
Zen mulai mendorong penutup bagasi dengan pelan dan mengintai keadaan sekitar. Perlahan dia mulai keluar dari dalam mobil itu dan masih berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh para penjaga itu.
Karena jika sampai ketahuan, itu akan sangat membahayakan Christal dan Kagami Jiro yang saat ini sudah berada pada sarang para berandalan itu.
Benar seperti ucapan dari Kagami Jiro beberapa saat yang lalu. Ada 3 orang pria penjaga disini dengan pakaian yang sama persis! Dengan memakai pakaian lengan panjang hitam dipadankan dengan celana bermotif army yang sedikit longggar, mereka juga mengenakan masing-masing masker dengan motif bergambar tengkorak.
Mereka mengawasi di titik-titik tertentu. Ada di arah jam 1 sedang bersembuyi di balik sebuah pohon matsu ( pohon pinus Jepang), lalu salah satu dari mereka di arah jam 4 di balik pohon hinoki ( pohon cemara ), dan terakhir di arah jam 9, seorang pria sedang berada di atas sebuah pohon.
Cckk ... lumayan juga perkiraan dan pengamatan bocah itu!
Batin Zen dengan seringai manis dan sudah mempersiapkan 3 shuriken. Yeap, Doragonshadou juga memiliki senjata seperti para ninja. Dan akan sangat berguna untuk menyerang jarak jauh tanpa menimbulkan suara keras seperti tembakan. Dan sebenarnya Zen mendapatkan beberapa senjata itu saat dia pergi ke pasar gelap saat bersama kak Kai saat kunjungan pertama ke Jepang.
Dan tentunya menyerang dengan shuriken tak akan membuat musuh yang sedang berada pada jarak yang tak terlalu jauh akan curiga. Coba saja jika menggunakan senjata api, pastinya dengan sekali tembakan, maka musuh lain akan langsung segera mengetahuinya. Dan ini sangat kurang efisien jika digunakan untuk penyerangan secara sembunyi-sembunyi seperti ini.
Yeap, shuriken adalah alah satu senjata paling terkenal dari dunia ninja. Ada banyak tipe shuriken, tapi yang paling awam yaitu berbentuk bintang dengan empat bilah pisau. Kegunaannya sangat bervariasi, tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang dialaminya. Misalnya sih seperti yang sedang dialami Zen saat ini..
Namun sebelum Zen mulai menyerang dengan shuriken itu, dia mulai melemparkan 3 buah bola plastik mainan berukuran cukup kecil masing-masing ke arah ketiga pria penjaga itu. Bola-bola itu sudah dia isi dengan serbuk hingga menjadikannya sebuah senjata untuk membutakan musuh sehingga Zen bisa melumpuhkannya atau bergerak dengan lebih leluasa.
__ADS_1
Setelah asap beracun itu terlihat mulai mengepul di sekitar para pria penjaga itu, kini Zen mulai menghempaskan ketiga shuriken itu dan berhasil tepat mengenai masing-masing pada pembuluh darah di leher mereka hingga akhirnya ketiga pria penjaga itu ambruk dan seketika tak sadarkan diri.
Dan sepertinya mereka bertiga sudah mati seketika. Sungguh, penyerangan yang lembut, tenang, namun sangat mematikan! Perfect!
"Ini seperti sebuah permainan dart! Seru sekali!" gumam Zen dengan senyum tipis.
Pria tampan bermata kebiruan itu kini melenggang kembali hingga akhirnya dia mulai melihat sebuah air terjun yang cukup besar, air terjun Shiraito no Taki. Namun tiba-tiba saja Zen menghentikkan langkah kakinya, kerena mendengarkan ucapan Kagami Jiro melalui ear pieces yang sudah terpasang manis pada kedua telinganya.
Christal, bertahanlah. Aku akan segera datang untukmu!
Terdengar ucapan lirih dari Kagami Jiro melalui ear pieces itu, dan membuat Zen terdiam sesaat.
Zen mulai melenggang kembali hingga akhirnya melihat sebuah danau kecil. Dan disini juga ada seorang pria penjaga di arah jam 3, tepat seperti yang sudah dikatakan oleh Kagami Jiro beberapa menit yang lalu.
Namun kedatangan Zen rupanya diketahui oleh pria penjaga itu. Bahkan pria penjaga itu sudah bersiap untuk menarik pelatuk senjata laras panjangnya dan mengarahkannya untuk membidik Zen.
Dengan cepat Zen mulai mengambil 2 buah shuriken kembali dan mengempaskannya dengan cepat hingga mengenai jemari yang sudah bersiap untuk menarik pelatuk itu dan juga salah satu shurikennya mengenai pembuluh darah pada leher pria itu, hingga akhirnya pria penjaga itu ambruk seketika sebelum berhasil meluncurkan sebuah peluru ke arah Zen.
__ADS_1
"Perfect! Keahlianmu tidak menurun, Jiro! Kelak kedua putramu juga harus lebih keren darimu, Jiro!" Kagami Jiro bergeming sendiri.
Setelah melewati danau kecil itu kini Zen mulai menyusuri sebuah jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan pinus. Namun tiba-tiba mulai terdengar percakapan mereka yang terdengar melalui ear pieces yang membuat Zen begitu terkejut dan menghentikkan langkahnya kembali.
Sebuah identitas dari sang boss yang kini sudah terbongkar dan sebuah kesalahan Kagami Jiro di masa lalu kepada seorang gadis, hingga akhirnya mereka berniat untuk membalasnya melalui Christal.
Zen mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya karena begitu tak tahan dengan semua itu. Bahkan kini dia mulai mendengar Kagami Jiro yang bersikeras untuk menukar dirinya dan menggantikan Christal, hingga akhirnya Christal mulai meninggalkan tempat itu.
"Bocah Li Zeyan! Kau sungguh anak yang baik! Aku akan membalas semuanya! Aku juga akan melindungimu! Tak akan aku membiarkan mereka melenyapkanmu begitu saja! Aku adalah Kagami Jiro! Yang terkuat dari yang terkuat! Aku akan melenyapkan Kin Izumi! Karena dialah yang menyerangku saat itu juga! Tato naga dengan sayap kehijauan pada lehernya sudah menjawab semua misteri saat ini! Dan rupanya dia menjadikan Yosuke sebagai kambing hitam untuk memecah belahkan kami? Bahkan dia juga mencuri cincin Yosuke dan menggunakannya untuk menjadikan Yosuke tersangka utama! Sungguh licik!!" geram Zen mulai melangkahkan kakinya kembali dan terus melenggang mengikuti jalan setapak itu.
Namun tiba-tiba saja Zen mulai melihat seorang gedis yang berjalan menyusuri jalan setapak itu sambil menangis dari arah yang berlawanan darinya. Dia membungkam mulutnya sendiri dengan punggung telapak tangannya, karena tangis itu tak bisa dia tahan dan tak bisa dia hentikkan.
"Christal ..." gumam Zen begitu lirih saat menyadari jika gadis itu adalah adiknya, Christal.
Ada perasaan lega dan bahagia karena bisa melihat Christal kembali dalam keadaan selamat seperti ini.
"Li Zeyan ... kaukah itu?" ucap Christal seakan tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat saat ini. "Kaukah itu, Li Zeyan?"
__ADS_1
Zen yang berdiri dengan berjarak kira-kira 10 meter dari Christal kini mengangguk pelan dan begitu terharu. Zen mulai membuka kedua tangannya dan membentangkannya lebar-lebar. Christal yang masih terisak akhirnya segera berlari ke arah Zen dan melempar dirinya ke pelukan Zen. Tangisnya mulai pecah kembali saat ini.