Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Cinta ...


__ADS_3

Christal seakan membeku saat melihat wajah tampan Zen yang sedang tersenyum hangat menatap dirinya saat ini. Seseorang yang selama ini sangat diidolakannya sedang berada di hadapannya dan melakukan semua itu dengam begitu hangat. Tentu saja itu semua membuat Christal melayang tinggi.


"Christal ... bolehkan aku selalu menghubungimu ketika aku sedang berada di Beijing nanti?" ucap Zen tiba-tiba dan kali ini sungguh membuat Christal semakin terbang tinggi.


Christal masih saja terdiam dan mematung memandangi wajah Zen yang hanya berjarak beberapa inchi darinya. Seakan semua ini hanyalah sebuah mimpi manis untuknya, dan Christal sungguh berharap untuk tidak segera terbangun saat ini.


"Christal ... bolehkah aku selalu menghubungimu ketika aku sedang berada di Beijing nanti?" Zen mengulangi ucapannya lagi karena Christal tak segera menjawabnya dan malah mematung menatapnya. "Apakah tidak boleh?"


"Ah ... bukan ... bukan seperti itu, Li Zeyan!" ucap Christal dengan cepat. "Tentu saja kau boleh untuk menghubungiku. Hhm ..." imbuhnya tersenyum begitu manis dan mengangguk pelan.


Zen merasa begitu lega setelah mendengar jawaban dari Christal hingga sebuah senyuman manis mulai menyembul dari wajah tampannya.


"Terima kasih, Christal." ucap Zen dengan tulus.


Mungkin lebih baik seperti ini dulu saja. Asal bisa selalu berkomunikasi dengannya saja, itu sudah cukup membuatku senang. Aku tak bisa mengungkapkan sesuatu yang lebih saat ini, karena aku takut aku akan mengecewakannya. Jalan yang akan dilalui oleh Christal masih begitu panjang, aku tak bisa membuatnya terikat denganku dan membuatnya tak leluasa. Lebih baik kelak, jika kita bertemu kembali dan masing-masing masih sendiri ... maka aku akan segera menyatakannya padamu.


Batin Zen yang masih menatap Christal dengan begitu hangat


"Li Zeyan ... aku ... aku ..." ucap Chriatal sedikit terbata.


"Ya ..."


"Sebelum kamu kembali ke Beijing, maukah kamu menemaniku untuk pergi ke Tokyo Skytree?" ucap Christal yang terlihat sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


Zen tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan permintaan Christal, "Tentu saja. Aku masih punya waktu hari ini hingga esok untuk berada di Jepang."


"Hhm. Terima kasih ..." sahut Christal yang sebenarnya sedang bersedih karena membayangkan pemuda yang sedang duduk di hadapannya saat ini akan segera kembali ke negara asalnya dan mereka tak akan bertemu.


"Hhm. Mengapa kamu murung, Christal? Apakah berada bersamaku membuatmu merasa tidak nyaman?" ucap Zen sdengan hati-hati.


Christal menggeleng pelan namun masih terlihat begitu murung, namun setelah beberapa saat gadis manis itu mulai untuk tersenyum kembali.


"Tidak kok. Justru aku merasa sangat beruntung karena bisa bertemu dan berbicara secara langsung denganmu seperti saat ini. Karena kau adalah seorang bintang besar." ucap Christal dengan jujur.


Christal hanya kagum padamu, Zen. Bukan berarti dia menyukaimu atau mencintaimu. Jangan salah mengartikan semua ini, Zen.


Batin Zen yang mulai merasa kurang percaya diri kembali, hingga akhirnya Zen mulai melepaskan kembali jemari Christal.


"Cinta?" Christal mengernyitkan keningnya. "Maaf, Li Zeyan. Tapi selama ini aku belum pernah menjalin ikatan dengan pria manapun. Dan aku tiidak tau apa itu cinta ..."


"Cinta adalah sebuah afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta sangat identik dengan perasaan kasih sayang dan suka. Namun sangat berbeda dengan perasaan kagum ..." sahut Zen berusaha untuk menjelaskan sebisanya. "Kau akan selalu berdebar saat berada di dekatnya. Kau akan berdebar saat menatap matanya ... cinta adalah disaat kau rela untuk melakukan apapun demi untuk melihat dia bahagia. Sekalipun harus menjauhinya ..." imbuh Zen yang tiba-tiba saja mengingat sosok Amee, sahabat kecilnya yang selama ini selalu melakukan apapun untuk selalu mendukung setiap langkah Zen untuk menjadi seorang bintang besar.


Namun senyuman indah terukir pada wajah tampan itu, karena mengingat sekarang gadis itu akan segera menikah dengan kakak kandungnya. Dan mereka akan bahagia bersama.


"Jika memang seperti itu ... apakah itu artinya aku sudah jatuh cinta padamu?" celutuk Christal dengan polosnya dan masih menatap sisi samping wajah Zen, karena saat ini Zen sudah beralih menatap yamg lainnya.


Namun, setelah mendengar ucapan Christal, seketika Zen mulai menatap Christal kembali. Sepasang mata kebiruan itu seakan bergetar dan tersenyum menatap sepasang mata bening di hadapannya itu.

__ADS_1


"Christal, jika boleh jujur. Sebenarnya akulah yang mulai menyukaimu. Namun aku takut untuk mengatakannya padamu, dan aku juga takut kau merasa terikat denganku. Jalan hidupmu masih panjang, jadi sebaiknya kamu fokus saja dengan kuliah dan juga meraih mimpimu." ucap Zen dengan jujur. "Aku akan kembali saat kau sudah menyelesaikan semuanya. Jika kita berjodoh, maka kita akan bersama."


"Li Zeyan. Apa kau menganggapku seperti anak kecil? Aku akan menjaga komitmen jika memang itu adalah sebuah kesepakatan bersama. Sebuah komitmen akan mengikat dan membatasi kita dalam bertindak dan berinteraksi dengan lawan jenis lainnya." ucap Christal yang sangat diluar dugaan, dan membuat Zen merasa terkejut.


"Apa kamu mau menjaga sebuah komitmen denganku, Christal? Kau tentu tau bukan bagaimana kehidupanku? Aku adalah seorang model, idol, dan aktor. Tentu saja pekerjaanku tak akan pernah luput dari aktris lainnya. Dan terkadang aku harus menjalankan tuntutan peran bersentuhan fisik ... seperti berpelukan bahkan berciuman." ucap Zen sedikit murung karena itulah salah satu yang membuat Zen ragu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Christal. "Aku takut semua itu akan membuatmu bersedih, Christal."


"Li Zeyan ... aku sangat menghormati dan menghargai semua pekerjaanmu. Aku tidak akan mempermasalahkannya. Karena yang terpenting adalah hati dan perasaanmu. Aku tau kau adalah orang yang baik, bahkan kak Jiro sudah mengakui semua itu. Hingga dia menyuruhmu menikahiku bukan?" ucap Christal yang sungguh sukses membuat Zen begitu tercengang.


"Kamu sudah mengetahui semuanya, Christal?" ucap Zen sedikit membelalak.


"Maaf, tapi saat di rumah sakit ... aku tak sengaja mendengar percakapan kalian. Sebenarnya cukup lucu, biasanya kak Jiro selalu dingin, tegas, dan menakutkan saat aku berusaha untuk mengenalkan teman pria kepadanya. Namun kali ini kak Jiro malah meminta sendiri padamu." Christal tertawa kecil mengingat tingkah laku kakak sulungnya.


"Jadi apa saja yang kau dengar saat itu?" selidik Zen, karena khawatir Christal sudah mengetahui semuanya hingga pertukaran jiwa yang terjadi saat itu.


"Aku hanya mendengar itu saja sih. Memang adakah hal lainnya lagi?" ucap Christal balik bertanya.


"Ahahaha ... tidak ada kok. Hanya percakapan antar pria saja." jawab Zen asal dengan tawa kecil. "Hhm ... baiklah jika semua sudah seperti ini." Zen tersenyum mantap dan mulai meraih jemari Christal kembali lalu menatap lekat gadis berwajah mungil itu dengan senyum penuh dengan kebahagiaan.


Bersambung ...


...⚜⚜⚜...


Hayo ... kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Zen kepada Christal ya? Apakah Zen akan menembak Christal? Ataukah Zen masih kekeh untuk tidak mengikat Christal?

__ADS_1


Ikuti selalu kisah mereka ya ...


__ADS_2