
Yuna hanya menatap Zen dengan bingung dan mengernyitkan keningnya. Bukan amarah atau kesal seperti biasanya, namun ekspresi Yuna kini lebih seperti sebuah rasa penasaran.
"Uhm ... maaf ..." ucap Zen dengan cepat lalu menggaruk telinga kirinya dan kembali duduk dengan tegap.
Yuna semakin dibuat melongo oleh sikap Zen yang sangat mirip dengan suaminya. Kagami Jiro akan selalu menyentuh telinga kirinya jika dia sedang berusaha menutupi sesuatu.
"Siapa kau sebenarnya?" pertanyaan itu terlontar kembali dari bibir kemerahan Yuna yang sangat mungil itu.
"Aku?" Zen menunjuk dirinya sendiri dan menatap Yuna dengan bingung. "Tentu saja aku adalah Li Zeyan. Memang siapa lagi aku?"
Setelah mengamati Zen cukup lama dengan tajam akhirnya Yuna mengibas-ngibaskan tangannya, "Ah ... sudahlah! Lama-lama aku bisa gila! Sekarang cepat berangkat!" perintah Yuna yang mulai menatap lurus ke depan dengan ekspresi begitu serius.
Zen yang mengamati Yuna tak bisa menahan tawanya karena melihat tingkah lucu dari istrinya. Tawanya pecah begitu saja, namun Zen segera menghentikkan tawanya karena Yuna segera memelototinya saat ini.
"Jalankan mobilnya!" titah Yuna dengan cukup tegas.
"Baik ... baik ..."
Zen mulai memasukkan kunci dan segera memutar kunci itu untuk menghidupkan mobil yang sangat mewah itu.
BBRRUUMM ...
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya saling terdiam. Namun Yuna masih saja memperhatikkan dan mengamati gerak-gerik Zen karena masih belum menemukan jawaban yang membuatnya puas.
Cara dia mengemudikan mobil juga mirip sekali dengan suamiku ... gerakan dan semua bahasa tubuhnya ... semuanya sama persis. Dia juga selalu saja melirik jam tangan disaat mengemudi. Semua karena kebetulan ataukah memang karena ada sesuatu? Aku masih belum menemukan jawaban yang aku mau!
Batin Yuna yang terus mengawasi Zen dengan wajah serius dan waspada.
"Nyonya. Sampai kapan mau mengawasiku seperti itu?" celutuk Zen dengan senyum tipis dan masih fokus mengemudikan mobil.
Sementara Yuna menjadi sedikit tergagap dan segera mengalihkan pandangannya ke depan lagi.
"Jangan katakan nyonya mulai menyukaiku ... atau tuan Kagami Jiro akan benar-benar mematahkan tulang-tulangku." ucap Zen dengan nada jenaka.
Mendengar ucapan Zen, tentu saja Yuna menjadi kesal kembali. Dia mulai menatap Zen dengan tajam.
"Mimpi! Mana mungkin aku menyukai bocah sepertimu!"
Zen tertawa lepas mendengar ucapan Yuna.
__ADS_1
"Itu semua terdengar sangat bagus, Nyonya. Tuan Kagami Jiro sangat beruntung sekali bisa memiliki istri seperti nyonya." puji Zen dengan tulus.
"Mengapa hari ini kau terus saja memanggilku nyonya? Biasanya kau hanya memanggil namaku?" tanya Yuna tiba-tiba. "Tapi memang seharusnya begitu sih. Itu baru benar!" tandas Yuna bahkan tidak memberikan kesempatan untuk Zen menjawab.
"Hhm. Memang seharusnya seperti itu." kini Zen menghentikkan mobilnya karena lampu rambu-rambu lalu lintas sedang memancarkan warna merah menyala. Kebetulan mobil mereka berhenti tepat di sisi samping.
Tiba-tiba di sisi samping terlihat seorang pria tua yang sedang di kepung oleh beberapa preman. Dan sepertinya preman-preman itu sedang ingin memalak pria tua itu. Tanpa meminta persetujuan dari Yuna, kini Zen sedikit menepikan mobil itu.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Yuna kebingungan.
"Aku akan turun sebentar dan jangan keluar dari mobil!" setelah mengucapkannya, kini Zen segera turun dari mobil mewah itu.
Zen terus melenggang mendatangi para berandalan yang sedang berusaha memalak seorang pria tua.
Sementara Yuna hanya mengawasinya dengan bingung. Dia menyaksikan Zen dari kejauhan tanpa bisa mendengar percakapan mereka.
"Cepat serahkan uang itu, Kakek tua!" hardik seorang berandalan sembari merebut dompet pria tua itu.
"Jangan! Tolong jangan ambil! Uang itu untuk biaya anakku berobat." sahut pria tua itu dengan berbicara sedikit ketar ketir.
Ketiga preman itu tak menanggapinya dan malah asyik menghitung isi uang di dalam dompet itu.
"Hah ... memang miskin! Hanya ada 10.000 yen!" setelah mengambil beberapa lembar uang itu, preman itu melempar dompet itu dan mengenai kepala pria tua itu.
Ketiga preman itu segera melengos ke arah Zen dengan kesal dan tersenyum meremehkan. Tentu saja mereka mereka begitu meremehkan Zen, karena secara visual sungguh tidak terlihat jika Zen sangat hebat dalam pertarungan. Apalagi Zen terlihat seperti pria ikemen.
"Bocah? Siapa yang kau panggil bocah?!" timpal salah satu preman itu yang mulai melenggang mendekati Zen.
"Kembalikan uang itu dan aku akan biarkan kalian tetap utuh dan tidak cacat!" timpal Zen penuh penekanan.
Ketiga preman itu seketika tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan dari Zen.
"Coba saja lakukan kalau kau bisa!" tantang preman itu dengan penuh percaya diri.
"Baiklah jika itu mau kalian! Tapi aku ingatkan sekali lagi! Biaya untuk patah tulang di rumah sakit di sekitar sini cukup mahal lo!" celutuk Zen.
"Sialan! Jangan pernah meremehkan kita! Kita adalah penguasa daerah sini! Apa kau tidak tau Doragonshadou? Aku adalah pemimpin dari Yakuza itu! Aku adalah Kagami Jiro!" ungkap preman yang kini berdiri tepat di hadapan Zen.
Sepasang mata kebiruan milik Zen membulat sempurna karena begitu terkejut tiba-tiba ada preman jalanan yang mengaku sebagai dirinya. Kini Zen mulai menyeringai menakutkan. Zen mulai menendang tempat sampah yang terletak tak jauh darinya dan menabrak preman itu hingga preman itu terlempar begitu saja.
__ADS_1
BBRAAKK ...
Selanjutnya seorang preman mulai berlari untuk menyerang Zen, namun dia segera menedang dada preman itu dengan gaya bertarung seorang Kagami Jiro yang terlihat begitu santai. Kedua tangan masih bersih dan tersimpan dengan rapi pada saku celananya.
DDUUAAKK ...
BRRUUGGH ...
Preman terakhir memasang kuda-kuda dan berulang kali melayangkan tinjunya untuk mencapai Zen, tapi selalu saja meleset. Dengan gerakan cepat, Zen segera melayangkan bogemnya untuk mengincar dagu preman itu.
DUUAAGGHH ...
Zen segera melenggang mendekati si boss preman yang masih terbaring karena kesakitan. Kemudian Zen jongkok untuk mengambil uang hasil rampasan preman itu yang tadi disimpannya di saku pakaiannya.
"Kalian jangan sekali-kali berani bermain-main dengan menggunakan nama Doragonshadou! Atau lain kali bukan hanya patah tulang! Tapi mereka juga akan mengirimmu ke neraka!"timpal Zen dengan garang. "Apa kau paham?!"
"I-iya ... paham. Maafkan kita ..."
...⚜⚜⚜...
...Hallo sahabat Never Say Good Bye. Author ingin menyapa sebentar ya....
...Apa kabar sahabat semua? Semoga sahabat semua dalam keadaan sehat wal'afiat ya. Aamiin ......
...Maaf jika up nya masih kurang maksimal dan masih ada banyak kekurangan. Karena selama beberapa hari ini author sedang kurang fit. Semoga ke depannya bisa membuat cerita ini semakin menarik....
...Ikuti selalu kisah Zen dan Jiro ya ......
...Jangan lupa selalu dukung Never Say Good Bye ya. Dengan :...
...Like...
......Comment......
...Klik "Favourite"...
...Vote...
...Gift bila mampu...
__ADS_1
...Rate...
...Terima kasih sahabat semua. Salam hangat dari author Anezaki Igarashi Ricky....