Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Emerald Beach Memory


__ADS_3

Seorang anak laki-laki yang berusia kira-kira 12 tahun terlihat sedang menyibukkan dirinya di tepi pantai yang begitu indah dengan membuat istana pasir. Dia terlihat begitu berkonsentrasi dalam membuat bentuk demi bentuk untuk menjadikan sebuah istana yang begitu besar dan memukau.


Hembusan angin pantai kala itu terasa begitu menyejukkan dan membuat pepohonan menari-nari seakan menggambarkan suasana saat ini yang begitu memukau. Sinar mentari kala itu juga menyinari dengan begitu hangatnya.


Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang kira-kita berusia 7 tahun mulai berlari kecil dan menghampiri anak laki-laki itu. Keduanya kini mulai bermain bersama di tepi pantai Emerald dan terlihat begitu rukun. Pantai Emerald menjadi saksi untuk kekompakan dan kebersamaan kakak beradik itu saat itu.


Pantai yang berlokasi di Taman Kaiyohaku di sebelah Akuarium Okinawa Churaumi ini memiliki pasir putih dan memiliki laut berwarna hijau emerald yang begitu luas dan begitu jernih seperti namanya. Pasir putihnya juga terlihat begitu berkilauan ketika terkena paparan sinar dari sang surya. Sungguh indah sekali!


Di sekitar pantai ini ada beberapa tempat untuk menyewa berbagai barang seperti parasol dan pelampung. Pantai ini adalah salah satu pantai paling terkenal di Prefektur Okinawa dan tentunya selalu ramai oleh pengunjung.


Berbagai aktivitas laut seperti parasailing, menyelam, dan lainnya yang dapat dilakukan di pantai ini, menjadikan tempat ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Di sini kita juga bisa menyaksikan pemandangan matahari terbenam yang begitu menakjubkan dan memukau.


Sekeliling pantai ini juga dekat dengan Hutan Yan sehingga kita bisa menikmati aktivitas di pantai dan di gunung sekaligus! Pesisir pantai yang membentang berpasir putih terlihat begitu memukau dan begitu indah.


"Kakak, ombak itu menghancurkan istana pasirku." keluh sang adik kepada kakaknya ketika istana pasir sang adik mulai rusak karena terkena deburan ombak.


"Tenang saja, nanti akan kakak bantu untuk membuat istana pasir lagi ! Jangan menyerah!" sang kakak menyauti dengan lembut dan kembali membuat istana pasir untuk sang adik.


"Aku akan mengambil beberapa batu hias dan kerang untuk menghiasi istana pasir kita, Kak." usul sang adik lalu berdiri dan membersihkan sedikit celana pantainya yang sudah dipenuhi dengan pasir putih.


"Baiklah. Cepatlah kembali lagi dan jangan pergi terlalu jauh!" ucap sang kakak tanpa menatap sang adik, karena dia masih terlihat begitu sibuk membuat istana pasir itu.


"Hhm. Aku akan segera kembali, Kak!" ucap sang adik lalu mulai berlari kecil untuk mencari beberapa batu dan kerang.


Tanpa memperhatikan apapun, sang adik kini semakin mendekati bibir pantai yang sudah terkena air laut. Karena terlalu asyik memungut beberapa batu dan kerang, dia tidak melihat ada sebuah ombak yang begitu besar datang.


BBYYUURR ...

__ADS_1


SSRRTT ...


GLUUPP ...


Anak laki-laki itu kini sedikit terseret ombak dan terbawa oleh ombak itu, sementara sang kakak masih belum menyadari semua itu dan masih terus membuatkan istana pasir untuk sang adik.


Sementara para pengunjung pantai sudah sangat panik dan belum ada yang menyelamatkan anak kecil itu.


"Kakkk ... kak Jirrooo ... tol-long akk-kuu ..." teriakan anak laki-laki itu memanggil nama sang kakak.


GLLUUPP ...


GLLUUPP ...


Sang kakak yang bernama Jiro itu seperti mendengar seseorang sedang memanggil namanya, seperti sayup-sayup yang begitu samar. Dia berhenti sejenak dan mulai mencari sosok adik laki-lakinya. Namun dia tak menjumpainya, yang dia lihat hanyalah kerumunan orang di bibir pantai.


Karena begitu penasaran, anak bernama Jiro itu kini mulai bangkit dan melenggang mendekati kerumunan itu.


"Seorang anak laki-laki terbawa dan terseret ombak ..." salah satu pengunjung menyauti dan terlihat begitu khawatir. "Dan team penyelamat sedang tidak ada di tempat saat ini."


"Anak laki-laki?" gumam Jiro kecil pelan, dan mulai melihat lautan di depannya.


Terlihat seorang anak laki-laki yang sangat tidak asing untuknya sudah berada di antara air lautan itu. Jiro mulai berjalan beberapa langkah ke depan dan terlihat begitu khawatir dan ketakutan.


"Yosukeeee!!" teriak Jiro lalu mulai berlari mendekati lautan. Namun seseorang meraih tangannya dan menahannya.


"Ini terlalu berbahaya, Nak. Tunggulah hingga team penyelamat datang!" ucap salah satu pengunjung pantai menyarankan.

__ADS_1


Namun Jiro segera menghempaskan tangan pengunjung itu dan mulai berlari kembali. Dia terus berlari dan berlari ke dalam lautan dan semakin dalam hingga air lautan itu menenggelamkan hampir seluruh badannya.


Jiro tak memikirkan apapun lagi saat itu, hanya satu yang sedang dia pikirkan saat itu. Yaitu menyelamatkaan Yosuke, adik laki-lakinya! Jiro mulai menyelami lautan itu dan berusaha mendekati Yosuke yang masih berteriak meminta tolong.


Tunggu sebentar, Yosuke! Kakak akan datang untuk menjemput dan menyelamatkanmu! Kamu harus tetap bertahan!


Batin Jiro yang masih terus berenang dan berusaha mendekati Yosuke. Setelah beberapa saat akhirnya Jiro bisa meraih tubuh kecil itu dan dengan sekuat tenaga dia membawanya untuk menepi kembali.


Nasib baik masih berpihak untuk mereka, sehingga mereka bisa kembali ke daratan dalam keadaan yang masih bernyawa.


"Yosuke!! Bangunlah!!" ucap Jiro begitu khawatir lalu dengan cepat dia memeriksa pernapasan Yosuke dan denyut nadinya. Jiro mencoba mendekatkan telinganya pada hidung Yosuke lalu mendekatkan telinganya pada dada Yosuke untuk memastikan Yosuke masih bernapas.


Tentu saja Jiro begitu khawatir jika air sudah masuk ke paru-paru, hal ini dapat membahayakan nyawa Yosuke.


Kemudian Jiro mulai menekan tangannya ke dada Yosuke bagian bawah sekitar dua inci. Jiro menekannya dengan cukup hati-hati agar tidak sampai menekan tulang rusuknya. Jiro melakukan penekanan selama 100-120 detik.


Setelah itu Jiro mulai mengecek pernapasan pada Yosuke kembali, namun masih belum ada hasil. Akhirnya Jiro melakukan napas buatan untuk Yosuke. Jiro mulai memiringkan kepala ke belakang dan mengangkat dagunya.


Setelah itu, Jiro mulai menjepit hidung Yosuke hingga tertutup. Perlahan Jiro mulai mengambil napas normal, lalu mulai menutup mulut Yosuke dengan mulutnya untuk membuat segel kedap udara, lalu Jiro mulai memberikan 2 napas saat dadanya terangkat.


"Yosukee!!" di tengah heningnya malam yang begitu dingin, seorang pria bermata biru tiba-tiba terbangun dari sebuah mimpi yang membuatnya begitu gelisah dan sedikit berkeringat. Napasnya juga terlihat naik turun dan tidak teratur.


"Yosuke ..." ucapnya begitu lirih dan menyibak rambut silvernya ke belakang.


Pemuda yang tak lain adalah Zen itu terlihat begitu frustasi, dan tidak bisa melanjutkan istirahatnya kembali. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menuruni ranjangnya dan mencari sesuatu di lemari penyimpanan di dapur.


Dia mulai mengambil beberapa baijiu dan membawanya ke meja makan. Satu persatu botol mulai dia minum, hingga menghabiskan 5 botol dalam sekali waktu.

__ADS_1


"Yosuke, padahal kau adalah salah satu orang yang selalu aku lindungi selama ini ..." ucap Zen begitu lirih dan mulai mendaratkan kepalanya di atas meja dengan mata yang semakin terpejam.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2