Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Broken


__ADS_3

"Yuna ... aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sebenarnya aku adalah Li Zeyan yang sedang menempati raga dari suamimu, tuan Kagami Jiro. Kami bertukar tubuh setelah kecelakaan saat itu. Sebuah kecelakaan yang menimpa kami secara bersamaan, dan kami juga koma bersamaan saat itu. Aku yang terjatuh dari gedung lantai 5. Sedangkan tuan Kagami Jiro yang terluka karena penyerangan saat itu. Kita berdua masih bisa selamat dan masih tetap bertahan untuk hidup. Namun kita malah bertukar jiwa saat itu ... takdir memberikan anugrah untuk kita berdua tetap hidup, namun dengan jiwa yang berbeda. Kembalilah bersama Li Zeyan, Yuna. Karena di dalam raga Li Zeyan-lah jiwa tuan Kagami Jiro bersemayam." ucap Kagami Jiro dengan lirih dan menatap nanar Yuna.


"Tidak ... tidak ... lelucon macam apa kali ini yang kau katakan padaku, Sayang?" Yuna tertawa kecil dan malah mengira jika itu adalah sebuah lelucon saja.


"Ini bukan lelucon, Yuna. Aku ... adalah Li Zeyan." ucap Kagami Jiro menatap lekat Yuna yang berada begitu dekat di hadapannya. "Jiwa yang sedang menempati tubuh ini, selama 4 bulan ini adalah aku, Li Zeyan. Maafkan aku yang tidak pernah mengatakannya sejak awal ... maaf ..." imbuh Kagami Jiro yang terlihat begitu menyesal.


Keempat mata itu kini saling menatap dalam dan sedikit bergetar bahkan mulai berair. Memang benar, Yuna sangat merasakan tatapan itu sangatlah berbeda, dan bukan tatapan khas dari sang suami.


Namun, seakan tak percaya mendengar kejujuran dan sebuah kenyataan yang baru saja dikatakan oleh Kagami Jiro. Yuna terdiam beberapa saat dan tak tau harus berkata dan berbuat apa saat ini.


"Kejarlah Li Zeyan ... disanalah tuan Kagami Jiro berada. Dia sudah begitu merindukanmu, Yuna. Dia sungguh menjaga cintanya selama ini dan hanya selalu mengingat dirimu." ucap Kagami Jiro lagi berusaha untuk membujuk Yuna yang masih terlihat begitu dilematis.


Yuna menggelengkan kepalanya beberapa kali yang terlihat sudah mulai menangis begitu saja. Air mata hangat itu kini sudah benar-benar jatuh dan membasahi pipinya yang begitu putih, mulus dan tentu saja tak pernah luput dari perawatan rutinnya yang begitu wow dan mahal setiap harinya.


"Tidak bisa!" bantah Yuna begitu terpukul. "Raga yang aku cintai adalah pria yang sedang berada di hadapanku saat ini!" Yuna menepuk pelan dada Kagami Jiro. "Mana mungkin aku bisa bersama dengan raga Li Zeyan!" Yuna terlihat begitu bingung saat ini.


"Sayang ... kemarilah ..." tiba-tiba Zen sudah datang dan mulai melenggang untuk menghampiri mereka berdua.


Wajah tampan itu terlihat begitu kalut dan menatap nanar wanita yang begitu dicintainya saat ini sedang bersedih dan menangis karena dirinya. Rasa rindu dan sedih begitu memenuhi isi dadanya saat ini menjadikannya terasa begitu sesak.


"Yuna ... kemarilah sayangku ..." Zen mengulurkan tangan kanannya berharap Yuna akan meraih tangan itu dan berlari ke pelukannya saat ini.

__ADS_1


Namun Yuna malah semakin menangis terisak menatap Zen, "Katakan dimana kita pertama kali kita bertemu!"


"Di St. Luke's International Hospital, Tokyo. Pertama kali aku melihatmu adalah saat kamu masih begitu remaja. Kamu berlari di sebuah lorong rumah sakit karena begitu mengkhawatirkan kakakmu Siena yang sudah menyelamatkan adikku Christal saat itu. Pertemuan kedua adalah saat pesta perayaan ke-7 gedung pameran seni pamanmu, Tatsuya. Saat itu kau tak sengaja menabrakku dan kita tersorot lampu putar bersama. Namun kita malah pergi begitu saja karena kakimu yang terkilir. Dan aku memaksamu untuk merawatmu saat itu. Aku juga pernah memaksamu untuk membuatkan kemeja dan jaz untukku saat itu karena kamu yang menumpahkan minumanmu pada pakaianku saat di Rokkasen restoaurant. Saat itu ... kamu selalu saja menolakku dan berusaha untuk menjauhiku. Namun aku yang tak punya rasa malu ini malah terus berusaha untuk selalu dekat denganmu. Yuna ... kamulah yang membuatku merasakan sebuah makna dari perjuangan. Kamulah yang sudah begitu merubah hidupku menjadi lebih baik. Kemarilah, Sayangku. Aku begitu merindukanmu, Sayang." ucap Zen berusaha untuk meyakinkan Yuna.


Untaian kata dari Zen terdengar begitu memilukan hati itu sukses membuat Yuna semakin terisak dan membungkam mulutnya dengan punggung telapak tangannya. Kini tangisnya menjadi semakin pecah hingga akhirnya Yuna berlari ke arah Zen dan memeluknya begitu erat.


Yuna semakin terisak di dalam pelukan hangat Zen. Dengan lembut Zen juga mengusap, membelai rambut Yuna dan juga mencium rambutnya. Kagami Jiro yang menyaksikan semua itu juga tak kuasa untuk membendung air mata bahagianya karena melihat mereka berdua kembali bersama.


"Mengapa tak pernah memberitahukan kepadaku tentang semua ini selama ini? Kau menganggap aku apa selama ini? Hiks ..."


"Maaf ... aku hanya tak ingin membuatmu terbebani akan hal ini, Sayang. Aku tidak ingin membuatmu bersedih." ucap Zen yang terdengar begitu lembut.


Tiba-tiba saja Yuna mulai melepas pelukannya dan mendongak menatap Zen masih dengan kening berkerut dan pipi yang basah karena air mata.


"Tapi ... Yuna ... jiwaku adalah suamimu" elak Zen yang mulai meraih kedua kemari Yuna.


Yuna menggeleng lemah dan air mata hangat itu kembali membasahi pipinya yang lembut.


"Yang aku cintai, yang aku sayangi dan yang aku inginkan adalah sosok pria yang begitu ditakuti dan disegani oleh semua orang. Dan pria itu adalah Kagami Jiro yang sedang berdiri di seberang kita. Maafkan aku, Sayang." perlahan Yuna mulai mundur dan menjauh dari Zen.


Zen menggelengkan kepalanya begitu lemah dan tak berdaya. Bahkan jemari Yuna masih digenggamnya dengan begitu erat. Seakan tak pernah ingin untuk melepasnya.

__ADS_1


"Tidak, Yuna. Aku mohon jangan lakukan itu padaku. Aku tak bisa kehilangan dirimu ... meskipun itu adalah ragaku, aku akan tetap merasakan sakit karena jiwaku sedang melihatmu bersama jiwa orang lain. Jangan Yuna ... jangan pergi dariku ... aku mohon." ucap Zen begitu lirih dan terdengar menyesakkan.


Sepasang matanya yang selalu tampil memukau, kini sudah berair dan menjadi merah. Namun Yuna terus saja mundur dan menjauh dari Zen, hingga genggaman hangat diantara mereka itu kini mulai terlepas perlahan meskipun terasa begitu berat.


Yuna mulai melenggang dan kembali untuk bersama Kagami Jiro. Kini Yuna meraih kedua jemari Kagami Jiro dan menatap lekat pria dewasa yang saat ini sedang berdiri di hadapannya itu.


"Pria inilah yang aku cintai, pria inilah yang selalu berjuang untuk mendapatkan cintaku saat itu. Mana mungkin aku meninggalkannya saat ini?" ucap Yuna yang kembali menangis di hadapan Kagami Jiro.


"Apapun yang terjadi aku hanya akan mencintaimu ..."


Kagami Jiro mulai menghela napas untuk sesaat, "Baiklahh. Mulai sekarang, aku akan menjadi suamimu dengan seutuhnya." ucap Kagami Jiro begitu mantap dan mulai mengecup punggung telapak tangan Yuna.


Sepasang mata kebiruan milik Zen membelalak, seakan tak percaya jika Kagami Jiro bisa melakukan hal seberani dan senekat itu tanpa meminta perserujuannya terlebih dulu.


"Terima kasih, Sayang." Yuna tersenyum penuh haru dan mulai mengalungkan kelua tangannya pada leher kuat Kagami Jiro dan dia sedikit mendongak.


Perlahan Kagami Jiro mulai menunduk dan semakin mendekati wajah ayu Yuna. Tentu saja hal itu semakin membuat Zen begitu kesal, marah, kecewa dan begitu ingin menghancurkan Kagami Jiro saat ini juga.


"Yuna! Hentikkan!" teriak Zen berusaha untuk menghalangi ciuman itu. "Bocah, beraninya kau melakukan semua ini padaku setelah apa yang aku lakukan untukmu!" geram Zen begitu menakutkan.


Namun mereka berdua tak mengindahkan Zen dan akhirnya ciuman itu tetap terjadi di hadapan Zen.

__ADS_1


"Yuna!!"


__ADS_2