Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Misteri Kotak Keemasan


__ADS_3

Suasana begitu hening di dalam sebuah ruangan yang bernuansa cream keemasan itu. Seorang wanita dewasa terlihat sedang duduk di sebuah kursi kerjanya dan sedang menunggu sebuah jawaban yang membuatnya puas.


Sementara dua pria yang masih cukup muda sedang duduk di seberang wanita itu yang hanya berbataskan meja. Salah satu pria itu terlihat begitu serius, sementara salah satunya terlihat begitu santai tanpa beban.


"Jadi apa yang membuatmu datang terlambat kali ini?" tanya wanita itu kembali memecah keheningan. Dari cara bicara sangat mudah diketahui, jika dia adalah wanita yang tegas dan disiplin.


"Ada sedikit masalah. Aku tak sengaja memasuki Shadow Forest yang terletak di belakang kampusku." jawab salah satu pria dengan sepasang mata kebiruannya yang begitu mempesona. Berkilauan terkena cahaya senja yang menyelinap memasuki ventilasi kaca dari ruangan ini. Yeap, siapa lagi kalau bukan Zen pemilik mata indah itu.


"Shadow forest?" ucap wanita itu dan pria yang duduk disamping Zen bersamaan.


Mereka berdua terlihat begitu terkejut setelah Zen menyebut hutan itu. Mata mereka berdua membelalak menatap Zen seakan tak percaya Zen nekat memasuki hutan itu.


"Hhm." jawab Zen dengan singkat dan datar.


"Apa yang membawamu memasuki hutan itu?" tanya kak Kai begitu penasaran.


"Aku melihat ada teman kuliahku memasuki hutan itu. Dan aku mendengar sedikit mitos tentang hutan bayangan. Jadi aku mengikutinya, aku khawatir dia akan menghilang juga. Maaf ... gara-gara bertindak ceroboh, aku jadi terlambat." ucap Zen menurunkan intonasinya.


"Kamu sangat pemberani dan berjiwa luar biasa!" ucap wanita yang tak lain adalah nyonya Yang. Dia juga terlihat begitu takjub menatap Zen.


"Hhm ..." Zen menyauti dengan senyum tipis saja.


Aku tidak boleh keceplosan dan memberitahu soal aku yang sudah menemukan kerangka manusia itu. Aku akan memastikan semua terlebih dahulu sebenarnya ada apa di balik semua ini? Hhm ...


Batin Zen sambil membenarkan posisi duduknya.


"Untung saja kalian bisa keluar dari hutan itu! Hutan itu terkenal sangat angker dan penuh hal mistis. Bahkan kata keponakanku, dua tahun lalu dikabarkan ada seorang mahasiswi seni menghilang secara misterius." ucap nyonya Yang.


"Hhm. Memang benar ..." sahut Zen datar.


"Baiklah. Kita lanjutkan saja schedule hari ini. Segera ke ruang make up dan berganti pakaian. Hari ini hanya pemotretan untuk beberapa produk." ucap nyonya Yang sembari meraih sebuah file di atas mejanya.


"Baiklah. Kalau begitu kami permisi!" Ucap kak Kai dengan ramah lalu segera bangkit bersama Zen.


Keduanya mulai melenggang meningalkan ruangan itu. Tapi Nyonya Yang terus menatap kepergian mereka berdua dengan tersenyum tipis.


.


.


.


.


.


"Kenapa memasuki hutan bayangan begitu saja? Kau tau itu sangat berbahaya untukmu, Zen!" ucap kak Kai saat keduanya dalam perjalanan ke ruang make up.


"Aku hanya takut gadis itu dalam bahaya. Dia memasuki hutan terlarang begitu saja. Jadi aku mengikutinya."

__ADS_1


"Lain kali jangan bertindak sembrono lagi! Kamu adalah idol besar! Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?"


"Huft ... baiklah akan aku usahakan!" jawab Zen sedikit cuek. "Oh ya ... apakah benar bulan depan akan ada konser tour ke Tokyo?"


"Hhm ... iya. Kamu persiapakan saja beberapa dari lagumu."


"Menyanyi? Apa menari?"


"Keduanya ... " jawab kak Kai dengan santai.


"Aku tidak bisa menari! Sudah kubilang setelah kecelakaan itu aku sudah banyak kehilangan talentaku! Bahkan aktingku juga semakin buruk bukan?" kini Zen sedikit melirik kak Kai dan mengerutkan keningnya.


"Kakak tau. Kalau tidak bisa menari, pilih saja lagu mellow ..."


"Lip-sync boleh? Aku takut aku masih sedikit kacau ..." kilah Zen mencari alasan.


"Seburuk itukah kecelakaan itu bagimu Zen? Sehingga semua talentamu banyak yang yang menghilang?" tanya kak Kai sedikit melirik Zen dan juga mengkerutkan keningnya.


"Hhm. Bisa dibilang seperti itu."


Kak Kai sedikit mendengus setelah mendengar jawaban dari Zen.


...⚜⚜⚜...


Bulan dan bintang mulai menghiasi langit gelap di malam hari ini. Angin malam juga berhembus begitu dingin hingga menusuk tulang. Gedung-gedung tinggi dan mewah terlihat begitu memukau dengan cahaya dari lampu-lampu yang berkelap-kelip warna-warni. Menjadikan kota Tokyo begitu indah dan sangat memukau.


Di dalam sebuah kamar yang terlihat begitu rapi dan elegant, terlihat seorang pria dewasa sedang terduduk di meja kerjanya. Dia terlihat sedang menimang-nimang sebuah kotak kecil berwarna keemasan.


"Sebenarnya apa isi di dalamnya?" gumam pria dewasa itu begitu penasaran.


Perlahan jemari-jemari kanannya yang berukuran begitu besar meraih penutup dari kotak itu. Namun belum sampai pria itu menyelesaikan niatnya, tiba-tiba saja pintu kamar mulai terbuka. Dengan cepat dia segera menyimpan kembali kotak keemasan itu di dalam saku pakaiannya.


Terlihat seorang wanita dewasa yang begitu cantik mulai berjalan sempoyongan memasuki kamar. Dia mengenakan sebuah dress panjang press body tanpa lengan silver, bahkan dress itu memiliki design begitu rendah di bagian dada.


"Kak Yuna ..." gumam pria dewasa yang tak lain adalah Kagami Jiro yang kemudian mendekati Yuna untuk membantunya berjalan dan memapahnya.


"Mengapa pulang begitu malam dan mabuk seperti ini?" tanya Kagami Jiro terlihat begitu khawatir.


"Hanya pergi ke pesta ulang tahun teman saja kok." sahut Yuna sambil melirik suaminya dengan mata yang sedikit terpejam dan tersenyum lebar.


"Mengapa tidak mengajakku? Padahal aku sudah pulang kontrol dari sore tadi." ucap Kagami Jiro lagi sedikit mengkhawatirkan Yuna.


"Tidak, Sayang. Kamu belum sepenuhnya sembuh. Aku hanya pergi sebentar saja kok. Dan Igor juga mengantarku." sahut Yuna yang kini hampir ambruk, tapi dengan cepat Kagami Jiro menangkap tubuh Yuna hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Hati-hati ... kamu bisa terluka." ucap Kagami Jiro pelan.


"Uumh ... aku rindu sekali aroma ini." ucap Yuna sambil mengendus-endus pakaian Kagami Jiro dan semakin membenamkan kepalanya pada dada bidang Kagami Jiro.


"Ah i-iya ... aku memakai parfum yang berada di meja rias." sahut Kagami Jiro sedikit tergagap.

__ADS_1


"Uhm. Iya ... ini adalah parfum kesukaanmu, Sayang. Aku merindukan saat kau memakainya. Rindu sekali ..." kini Yuna sedikit mendongak menatap suaminya dan kembali tersenyum lebar. "Aku juga sangat merindukan tangan pengembara dan mulut genitmu, Sayang." imbuh Yuna yang sukses membuat Kagami Jiro membelalakkan mata dan wajahnya mulai merona.


"Apa kau tidak merindukanku sama sekali, Suamiku?" ucap Yuna dengan nada manja, kini Yuna mulai menjentik-jentikkan telunjuknya pada bagian depan tubuh Kagami Jiro.


Seketika Kagami Jiro terlihat begitu kebingungan dan mulai menangkap tangan Yuna yang sedang berusaha untuk merayunya. Sebenarnya Kagami Jiro KW merasa sedikit ketakutan. Yeap, ketakutan jika sampai tergoda dan khilaf begitu saja.


Bayangkan saja mereka berdua berada di dalam satu kamar dengan status suami istri. Sedangkan paras cantik Yuna dan pakaian Yuna begitu menggoda kaum pria. Dress dengan design press body yang memperlihatkan lekuk tubuh dari Yuna dengan postur bak gitar spanyol, ditambah design yang begitu rendah di bagian depannya. Ditambah lagi Yuna terlihat selalu menggodanya. Lelaki mana yang bisa menahan semua ini? Seperti sebuah kesempatan emas.


Namun tentu saja jiwa Zen juga selalu mengingat permintaan dari Yukimura agar selalu menjaga agar hal itu tidak terjadi.


"Yuna ... tentu saja aku juga merindukanmu. Namun sebaiknya kamu beristirahat sekarang. Kamu sedang mabuk saat ini." ucap Kagami Jiro berusaha menepis lembut kedua tangan Yuna.


"Tidak. Aku sangat merindukanku ..." ucap Yuna yang kini hampir saja terjatuh lagi. Lagi-lagi Kagami Jiro segera meraih tubuh ramping itu.


"Ugh ..." Yuna kini sedikit mundur, dia mengerutkan keningnya dan memijat keningnya sebentar.


"Beristirahatlah dulu ..." kini Kagami Jiro mulai memapah Yuna kembali menuju pembaringan dan membaringkannya.


Kagami Jiro membantu melepas high heels yang masih Yuna kenakan saat itu. Kemudian dia memberikan selimut untuk Yuna.


Saat Kagami Jiro hendak meninggalkan Yuna, dengan cepat Yuna segera meraih tangan Kagami Jiro.


"Jangan pergi lagi ... tolong tetaplah disini ..."


...⚜⚜⚜...


Bersambung dulu ya ...


Bonus part lucu behind the scene


Reader : Apa yang sudah terjadi malam itu? Apa yang sudah Yuna dan Jiro Zen lakukan? Jelaskan kepada kami!


Jiro Zen: Aku tidak tau apa-apa. Jangan salahkan aku ...


Yuna : Aku juga tidak tau apa-apa. Aku sedang mabuk. Lagian apa salahnya? Dia suamiku.


Yukimura : Matilah kau, Kagami Jiro palsu!!


Jiro Zen : Jangan salahkan aku ... aku hanya MC disini. Salahkan saja author ... ( Berbicara dengan lembut)


Zen Jiro : Matilah kau, Yukimura!! ( Berbicara dengan wajah memerah padam)


Yukimura : Tenanglah, Sahabatku. Ini adalah ulah author! Mari bersama kita demo author! Mengapa dia sampai membuat kita terpecah belah seperti ini? Dendam apa dia kepada kita?


Christal : Jangan demo author- nya! Aku masih belum berjumpa dengan idolaku.


Kai : Dan aku masih belum membalaskan dendamku.


Ley Bixing : Dan aku juga masih belum membersihkan namaku!

__ADS_1


Author : Matilah aku diserang sama mereka. Kabur!!!.🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2