
Malam yang begitu dingin dan mencekam di salah satu rumah sakit terbesar di Tokyo, St. Luke's International Hospital. Angin malam di musim dingin terasa begitu menusuk hingga sampai ke tulang.
Kepingan-kepingan salju yang begitu putih dan berkilauan terus menuruni dan membasahi bumi, menjadikan bumi seakan berselimut tebal dengan salju yang putih dan berkilau itu.
Di sebuah koridor rumah sakit terlihat seorang pria dewasa dengan bekas luka pada wajahnya sedang duduk di kursi stailess. Sementara seorang wanita dewasa yang terlihat begitu khawatir sedang berjalan mondar-mandir sedari tadi.
"Maaf, Yuna. Aku tidak bisa melindungi Jiro dengan baik." ucap Yukimura yang terlihat begitu menyesal, dan ucapan itu begitu tulus dari lubuk hatinya.
"Mengapa suamiku bisa sampai lengah lagi seperti ini? Aku takut kejadian seperti saat itu terulang kembali, Yukimura." sahut Yuna menggigit ibu jarinya dan masih terlihat begitu khawatir.
"Aku sungguh minta maaf, Yuna. Seharusnya aku yang harus lebih siaga. Namun aku malah meningalkannya di dalam mobil. Maaf ..." ucapan Yukimura terdengar begitu memilukan, karena sebenarnya dia juga begitu khawatir terhadap Zen ataupun Kagami Jiro. Jiwa dan raga itu sudah saling menyatu satu sama lain, dan menjadikan keduanya saling bergantung satu sama lain.
Kagami Jiro sempat mengalami pendarahan karena penusukan itu, dan saat ini rumah sakit sedang melakukan transfusi darah untuknya serta mensterilkan luka tusuk itu.
Di sepanjang waktu menunggu, keduanya terlihat begitu gelisah dan khawatir. Alunan musik yang berasal dari ponsel Yuna, kini memecah keheningan. Dengan lesu Yuna segera mengambil ponsel dari dalam sling bag berwarna putih miliknya.
"Halo, Ayah mertua." sapa Yuna dengan nada rendah.
"Yuna, bagaimana keadaan putraku?" terdengar suara besar dan sedikit serak seorang pria dari seberang line.
"Dokter masih berada di dalam untuk melakukan transfusi darah dan juga mensterilkan lukanya Jiro, Ayah mertua." jawab Yuna yang terdengar sedikit kurang bersemangat.
"Besok pagi papa akan sampai di Yokohama bersama Yosuke. Tolong temani dan jaga Jiro, Yuna."
"Tentu saja, Ayah mertua. Aku akan selalu menemaninya." jawab Yuna seadanya, dan tentunya Yuna akan selalu menemani suaminya. Terlebih disaat-saat seperti ini.
__ADS_1
"Ya sudah. Hati-hati disana." ucap Kagami Gumi dengan hangat.
"Hhm. Baik, Ayah mertua."
Panggilan itu mulai diakhiri oleh Kagami Gumi dari seberang. Dan Yuna juga segera menyimpan kembali ponselnya di dalam sling bag-nya.
Beberapa saat seorang dokter dan perawat mulai keluar dari kamar rawat Kagami Jiro. Yeap, Kagami Jiro baru saja dipindahkan ke kamar rawat setelah melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan.
"Dokter. Bagaimana keadaan suami saya?" Yuna tak sabar dan segera menghampiri seorang pria dengan almamater putih kebanggaannya, yang baru saja keluar dari ruangan rawat Kagami Jiro.
"Transfusi darah sudah berhasil dilakukan, dan luka sudah disterilkan, Nyonya. Saat ini tuan Kagami Jiro sedang beristirahat. Dia akan baik-baik saja dan akan segera sadar kembali." ucap pria dengan almamater putih itu dengan begitu ramah.
Yuna menghembuskan napas penuh kelegaan dan memegangi dadanya, "Terima kasih, Dokter." ucapnya begitu lega.
"Sama-sama, Nyonya." dokter itu menyauti dengan begitu ramah.
"Tentu saja boleh, Nyonya. Tuan Kagami Jiro akan sangat membutuhkan nyonya Yuna disampingnya saat ini." ucap dokter itu dengan senyuman ramahnya. "Baiklah, kalau begitu saya permisi."
"Baik, Dokter."
Pria dengan almamater putih kebanggaannya itu mulai melenggang menyusuri salah satu lorong panjang di rumah sakit ini diikuti oleh seorang perawat. Sementara Yukimura mulai bangkit dan menghampiri Yuna.
"Masuklah, Yuna. Aku akan berjaga disini." ucap Yukimura dengan nada rendah.
"Kau juga masuklah, Yukimura! Di luar begitu dingin. Jangan sampai kau juga sakit karena semalaman berada di luar ruangan." ucap Yuna dengan tulus. "Bukankah kau akan melamar seorang gadis pekan depan? Kau juga harus mempersiapkan diri dengan baik, Yukimura-sama. Dan salah satunya adalah dengan menjaga kesehatanmu. Ayo masuk!" imbuh Yuna yang sedikit membuat Yukimura merasa canggung.
__ADS_1
Namun akhirnya Yukimura mulai mengikuti Yuna untuk memasuki kamar rawat VIP itu. Yuna mulai melenggang mendekati brankar dimana Kagami Jiro sedang berbaring lemah, sementara Yukimura mulai duduk di sebuah sofa di dalam ruangan itu.
Perlahan Yuna mulai menarik sebuah kursi di samping brankar dan mulai duduk di kursi itu. Yuna mulai memperhatikan dengan begitu detail wajah suaminya yang saat ini masih terlihat sedikit pucat.
Namun akhirnya senyuman manis itu kembali terukir di wajah cantik Yuna karena teringat dengan ucapan dari sang dokter, jika Kagami Jiro akan segera sadar kembali.
Perlahan Yuna meraih jemari yang berukuran hampir dua kali lebih besar dari jemarinya itu. Kemudian dia mulai menggenggamnya dengan begitu hangat dan menempelkan pada pipinya. Perlahan Yuna juga mulai meletakkan kepalanya di atas brankar itu dengan masih menggenggam tangan Kagami Jiro dan mendaratkannya di atas pipinya. Hingga akhirnya setelah beberapa saat Yuna sudah tertidur begitu saja.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria dewasa yang sedang terbaring di atas brankar kini perlahan mulai membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur dan belum begitu jelas.
Atap putih memenuhi penglihatan pertamanya, hingga akhirnya dia menyadari jika di sampingnya masih ada sosok seorang wanita cantik yang masih terduduk di atas kursi dengan meletakkan kepalanya di atas brankar. Sepasang matanya masih terpejam dengan rapat.
Bahkan wanita itu masih menggenggam jemari pria itu dan mendaratkannya di pipi wanita cantik itu. Pria yang tak lain adalah Kagami Jiro itu mengkerutkan keningnya, lalu tersenyum begitu hangat dan samar. Perlahan jemarinya mulai mengelus wajah wanita cantik yang tak lain adalah Yuna.
Yuna yang sedikit terkesiap lalu mulai membuka sepasang matanya. Senyumnya mulai mengembang setelah menyadari suaminya sudah tersadar kembali.
"Sayang, kamu sudah sadar ..." ucap Yuna penuh haru dan semakin menggenggam jemari itu dengan kuat.
Kagami Jiro hanya tersenyum hangat lalu mulai mengangguk pelan.
Kini Yuna mulai mengelus lembut sisi wajah bagian kanan Kagami Jiro. Namun dia merasakan ada sebuah plaster yang menempel pada sisi wajah bagian kanan Kagami Jiro.
"Apakah mereka juga melukai wajahmu, Sayang?" ucap Yuna yang masih terlihat begitu khawatir.
__ADS_1
"Tidak, Yuna. Luka di wajah ini karena sedikit terkena anak panah dart oleh keponakan tuan Kin Izumi, Yuna. Dan istrinya yang memberikan plaster ini." jawab Kagami Jiro dengan jujur.
"Amane yang mengobati lukamu, Sayang?" ucap Yuna mulai mengkerutkan keningnya kembali karena Yuna sedikit tau jika Kagami Jiro pernah begitu dekat dengan Amane, dan berita itu dia dengar dari mendiang Aiko, ibu Kagami Jiro sendiri.