Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kerinduan


__ADS_3

"Jiro ... putraku ..." kini Kagami Gumi mulai mendekati brankar dan memeluk Kagami Jiro.


Rasa rindu yang begitu menggunung dan sangat besar karena lama tak bertemu, akhirnya kini terobati setelah pertemuan ini. Rasanya begitu lega dan tenang ketika bisa memeluk ayahnya setelah sekian lama.?


Selama beberapa saat, Kagami Jiro begitu tenggelam akan suasana yang begitu hangat dan membuat hatinya merasa tenang itu. Seakan semua beban di dalam hatinya sirna begitu saja. Ahh, andai saja ibu masih ada. Mungkin semuanya akan terasa begitu lengkap. Begitulah yamg sedang Kagami Jiro rasakan saat ini.


"Papa. Apa papa baik-baik saja? Mereka tidak menyerang lagi kan?" tanya Kagami Jiro yang sebenarnya juga begitu mengkhawatirkan ayahnya.


Meskipun keahlian bela diri keluarga Kagami tak diragukan lagi, serta keluarga besar Kagami juga selalu dikawal oleh beberapa pengawal yang hebat, namun tak menutup kemungkinan musuh tak akan bisa melukai dan menyerang keluarga besar Kagami dan juga Doragonshadou.


Bahkan beberapa waktu yang lalu Death eyes beberapa kali menyerang dan melukai Kagami Jiro, Yosuke maupun mereka sukses menculik Christal.


"Papa baik-baik saja dan mereka belum menyerang kembali setelah Kin Izumi berhasil ditangkap. Bagaimana keadaanmu, Jiro?" Kagami Gumi mulai melepaskan pelukannya dan menatap lekat putra pertamanya.


"Aku baik-baik saja, Papa. Dalam beberapa hari semua luka ini pasti juga akan segera sembuh kok. Papa tidak usah khawatir." ucap Kagami Jiro tersenyum hangat menatap wajah ayahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan halus itu.


Kagami Gumi tersenyum hangat menanggapi ucapan dari putra pertamanya yang selalu berusaha untuk tetap terlihat kuat bagaimanapun keadaannya. Karena begitulah karakter dari Kagami Jiro.


"Kak Jiro ..." kini Yosuke mulai mendekati mereka berdua.


Tatapan penuh haru menyelimuti keduanya saat ini. Rasanya juga begitu rindu. Ditambah lagi Kagami Jiro sudah mengetahui sebuah kebenaran, bahwa sebenarnya pelaku penyerangan saat itu bukanlah Yosuke. Melainkan pelaku saat itu adalah Kin Izumi.


Namun dengan siasat liciknya, Kin Izumi mulai menjalankan sebuah rencana liciknya dengan menjadikan Kagami Yosuke sebagai dalang dibalik penyerangan Kagami Jiro yang terjadi di Japan telexistense. Dan pria licik itu menciptakan bukti-bukti, agar seolah-olah Kagami Yosuke lah pelaku dari penyerangan itu.


"Yosuke adikku ..." ucap Kagami Jiro begitu lirih dan bergetar.

__ADS_1


Sepasang manik-manik kecoklatan itu mulai berair menatap Yosuke. Menatap nanar Yosuke. Rasa rindu dan haru memenuhi dada Kagami Jiro saat ini, "Kemarilah adikku, Yosuke ..."


"Kak Jiro!" Yosuke segera meraih dan memeluk tubuh besar itu dengan penuh haru. "Maafkan aku kak yang tidak segera datang untuk menolongmu saat Christal sedang diculik."


"Sudahlah, Yosuke. Lagipula mereka hanya meminta kakak untuk datang sendirian." ucap Kagami Jiro dengan hangat dan terdengar penuh kasih sayang. "Tahun ini kamu harus segera menikah! Agar ada seorang istri yang mengurusmu!" ucap Kagami Jiro tiba-tiba.


"Apa hubungannya, Kak Jiro? Umurku masih 28 tahun. Jika aku menemukan gadis yang tepat, pasti aku akan segera melamarnya." sahut Yosuke.


"Yang dikatakan Jiro benar, Yosuke. Cepatlah menikah dan berikan cucu juga untuk papa! Agar ada teman bermain untuk Kenzi dan Kenzou juga." sahut Kagami Gumi menggoda putra keduanya.


Seisi ruangan itu seketika tertawa. Begitu hangat dan penuh dengan kasih sayang.


...⚜⚜⚜...


Seorang pemuda tampan masih dengan pakaian rawat rumah sakit terlihat sedang duduk di atas sebuah kursi roda. Kaki kirinya masih memakai gips dan kepalanya juga masih terlilit dengan perban.


Mereka berhenti di depan sebuah taman yang sudah berselimut dengan salju itu. Putih dan berkilau. Mereka begitu menikmati kepingan-kepingan salju yang terjatuh dengan ritme yang begitu indah.


"Terima kasih sudah menemaniku untuk berjalan-jalan, Christal." ucap pemuda dengan rambut silver itu dengan tulus.


Pandangannya masih menatap lurus ke depan dengan begitu teduh. Sementara gadis yang dipanggil dengan nama Christal, mulai tersenyum manis menatap lurus ke depan juga.


"Sama-sama, Li Zeyan." sahut Christal dengan tulus. "Kebetulan aku sedang berada di rumah sakit, dan kak Jiro malah sedang tidur siang." ucap Christal seadanya. "Terima kasih juga, saat itu sudah berusaha untuk menyelamatkanku juga. Bahkan kau sudah menenangkan aku yang begitu panik saat itu. Terima kasih, Li Zeyan." imbuh Christal dengan tulus.


"Uhm. Sama-sama." jawaban singkat namun terdengar lembut membuat hati Christal menjadi semakin terbuai.

__ADS_1


"Kapan kau akan kembali ke Beijing?" kini Christal mulai berjalan beberapa langkah ke depan hingga mencapai batas atap rumah sakit lalu menengadahkan kedua tangannya ke depan.


Beberapa kepingan-kepingan salju itu mulai terjatuh ke atas telapak tangannya dan mulai meleleh begitu saja. Dan Christal terlihat begitu menikmatinya.


"Aku belum tau. Tapi yang pasti, setelah aku pulih kembali. Setidaknya ketika gips ini dilepas dan aku bisa berjalan kembali." ucap Zen menatap Christal yang terlihat begitu ceria bermain-main dengan kepingan salju itu.


Bahkan tanpa sadar Zen juga tersenyum begitu manis ketika menatap gadis yang selalu terlihat ceria itu.


"Yeap! Kau pasti akan segera pulih kembali! Semangat, Li Zeyan! Kau harus segera kembali ke atas panggung, karena pastinya begitu banyak penggemarmu yang sudah merindukanmu!" ucap Christal begitu antusias


Namun, tiba-tiba saja Christal memijak lantai yang sedikit basah dan licin hingga membuat tubuhnya terhuyung dan hampir saja terjatuh.


"Christal awas ... hati-hati!" karena saking paniknya, tak sadar Zen mulai berdiri dan sedikit berlari ke arah Christal dan akhirnya Zen berhasil menangkap tubuh Christal, dengan tangan kirinya yang menahan tubuh Christal dan tangan kanannya meraih tangan Christal.


Keduanya saling terpana selama beberapa saat, hingga bertatapan cukup lama dengan posisi seperti itu. Bahkan Zen sampai lupa, jika kondisi kaki kirinya seketika membaik begitu saja.


Indah sekali mata biru Li Zeyan ... seperti batu permata biru yang sangat berkilauan. Baru kali ini aku bisa menatapnya sedekat ini. Wajahnya juga tampan sekali ... oh My! Bisa gila aku ...


Batin Christal yang sangat terpana.


"Christal, apa kau baik-baik saja?" ucapan dari Zen seketika membuyarkan angan Christal dan membuatnya sadar kembali.


"Oh ... iya ... aku baik-baik saja." sahut Christal sedikit terbata. "Li Zeyan ... kakimu ... kakimu sudah sembuh?" imbuhnya.


Mendengar ucapan dari Christal, seketika membuat Zen mengingat kondisi kakinya dan sedikit melirik kaki kirinya. Dengan cepat Christal juga segera berusaha untuk berdiri kembali karena mengkhawatirkan kondisi Zen.

__ADS_1


Namun keadaan kaki Zen yang masih belum stabil, membuatnya kurang bisa menjaga keseimbangan badannya yang saat ini juga sedang menopang tubuh Christal, hingga akhirnya mereka berdua jatuh bersama dengan keadaan tubuh Christal terjatuh di atas tubuh Zen.


__ADS_2