
Kedua anak muda yang sedang merasakan cinta itu terlihat begitu manis dan menggemaskan. Seperti marsmellow yang begitu manis dan memiliki warna-warni yang begitu menarik. Kedua remaja yang memiliki aura warna yang begitu cerah dan penuh energi.
"Hhm ... baiklah jika semua sudah seperti ini." Zen tersenyum mantap dan mulai meraih jemari Christal kembali lalu menatap lekat gadis berwajah mungil itu dengan senyum penuh dengan kebahagiaan. "Christal ... jujur saja ini adalah pertama kalinya aku berkata seperti ini kepada seorang gadis." imbuh Zen lagi tanpa beralih untuk tidak menatap sepasang manik-manik bening Christal.
"Christal ... maukah kamu menjadi cahayaku yang selalu menerangi malamku yang gelap? Maukah kamu menjadi pelangi untukku yang selalu mewarnai hari-hariku? Maukah kamu menjadi matahatiku yang selalu memberikan kehangatan untukku? Maukah kamu melengkapi hidupku dan menjadi salah satu bagian dari hidupku?" pernyataan tulus dan terdengar begitu manis semanis gulali dan permen kapas itu begitu menyihir Christal hingga hanya bisa membuatnya tersenyum dan mengangguk pelan.
Namun, terlihat ada air mata haru yang mulai membuat manik-manik indah itu menjadi berkaca-kaca dan menjadikannya semakin menawan. Hingga akhirnya air mata hangat itu mulai membasahi pipi Christal yang begitu putih, lembut dan halus itu.
Zen mulai tersenyum lebar setelah mendapatkan jawaban dari seorang gadis yang kini sudah bisa dikatakan adalah sebagai kekasihnya. Perlahan Zen mulai mengusap lembut pipi Christal untuk menyeka air mata itu.
Sedangkan Christal malah menunduk dan tak berani menatap lama wajah pemuda yang selama ini selalu dikaguminya itu. Mungkin rasa di dalam hatinya sedang berkecamuk menjadi satu.
Perasaan haru dan bahagia karena akhirnya mereka berdua bisa bersama dan saling mengetahui perasaan satu sama lain, perasaan sedih karena lusa Li Zeyan akan segera meninggalkannya dan akan segera kembali ke Beijing.
"Christal, lihatlah aku ..." pinta Zen yang terdengar begitu hangat dan menyejukkan hati.
Christal berusaha memenuhi pinta Zen dan mulai mendongak. Mungkin Christal masih merasa begitu malu saat ini, karena ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan manis dari seorang pria. Terlebih pria itu adalah Li Zeyan.
"Apakah wajahku terlalu buruk hingga kau tak mau melihatku?" ucap Zen menggoda Christal dengan nada jenaka dan sedikit tersenyum tipis. "Dan ... mengapa kamu malah menangis seperti ini?"
"Apa kau sedang bercanda, Li Zeyan? Bagaimana mungkin wajahmu buruk? Kau sangat bersinar! Semua gadis hampir tak ada yang tidak menyukai dirimu." sahut Christal sedikit menggurutu dan cemberut. "Kulitmu bahkan lebih sehat dan mulus dariku ..."
__ADS_1
Zen tertawa renyah mendengar ucapan dari Christal yang menurutnya malah terdengar begitu lucu dan menggemaskan.
"Tapi bagiku adalah kau yang lebih bersinar jika dibanding dengan diriku. Seperti namamu ... Christal. Sebuah batu permata yang begitu indah dan berharga, bersinar dengan indah dan penuh dengan warna." ucap Zen dengan seulas senyum
Wow ... ternyata Zen bisa begitu manis dan romantis ketika bersama dengan seorang gadis. Dan mungkin saja karena selama ini dia selalu berkecimpung di dalam dunia entertaiment. Yang mengharuskan dia sering berakting dan menjalankan beberapa peran dengan genre romantis.
Mendengar ucapan dari Zen, membuat Christal menjadi tersipu kembali dan wajahnya kini menjadi sedikit merona.
"Terima kasih, Li Zeyan." ucap Christal dengan tulus. "Nama itu adalah pemberian dari mendiang ibuku ..."
"Maaf jika sudah membuatmu kembali mengingat ibumu dan membuatmu kembali bersedih, Christal."
Zen mengangguk pelan dan tersenyum sepakat dengan ucapan Christal, "Hmm ... kau benar sekali, Christal." ucapnya begitu hangat. "Besok aku akan menjemputmu. Kita akan ke Tokyo Skytree bersama."
"Hhm. Iya ..." Christal menyauti penuh binar. "Dan ... ada satu tempat lagi yang ingin aku kunjungi bersamamu."
"Katakan saja ... kau mau kemana? Aku akan menemanimu selagi aku bisa."
Entah mengapa pandangan, senyuman, dan ucapan dari Li Zeyan terdengar begitu lembut dan hangat. Meskipun salama ini Li Zeyan memang memiliki pribadi yang begitu hangat dan lembut, namun kali ini semuanya menjadi lebih begitu hangat.
"Aku mau pergi ke pantai ..." ucap Christal dengan begitu hati-hati. "Apa kamu mau menemaniku, Li Zeyan?"
__ADS_1
"Hhm. Tentu saja aku akan menemanimu. Tapi sebelum itu aku akan meminta ijin kepada tuan Kagami Jiro terlebih dahulu." sahut Zen yang tak bosan untuk menatap gadis di hadapannya saat ini.
"Baiklah. Kak Jiro sedang berbelanja untuk keperluan Rui. Karena Rui akan tinggal bersama dengan kami di rumah ini. Mungkin kamu bisa menemuinya besok, sebelum kita pergi bersama." ucap Christal menjelaskan.
"Baiklah. Besok aku akan datang lebih awal untuk meminta ijin kepada tuan Kagami Jiro." Zen menyauti dengan bersemangat. "Ehm ... jadi Rui akan tinggal bersama dengan kalian?"
"Yeap. Tuan Kin Makoto bahkan sudah mengijinkan Rui untuk tinggal di rumah besar Kagami. Dan Rui juga bersedia untuk tinggal bersama dengan kami." Christal tersenyum lebar dan terlihat begitu bahagia, karena ternyata Christal memiliki seorang keponakan yang cantik dan cerdas seperti yang sudah diceritakan oleh Yukimura dalam beberapa waktu lalu.
Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, namun Christal pernah melihat fotonya di galeri ponsel Kagami Jiro. Dan Christal juga mengakuinya, jika Rui memanglah sangat manis dan begitu lucu dan menggemaskan.
"Syukurlah jika memang begitu. Aku juga merasa lega dan tenang, karena Rui bisa bertemu dengan tuan Kagami Jiro dan bisa berkumpul dengan keluarga besar Kagami." sahut Zen mulai teringat kembali dengan sosok gadis kecil itu. Gadis kecil yang begitu manis dan cerdas yang baru saja ditemuinya beberapa pekan yang lalu.
"Rui adalah gadis kecil yang begitu manis dan cerdas. Bahkan saat itu dia bisa menjelaskan permainan dart dengan sangat baik." imbuh Zen begitu takjub dan kembali teringat kejadian malam itu di rumah besar Kin.
Christal yang mendengarkan ucapan Zen, mulai mengkerutkan keningnya karena sedikit kebingungan. Karena setahu Christal adalah Zen belum pernah bertemu dengan Rui sebelumnya. Yang pernah bertemu dengan Rui adalah Kagami Jiro, Yukimura dan Yuna.
"Li Zeyan ... tapi kapan kamu pernah bertemu dengan Rui sebelumnya? Dan kapan dia menjelaskan permainan dart kepadamu?" tanya Christal begitu kebingungan.
"Di malam saat Rui sedang berulang tahun, sepupunya bermain dart dengan sembarangan. Dan gadia kecil Rui terlihat behitu lucu saat mengkritik permainan dari Sasaki saat itu." Zen tertawa kecil mengingat Rui saat itu.
Dan kini Zen melupakan sesuatu, jika saat itu Zen sedang berada di dalam tubuh Kagami Jiro!
__ADS_1