Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kak Kai Diculik


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, akhirnya Jancent sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Begitu juga dengan Li Lian. Mereka bahkan sudah mulai kembali ke kampus dan berktifitas seperti biasanya.


Penglihatan Jancent menjadi kurang maksimal dan sedikit terganggu pada mata sebelah kirinya, karena serpihan yang mengenai kornea matanya saat itu. Sedangkan luka robek pada wajah Li Lian sudah mendapatkan jahitan bahkan seorang dokter ahli bedah oprasi plastik sudah melakukan tugasnya dengan baik, sehingga luka itu sudah terlihat begitu samar kembali.


Lee menikmati seumur hidupnya dengan berada di atas kursi roda karena mengalami patah tulang leher yang begitu fatal. Bahkan cedera itu akan ada secara permanen, tepat sekali dengan apa yang telah diucapkan oleh pria bertopi malam itu.


Bahkan dia sampai putus kuliah dan tidak mau melanjutkannya study-nya kembali karena Lee merasa begitu down saat itu. Hidupnya hanya dia habiskan di dalam kamarnya dalam diam dan kesendiriannya. Termenung mengingat segala kesalahan-kesalahannya di masa lalu, dan penyesalan yang kian selalu menghantui hidupnya.


Begitu miris! Namun itu semua adalah karena perbuatan jahatnya yang tak pernah jera sedikitpun untuk selalu berusaha mencelakai orang lain! Pihak keluarganya juga tak bisa menemukan jejak orang yang telah membuat anak kesayangannya menjadi bernasib malang dan cacat seperti itu. Bahkan saat ditanya siapa yang melakukan hal itu, baik Lee, Zhang Wei, Lin Fang dan Sang Yuan Yi juga tidak bisa menjawabnya.


Karena mereka memang tidak mengetahui siapa sosok pria bertopi dan berpakaian serba hitam malam itu. Disaat mereka mencurugai Zen, namun disaat malam itulah ternyata Zen sedang melakukan sebuah pemotretan bersama managernya.


Nah, sungguh trik apalagi kali ini yang dimainkan oleh seorang Li Zeyan yang berjiwa seorang Kagami Jiro? Entahlah, author sendiri masih belum memahaminya. Hehe ... yang terpenting para penjahat sudah menerima hukuman yang setimpal!


Sementara Zhang Wei, Sang Yuan Yi, dan Lin Fang harus menghabiskan masa-masanya di dalam tahanan. Dan akan keluar dari penjara setelah 2 tahun. Semoga kelak mereka juga bisa berubah. Itu salah satu harapan author.


Setelah kejadian itu Li Lian dan Jancent menjadi lebih dekat, atau sepertinya memang mulai ada benih cinta diantara keduanya. Well, kita lihat saja nanti ke depannya, apakah itu memang benar atau tidak.


Sekarang kita kembali ke Zen yang sedang berusaha untuk menemui seseorang yang memiliki akun utama bernama King Of War, Hwang Jeon. Mari kita lihat bersama, sebenarnya siapa King of War, Hwang Jeon? Apakah dia adalah orang yang sangat dekat dengan Zen? Ataukah hanya seorang natizen atau salah satu antifans yang tidak menyukai Zen?


Baiklah, langsung saja kita lihat. Check this out ...


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


Seorang pemuda dengan gaya casual dan begitu cool terlihat melenggang di sebuah gang kecil kawasan perumahan di distrik Xuanwu. Dia juga mengenakan sebuah topi dan masker berwarna hitam.


Salju pertama yang turun di bulan Desember, yang biasanya akan dimanfaatkan untuk bersama dengan orang-orang terkasih, namun tidak untuk pemuda itu. Dia terus melenggang diantara hujan salju yang terasa begitu dingin. Bahkan angin malam yang bertiup juga terasa begitu dingin hingga menusuk sampai tulang.


"Harusnya di sekitar sini Hwang Jeon tinggal." gumamnya sambil memeriksa ponselnya kembali untuk melihat map, namun tiba-tiba saja ada sebuah panggilan. Pemuda itu derdecit melihat nama si pemanggil,


Manager Luo Kai


"Pasti dia sedang mencariku dan akan mengomel-ngomel lagi karena tiba-tiba saja pergi. Haishhh ..." keluh pemuda tampan itu kembali menyimpan ponselnya di dalam saku pakaiannya dan melenggang kembali.


Namun ternyata, kak Kai tak jera dan terus menghubunginya kembali. Karena jengkel akhirnya pemuda yang tak lain adalah Zen itu akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Ya, hallo. Aku akan segera pulang! Tenang saja!" tandas Zen yang terlihat begitu kesal.


"Li Zeyan!!" namun terdengar suara seorang pria yang sangat asing. Suara yang besar dan sedikit serak, dan itu bukan suara dari kak Kai.


"Manager kesayanganmu akan aman dan tetap hidup jika kau segera datang memenuhi undanganku sekarang juga! Aku akan segera mengirimkan alamat padamu! Dan ingat! Kau hanya boleh datang sendirian! Jangan membawa pengawal ataupun polisi atau kau akan segera mendapati mayat dari Luo Kai!" perintah pria itu dengam ancamannya.


"Apa bukti jika kalian sedang bersama Luo Kai?! Bagaimana jika aku mendapati bahwa kalian sedang berusaha untuk menipuku?" Zen memicingkan sepasang matanya dan menatap tiang lampu di hadapannya, yang menyoroti butiran-butiran salju yang begitu berkilau dan mulai menuruni Yokohama sejak sore hari tadi.


"Katakan sesuatu untuk artismu!" terdengar pria itu mulai memerintah. "Cepat katakan!" tandasnya lagi dengan suara yang lebih melengking dan juga terdengar sesuatu.


PLLAAKK ...

__ADS_1


Yeap, pria itu memukul seseorang agar sandra mengatakan sesuatu.


"Zen, jangan datang! Jangan pedulikan kakak! Kamu harus tetap baik-baik saja! Jangan datang ..." terdengar suara seseorang yang begitu familiar dari seberang dan membuat sepasang pupil kebiruan itu terlihat sedikit membulat.


SYUUTT ...


Terdengar sesuatu dari seberang, yang sepertinya preman itu merebut kembali ponsel kak Kai.


"Aku akan kirimkan alamatnya untukmu. Dan waktumu hanya saju jam saja! Jika lewat dari satu jam, maka kau akan menemukan mayat managermu!" ucap pria itu penuh dengan ancaman.


Tut ... tut ... tut ...


Preman itu langsung mengakhiri panggilan itu begitu saja. Dan setelalah beberapa saat ada sebuah pesan masuk dari ponsel kak Kai. Preman itu mengirimkan sebuah alamat, yang ternyata alamat itu masih berada di daerah yang tak jauh dari dia berada saat ini.


"Hah ... untung saja masih dalam kawasan ini. Jadi aku akan sampai lebih awal." ucap Zen lalu menatap tajam sebuah gang kecil yang sedang berada di hadapannya. "Hwang Jeon, suatu saat aku akan kembali lagi untuk mencari dan menemuimu. Karena saat ini aku harus menyelamatkan kak Kai terlebih dahulu.


Kini Zen mulai berbalik dan melenggang ke jalan utama lalu mulai menghadang sebuah taxi. Zen segera menaiki taxi itu dan duduk di belakang.


"Antarkan aku ke distrik Xuanwu perbatasan Hebei secepatnya!" perintah Zen dengan sangat serius.


"Baik, Tuan!" sopir taxi itu menyauti dan segera mungemudikan taxinya.


Kali ini siapa lagi yang ingin bermain-main denganku? Bahkan sampai menggunakan kak Kai untuk membuatku datang menemuinya ... semoga saja aku tidak terlambat.

__ADS_1


Batin Zen sambil melirik Patek Philippe Sky Moon Tourbillon-nya yang melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya. Dan wajah tampannya yang masih mengenakan sebuah masker hitam juga terlihat begitu datar namun tetap serius.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2