
Sebuah figura besar yang tergantung di dinding bercorak klasik di ruang tamu itu membuat Zen berhenti melangkahkan kakinya untuk sesaat. Sepasang mata dengan pupil kebiruan itu kini menatap lekat gambar di dalam figura itu. Sementara keningnya sedikit berkerut dan terlihat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Terlihat seorang pria yang tidak asing menurutnya sedang berfoto bersama seorang wanita yang mungkin saja adalah istrinya.
Xu Han ... iya! Pria ini adalah pria yang aku lihat di dalam memory Zen. Pria yang memp*rkosa bahkan membunuh mahasiswi itu saat di dalam hutan bayangan. Dan ternyata aku memang pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Saat itu aku tak sengaja bertabrakan dengannya saat di minimarket malam itu. Pantas saja aku merasa tidak asing.
Batin Zen yang masih terus mengamati foto itu dengan seksama.
"Ada apa, Nak?" tanya nenek itu mengagetkan Zen.
"Apakah wanita yang ada di dalam foto ini adalah istri dari Mr. Xu Han?" tanya Zen sangat ingin tau.
"Hhm. Benar. Dia adalah istri Xu Han. Namun dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu." jawab nenek itu yang juga mendongak menatap foto itu dengan tatapan nanar.
"Oh ... seperti itu ya." jawab Zen seadanya tanpa memperpanjang rasa keingintahuannya.
"Iya. Tunggulah disini sebentar. Nenek akan panggilkan Xu Han." ucap nenek itu dengan sangat ramah.
"Baik, Nek." jawab Zen dengan ramah lalu mulai melihat-lihat kembali ruangan tamu. Sementara nenek itu segera berlalu dan menuju lantai dua.
Beberapa saat akhirnya seorang pria paruh baya mulai datang dan menghampiri Zen. Kira-kira dia berumur 38 tahun. Masih terlihat tampan untuk seumurannya, bahkan dia terlihat begitu ramah dan selalu tersenyum. Namun bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal sekeji itu terhadap mahasiswi itu?
Tentu saja Zen saat ini sedang berfikir cukup keras sebelum membuat sebuah kesimpulan yang tepat.
"Selamat siang, Mr. Xu Han." sapa Zen dengan ramah sambil melepas topi hitamnya.
"Selamat siang." Mr. Xu Han menyauti dengan ramah. "Bukankah kamu Li Zeyan? Mahasiswa dari Wan Chai University?" imbuhnya tiba-tiba dengan wajah yang kini menjadi sedikit pucat.
"Benar sekali. Ini adalah aku. Apa anda mengingatku?" jawab Zen dengan seringai manis.
"Oh ....tentu saja. Kau adalah seorang Idol besar. Tentu saja saya tidak akan pernah melupakan pernah menjadi dosenmu saat itu ... yah walau hanya sebentar." ucap Mr. Xu Han berusaha untuk tersenyum kembali.
"Bagus sekali! Ingatan anda sungguh luar biasa!" sahut Zen masih menyeringai manis dan mulai berjalan beberapa langkah mendekati Mr. Xu Han. "Jadi ... pasti anda juga masih mengingat dengan baik kejadian saat itu bukan?"
"Mengingat kejadian apa?" tanya Mr. Xu Han berusaha untuk tetap bersikap tenang. Padahal sebenarnya dia sangat tau apa yang Zen maksud saat ini.
Rewind ...
Seorang pria tampan terlihat begitu ketakutan dan sedang berlari di dalam hutan. Tak jauh darinya, seorang pria paruh baya juga terlihat sedang berlari menyusuri hutan yang begitu gelap dan dingin itu untuk mengejarnya hingga akhirnya dia bisa mendapati pria tampan itu.
GRREEPP ...
Pria paruh baya itu berhasil mencengkeram pundak pemuda tampan itu dan mendorongnya hingga menabrak sebuah pohon besar.
"Zen! Aku tau kau melihat semuanya!" ucap pria paruh baya tadi begitu menakutkan.
Pemuda bernama Zen itu kini terlihat sudah pucat dan sangat ketakutan. Bahkan tubuhnya sedikit menggigil, karena dia baru saja melihat sebuah pembunuhan sadis terhadap seorang mahasiswi. Dan kini si pembunuh sedang memergokinya.
__ADS_1
"Ma-maafkan aku. Tolong jangan bunuh aku!" ucap Zen pelan sekali.
"Bagaimana kau bisa menjamin kau tidak akan membeberkan semua ini?"
"Maafkan aku, Pak ..."
"Ingat baik-baik! Jika kamu mengungkap semua ini aku akan benar-bebar menghancurkan hidupmu! Aku juga tau kau sangat dekat dengan gadis bernama Amee. Aku juga akan menghancurkan dia sebelum kau menjebloskanku ke dalam penjara! Ingat itu baik-baik!!"
"Kumohon jangan libatkan dia! Aku akan menganggap aku tidak pernah melihat semua itu ..." ucap Zen dengan berat.
"Aku akan pegang ucapanmu, Bocah!"
Pria paruh baya itu tersenyum puas dan segera meninggalkan Zen.
.
.
.
Well ... kita kembali lagi di dunia masa kini.
Kini mereka saling bertatapan beberapa saat. Tatapan dari sepasang mata dengan pupil kebiruan itu seperti sebuah jala yang sedang bersiap menerkam mangsanya. Sementara Mr. Xu Han terlihat seperti membeku begitu saja setelah mendengar ucapan Zen.
"Anda pasti sangat mengingat seorang mahasiswi seni bernama Cho yang meninggal 2 tahun yang lalu bukan?" ucap Zen sedikit mendekatkan wajahnya pada lawan bicaranya saat ini.
"A-apa maksud dari perkataanmu, Zen?" ucap Mr. Xu Han sedikit tergagap.
"Aku melihat semuanya! Aku melihat semua yang kau lakukan terhadap gadis malang itu! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat itu!" ucap Zen dengan tajam.
"Jangan berbicara omong kosong! Siapa yang akan mempercayaimu? Kasus itu adalah sebuah kecelakaan! Dan kasus itu sudah ditutup 2 tahun yang lalu."
"Tidak! Kau tidak bisa lagi menyangkalnya. Karena aku bukanlah Zen yang dulu lagi! Kini aku akan mengungkap semuanya!"
"Kau tidak punya bukti apapun! Mereka tidak akan mempercayaimu!" tandas Mr. Xu Han.
"Akui kesalahanmu maka aku akan menjamin nyawamu masih tetap aman!" ucap Zen mencoba untuk bernegosiasi.
"Berani sekali bocah ingusan sepertimu mengancamku!" geram Mr. Xu Han mulai menampakkan sisi lainnya.
"Baiklah. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik aku akan meminta rekanku untuk menghabisimu. Karena aku tidak mau mengotori tanganku saat ini. Dan aku tidak bisa membunuh seseorang saat ini. Dan nyawa harus dibayar dengan nyawa!." kini Zen mulai meraih ponselnya dan berniat untuk menghubungi seseorang.
"Ckk ... bocah sepertimu mana punya nyali melakukannya." ucap Mr. Xu Han meremehkan.
"Tangan kanan dari pemimpin Doragonshadou yang akan menghabisimu sendiri. Kau tau dia sudah menganggapku seperti keponakannya sendiri?" ucap Zen dengan seringai manis.
"Jika kau adalah keponakannya, maka aku adalah kakak pertamanya! Jangan pernah bermimpi mempunyai relasi dengan gangster terbesar itu! Atau Kagami Jiro akan benar-benar membunuhmu!"
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Mr. Xu Han kini malah membuat Zen terkekeh begitu saja.
"Baiklah ... kau adalah seorang kriminal. Mereka tak akan memberi ampunan untukmu." ucap Zen lalu menghubungi seseorang.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan itu terhubung dengan seseorang. Zen dengan santai menekan tombol loud speaker.
"Hallo, Paman Yukimura. Ini adalah aku Zen. Aku sedang butuh bantuanmu!" ucap Zen setelah panggilan itu diterima.
"Ada apa?" tanya Yukimura dengan suara khasnya yang begitu besar.
"Ada seorang kriminal dan aku mau paman membereskannya tanpa sisa. Kalau perlu habisi saja karena dia sudah membunuh seseorang dan kabur begitu saja."
"Katakan dimana! Aku akan segera datang kesana bersama beberapa klan Doragonshadou! Selagi aku di China!" jawab Yukimura dengan suara garang dan mungkin saja dia sudah mengetahui rencana Kagami Jiro. Bahwa sebenarnya hanya untuk menggertak Xu Han.
"Aku akan mengirim alamatnya melalui pesan, Paman."
"Hhm. Secepatnya kirim!"
"Dipahami!"
Zen segera mengakhiri panggilan itu masih menyeringai manis. Sementara saat ini Xu Han terlihat sedikit pucat.
"Bagaimana Mr. Xu Han? Apa masih tidak percaya jika aku sangat dekat dengan mereka?" tanya Zen tersenyum manis menatap pria itu. "Mereka sangat kejam dan bengis. Mereka tidak akan tanggung-tanggung menghadapi seorang kriminal. Jika tidak berakhir pada kematian, maka kamu akan dibuat cacat permanen olehnya." imbuh Zen tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi.
"Bocah gila! Apa maumu?!"
"Aku mau kau menyerahkan dirimu dan mengakui semua kejahatanmu dua tahun yang lalu! Dan minta maaflah kepada keluarga korban!"
"Bocah gila! Bukankah kau sudah menyetujui saat itu untuk bungkam diri!" kini Mr. Xu Han berusaha melayangkan tinjunya tepat mengarah wajah Zen. Dengan cepat Zen segera menangkap dan memplintir tangan itu
"Arrgghh ..." rintih Mr. Xu Han pelan.
"Cepat putuskan sebelum paman Yukimura tiba di sini dan akan segera membunuhmu!" bisik Zen.
Mr. Xu Han terlihat begitu kesal dan mengeraskan rahangnya.
"Cepat putuskan!" Zen sedikit memperkuat plintirannya dan berbicara sedikit menekan tepat di dekat telinga pria itu.
"Arrgghh ... baiklah baiklah. Tapi mintalah pamanmu untuk segera kembali! Aku tidak mau berurusan dengan Doragonshadou!"
"Tentu saja!"
Dasar bodoh! Itu semua adalah bohong! Yukimura sedang berada di Jepang! Mana ada dia di China! Itu hanya rangkaian cerita palsuku!
Batin Zen tersenyum mengejek.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1