Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Terjebak Di Cangkang Lain


__ADS_3

PRAANNKK ...


Cermin lucu itu terlepas dari tangan Kagami Jiro dan kini terjatuh ke lantai hingga pecah menjadi beberapa kepingan.


"Tidak mungkin!" gumam Kagami Jiro sambil meraba-raba wajahnya sendiri. "Bagaimana semua ini bisa terjadi? Ini tidak mungkin!"


Kini Kagami Jiro mulai meraih sebuah ponsel yang masih tergeletak di atas meja. Dia menatap wallpaper ponsel itu cukup lama. Lalu mulai membuka gallery dari ponsel tersebut untuk melihat beberapa album foto.


"Tubuh ini adalah tubuh pria di dalam foto-foto ini ..." gumam Kagami Jiro terlihat begitu shock. "Kagami Jiro ... jadi itulah aku sekarang? Seorang pemimpin dari Yakuza terbesar di dunia Doragonshadou dan sudah memiliki istri bahkan memiliki anak kembar? Oh My!"


Kagami Jiro kembali membuka beberapa kancing pakaiannya untuk memastikan tato-tato itu kembali.


"Masih ada? Bahkan otot-otot ini juga sangat nyata." kini dia meraba tubuh bagian depannya dan juga lengannya. "Tubuh ini ... tato dan otot-otot ini sangat nyata. Perkasa sekali tuan Kagami Jiro. Tapi ... apa yang harus aku lakukan dengan tubuh ini?"


DDRRKK ...


Kini Yuna kembali memasuki ruangan dengan senyum lebar, "Sayang. Ayo saatnya mandi. Aku akan membantu memandikanmu."


"Apa? Memandikanku?" tanya Kagami Jiro begitu shock. Dia membelalakkan mata cukup lebar menatap Yuna tak percaya.


"Iya. Selama ini kan juga aku yang memandikanmu saat koma."


"Serius? Kamu melakukan semua itu padaku?" tanya Zen dengan wajah yang sedikit merona dan masih tidak percaya.


Sedangkan Yuna malah terkekeh melihat ekspresi lucu dari Kagami Jiro, "Tentu saja aku yang selalu melakukannya. Tidak mungkin aku membiarkan para perawat menyentuh dan memandikanmu."


...⚜⚜⚜...


Pagi-pagi sekali terlihat empat pemuda mendatangi sebuah appartement elite Oakwood Residence Damei Beijing. Mereka mengunjungi sebuah kamar dan mulai menunggu di ruang tamu.


Ekpresi mereka berempat terlihat begitu memelas dan seperti sedang mengharapkan belas kasihan. Dua orang perpakaian rapi sudah berdiri di dekat mereka untuk memantau mereka.


Tak lama kemudian terdengar ritme teratur dari suara langkah kaki dua atau tiga orang menuju ruang tamu.


"Siapa yang bertamu sepagi ini, Vann?" terdengar suara seorang pria yang begitu menawan beriringan dengan derap langkah berjalan mendekati ruang tamu.

__ADS_1


"Teman-teman kuliah, Tuan Zen." jawab Vann dengan sopan.


"Teman kuliahku? Bai Xi?" Zen mencoba menebak-nebak.


"Bukan, Tuan ..." jawab Vann dengan nada rendah.


Kini langkah kaki mereka mulai membawa mereka ke ruang tamu. Zen mulai menatap keempat pemuda itu secara bergantian. Keningnya berkerut sesaat, namun tiba-tiba saja Zen tersenyum misterius.


Perlahan Zen mulau duduk di kursi di depan mereka berempat. Zen menyandarkan badannya dan mengangkat kaki kanannya di atas kaki kirinya. Senyuman manis bak setan mulai menyembul di bibirnya, karena Kagami Jiro tentu bisa membaca dan mengetahui maksud kedatangan mereka berempat.


"Langsung to the point saja! Karena aku harus segera bergegas!" ucap Zen dengan lantang dan sinis.


"Zen ... begini ... maksud kedatangan kita kemari adalah ..." ucap salah satu diantara mereka dengan pelan dan terlihat seperti ragu-ragu.


"Berbicaralah seperti seorang pria jantan, Zhang Wei!" tandas Zen sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum sinis menatap pemuda bernama Zhang Wei itu.


"Maksud kedatangan kami adalah untuk meminta maaf padamu, Zen." ucap Sang Yuan Yi menyela. "Maafkan kami yang sudah memberikan tuduhan palsu itu. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Cckk ..." Zen tersenyum sinis menatap Sang Yuan Yi. "Giliran tidak bisa berbuat apa-apa kalian bermanis-manis di depanku." imbuh Zen meremehkan.


"Benar. Tolong cabut gugatan itu, Zen!" imbuh Lee memohon.


Mereka bertiga memohon dan berharap Zen akan memaafkan mereka serta mencabut gugatan itu. Hanya Zhang Wei yang masih terdiam dan mengepalkan kedua tangannya.


Zen kembali menatap sinis Zhang Wei, "Bagaimana denganmu, Zhang Wei?"


"Ma-maafkan aku, Zen!" ucap Zhang Wei dengan begitu berat.


"Keuntungan apa yang akan aku peroleh jika aku mencabut gugatan ini?" Zen tersenyum sinis mereka berempat secara bergantian.


"Kami akan menjadi ..." ucap Sang Yuan Yi yang tiba-tiba terhenti karena Zhang Wei menepuk bahunya.


"Kami berjanji, tidak akan mengulanginya lagi. Dan kami tidak akan mengganggumu lagi!" ucap Zhang Wei dengan tegas.


Kini Zen malah tertawa kecil setelah mendengar perkataan dari Zhang Wei. Mungkin terdengar seperti sebuah lelucon atau sesuatu yang sering kali dipakai untuk membujuk seorang anak kecil yang masih polos.

__ADS_1


Hallo Zhang Wei!! Saat ini kau sedang menghadapi jiwa seorang Kagami Jiro, seorang pemimpin gangster nomor satu di dunia Doragonshadou yang terkenal sangat kejam dan bengis! Kau tidak akan bisa memainkan tipuanmu lagi!


"Lalu bagaimana kalian mengembalikan namaku yang sudah kalian coreng begitu saja? Hah ... sudahlah ... pilih saja salah satu! Penjara atau denda!" imbuh Zen lalu melirik jam tangannya yang melingkar manis di tangan kirinya.


"Aku harus pergi! Aku sudah ditunggu seseorang." ucap Zen lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Zen, tunggu! Tolong pikirkan lagi!" sergah Sang Yuan Yi. "Uang sebanyak itu, darimana kita dapatkan?"


"Ya sudah berarti masuk penjara saja!" ucap Zen dengan santai dan kembali melenggang beberapa langkah dengan gagahnya.


"Zen. Aku mohon! Sekali ini saja maafkan kami!" ucap Lee dengan memelas dan mengejar lalu menahan lengan Zen sehingga membuat Zen tertahan.


"Benar! Kami berjanji akan selalu berbuat baik padamu!" imbuh Lin Fang.


"Bocah! Masih untung aku tidak mematahkan tulang-tulang kalian!" ucap Zen dengan kesal dan menghempaskan tangan Lee dengan kasar. "Aku tidak mau tau! Jika tidak mau masuk penjara, maka dapatkan uang itu!" imbuh Zen dengan tegas.


"Kalian sudah berani bermain-main denganku! Maka harus berani menerima konsekuensinya!" imbuh Zen dengan seringai manis menatap mereka satu per satu. "Yunxi, Vann. Bereskan mereka! Kak Kai sudah menungguku di bawah!" imbuh Zen lalu melenggang meninggalkan mereka.


"Baik, Tuan!" sahut Yunxi dan Vann bersamaan.


Sementara itu, Zhang Wei masih menatap tajam kepergian Zen dengan kedua tangan mengepal. Sepertinya amarah Zhang Wei kini kian meledak, sorot matanya dipenuhi dengan kebencian dan dendam yang membara.


...⚜⚜⚜...


"Mengapa begitu lama?" protes kak Kai setelah Zen datang.


"Ada sedikit gangguan di appartement. Zhang Wei dan yang lainnya datang ke rumah." jawab Zen dengan begitu santai sambil membaca koran pagi. Sementara kak Kai masih mengemudikan mobil dengan kecepatan teratur.


"Apa mereka memintamu untuk mencabut tuntutan?"


"Benar sekali! Tapi sayang, aku tidak bisa membiarkan mereka kali ini. Zhang Wei dan yang lainnya harus diberi pelajaran! Perbuatan mereka sungguh keterlaluan!"


Kak Kai tersenyum tipis dan sedikit melirik Zen, "Pilihan yang bagus!"


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2