Xia Feii? Untuk menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau untuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata? Jadilah istriku, pelipur lara, tempat aku pulang dan berkeluh kesah. Menikahlah denganku, Xia Feii!"
"Kata-katanya sudah lumayan bagus, Paman. Tapi paman harus benar-benar mendalami setiap ucapan demi ucapan agar pernyataan dan proposal itu memiliki emosi yang bisa membuat Xia Feii begitu yakin untuk menerima paman." ujar Kagami yang lagi-lagi membuat Yukimura begitu kebingungan.
"Aduh, emosi seperti apa lagi itu, Bocah? Susah sekali mau mengajak seorang gadis menikah!" keluh Yukimura mulai kesal.
"Ehm, begini paman. Ucapan itu harus seperti sungguhan dan berasal dari hati paman yang terdalam. Harus terlihat ketulusan hati paman di dalamnya. Mimik wajah paman, cara penyampaian, bahasa tubuh paman, semua harus memberikan emosi yang tepat. Maka semuanya akan menjadi sempurna." ucap Kagami Jiro menjelaskan dengan sabar.
"Lalu bagaimana caranya melakukan semua itu, Bocah?"
"Baiklah, kita akan berlatih pelan-pelan saja. Karena masih ada waktu satu pekan, semua masih bisa kita atur. Setelah paman bisa menguasainya dengan baik, maka aku akan sedikit merubah penampilan paman."
"Apa? Penampilanku juga harus diubah?" ujar Yukimura terlihat begitu terkejut.
"Hhm. Tentu saja, Paman. Agar semuanya bisa maksimal. Dan soal semua itu serahkan saja padaku." Kagami Jiro tersenyum lebar menatap Yukimura.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...