
"Tuan. Aku tidak mengatakan jika kita hanya akan berdiam diri dan membiarkan Zen begitu saja." ucap gadis itu menatap kak Kai.
Gadis yang terlihat begitu cantik dan cerdas yang masih mengenakan setelan pakaian formal dan mungkin saja dia baru pulang dari dinas kerja di rumah sakit dan kebetulan mampir ke club malam.
"Lalu apa maksudmu, Nona?" tanya kak Kai menatap tajam gadis itu karena sudah begitu khawatir.
"Kita tak punya banyak waktu! Aku akan mencoba mengeluarkan racun itu dengan teknik akupunturku. Rumahku berada tak jauh dari sini. Kita bisa membawa Zen kesana." ucap gadis itu dengan mimik wajah yang begitu serius.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Aku bahkan tidak mengenalimu sama sekali!" tandas kak Kai memicingkan matanya menatap gadis itu.
"Itu adalah racun satu sisi dari pisau parysatis. Saat pisau itu menyayat tubuh maka disaat itulah sisi pisau itu juga mengeluarkan racun. Dan racun itu akan segera menjalar melalui luka itu. Jika tidak segera menanganinya dengan cepat, maka akan berakibat sangat fatal. Dan yang terburuk adalah kematian!" ucap gadis itu begitu serius.
"Nona ini adalah benar seorang dokter dan ahli akupuntur. Dan dia juga bekerja di salah satu rumah sakit di daerah sini." ucap seorang pria yang sepertinya adalah pemilik club malam ini.
"Baiklah. Ayo bawa Zen ke rumahmu!" ucap kak Kai dengan mantap menatap gadis itu dengan mata tegasnya.
"Hhm!!" gadis itu mengangguk pelan.
Sementara ketiga pengawal mulai membopong tubuh Zen yang sudah lemah dan terlihat semakin pucat itu untuk memasuki mobil yang sudah disiapkan oleh Yunxi.
Mereka menaiki mobil dan segera pergi ke rumah gadis itu yang hanya berjarak kira-kira 300 meter dari club malam itu. Di sepanjang perjalanan, kak Kai yang membaringkan tubuh Zen di atas pangkuannya terlihat begitu gelisah dan sangat khawatir.
"Zen ... bertahanlah ... ijinkan kakak benar-benar menjagamu kali ini ... ijinkan kakak memperbaiki semua kesalahan kakak." ucap kak Kai begitu lirih sambil meraih jemari Zen lalu menggenggamnya dengan erat. "Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus kuat dan melawan racun ini!" imbuhnya dengan suara yang sedikit bergetar.
__ADS_1
Tubuh Zen masih terdiam dan tak memberikan respon sama sekali. Hanya terkadang Zen terlihat sedikit mengigau seperti sedang mengalami mimpi buruk. Namun kemudian dia kembali lagi tertidur tanpa membuka matanya sama sekali.
"Zen ... bertahanlah ..." kini sepasang mata kak Kai sudah terlihat sedikit berair, terlihat dengan sangat jelas dibalik kacamata beningnya itu.
"Yunxi! Cepatlah sedikit!" perintah kak Kai dengan parau.
"Baik, Tua Kai!" sahut Yunxi lalu sedikit menambah kecepatan laju mobilnya.
Mobil yang melaju paling depan yang dikemudikan oleh gadis itu kini berhenti di sebuah rumah yang masih memiliki gaya kuno. Kemudian menyusul 2 mobil mulai melakukan parkir di belakangnya.
Gadis cantik itu mulai melenggang memasuki rumahnya untuk mempersiapkan semuanya. Sedangkan Yunxi, Vann, Nokto, Jin Heng dan kak Kai mulai membopong tubuh Zen dan segera memasuki rumah gadis itu.
"Baringkan saja di sini!" ucap gadis yang sampai saat ini belum juga diketahui namanya itu. "Buka semua pakaian Zen!" perintahnya lagi.
"Jin Heng, Nokto! Kembali ke club malam itu dan cari tau mengenai penyerang itu!" perintah kak Kai.
"Baik, Tuan Kai!" Jin Heng dan Nokto menyauti dengan kompak lalu segera melenggang dan meninggalkan rumah ini.
Sementara gadis cantik itu terlihat sedang mempersiapkan sesuatu. Dia mengambil sebuah kotak kecoklatan berukuran memanjang menyerupai seperti tempat pensil, namun berukuran sedikit lebih besar.
Gadis itu membawa kotak kecoklatan itu dan meletakkan di meja di sisi samping Zen. Dia membukanya perlahan, terlihat begitu banyak jarum-jarum berukuran kecil dan memanjang di dalamnya.
Kak Kai masih terlihat begitu khawatir, begitu juga dengan Vann dan Yunxi. Mereka bertiga kini menunggu di ruangan tengah ketika gadis itu sedang menjalankan teknik akupunturnya untuk mengangkat kembali racun mematikan itu dari tubuh Zen. Karena di dalam melakukan teknik itu, sangat dibutuhkan ketenangan dan konsentrasi penuh agar hasil yang di dapat sesuai dengan harapan.
__ADS_1
Gadis itu mulai menyeka dan membersihkan darah pada bagian perut Zen lalu mulai melilitkan beberapa perban di area luka itu. Kemudian dia mulai mengambil beberapa jarum dari dalam kotak itu.
Aku harus bisa melakukan semua ini dengan cepat! Kalau telat sedikit saja, semua usaha ini akan sia-sia saja. Dan pria bernama Zen ini akan benar-benar bisa kehilangan nyawanya begitu saja. Jarum-jarum ini harus aku cabut kembali tidak boleh melebihi batas waktu 1 detik. Dan racun-racun itu akan terangkat bersama jarum-jarum ini. Kamu pasti bisa melakukan semua ini dengan baik Xia Feii. Baiklah ... mari kita lakukan!
Batin gadis cantik itu menyemangati dirinya sendiri. Lalu Xia Feii memulai teknik akupunturnya. Yeap, teknik yang sudah diajarkan oleh generasi keluarganya sebelumnya, dan diturunkan dari generasi ke generasi di dalam keluarga Xia.
"Bertahanlah, Zen! Aku akan mencoba membebaskanmu dari racun mematikan itu ... kau pasti akan selamat!" gumam Xia Feii pelan.
Sepasang matanya menyorot tajam jarum-jarum itu lalu menatap perlahan tubuh Zen yang sudah bertelanjang dada itu. Lalu Xia Feii mulai mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Baiklah. Mari kita mulai ..." ucapnya pelan.
Kini Xia Feii mulai menancapkan beberapa jarum pada titik-titik tertentu pada tubuh Zen. Ada yang di bagian dada kanan, dada kiri, bahkan sampai ke perut. Dia melakulannya dengan hati-hati namun sangat cepat.
Jarum demi jarum yang sudah menancap di tubuh Zen itu akhirnya bisa dicabut kembali sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Hingga akhirnya langkah terakhir, Xia Feii kembali berkonsentrasi dan mengumpulkan kekuatan dalamnya pada satu titik, yaitu jari telunjuknya.
Xia Feii mulai memejamkan matanya,setelah beberapa saat dia membuka kembali matanya. Perlahan dia mengangkat jari telunjuknya kemudian menghujamkannya pada dada Zen.
Bersamaan ketika mendapatkan hujaman itu, tubuh Zen meresponnya dengan sekali hentakan pelan seketika.
"Fiuhh ... syukurlah!!" ucap Xia Feii menghembuskan napasnya ke udara dan terlihat begitu lega. "Akhirnya kau selamat, Zen ..." gumam gadis itu tersenyum hangat menatap Zen.
"Aku sudah pernah berhutang nyawa kepadamu. Dan aku juga sudah berjanji kepada diriku sendiri akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti. Dan ternyata takdir mempertemukan kita kembali dengan cara seperti ini." gumam Xia Feii pelan dan tersenyum hangat sambil memegang kening Zen untuk memastikan sesuatu.
__ADS_1
"Malam itu kau sudah membantuku terlepas dari preman jalanan itu. Meskipun kau tidak mengingatku, meskipun malam itu kau memakai topi bahkan masker ... tapi aku tau itu adalah kamu yang aku temui saat ini." ucap Xia Feii lalu memberikan selimut untuk menutupi tubuh Zen.