
"Dulu kakak yang memulainya. Namun sekarang mengapa aku mengira kakak hanya bermain-main saja?" ucap Zen yang menatap kak Kai dengan begitu serius.
"Zen ... tolong. Kak Kai sedang sakit." pinta Amee memohon dengan begitu halus.
"Biarkan saja, Amee ..." sahut kak Kai yang masih terlihat begitu tenang menatap Zen. "Amee ... maaf jika kakak tidak bisa tegas dan memberikan jawaban yang membuatmu puas saat ini. Karena ada sesuatu yang harus kakak selesaikan dulu ... maaf ..." imbuh kak Kai yang kini beralih menatap Amee.
Amee hanya menanggapinya dengan seulas senyum dan anggukan pelan, meski mungkin saja hatinya saat ini begitu sakit karena ucapan dari kak Kai.
"Zen ... kakak akan mengatakan semuanya kepadamu suatu saat. Kakak berjanji ... dan ini juga akan menyangkut dengan Amee. Tapi tolong beri kakak waktu ... kakak belum bisa mengatakannya sekarang ..."
Karena kakak tidak ingin kehilangan kamu begitu cepat ...
Batin kak Kai yang terlihat seakan sedang menanggung sebuah beban yang cukup berat saat ini.
"Sudahlah, Kak. Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya sedang menggodamu saja." sahut Zen akhirnya dengan candaan. "Aku hanya terlalu bersemangat untuk melihat kalian segera menikah dan hidup bersama. Tenang saja, Amee ... kak Kai pasti akan menikahimu! Kalau tidak, aku tak akan mengakuinya sebagai kakakku lagi!" imbuh Zen disertai dengan tawa kecil.
Kak Kai dan Amee masih terdiam dan merasa begitu kaku, namun perlahan wajah Amee mulai merona karena ucapan Zen. Dia hanya menunduk dan berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang saat ini mulai merona.
"Kalian berbincanglah. Aku akan keluar sebentar ..." pamit Amee karena merasa sedikit malu dan merasa tidak enak.
Lalu gadis cantik itu segera meninggalkan ruangan rawat itu. Sedangkan Zen terlihat menahan tawa menatap kak Kai lalu mulai duduk di sebelah kak Kai.
"Bagaimana pemotretan hari ini?" tanya kak Kai masih dengan wajah yang negitu hangat menatap Zen.
__ADS_1
"Yeap, Semua berjalan dengan lancar. Dan tentu saja aku sangat handal dan cukup profesional di depan kamera. Dan tentu saja aku tidak kaku dan tegang lagi ..." Zen sedikit menahan tawa dan melirik kak Kai. Dan sebenarnya saat ini Zen sedang menggoda kak Kai.
"Kau sedang menyinggung kakak kan? Ya ... kau benar sekali, Zen. Kakak memang sangat buruk untuk menjadi seorang model. Makanya kakak tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang model, Zen." ucap kak Kai begitu hangat menatap pemuda bermata biru yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Namun hasil pemotretan kakak kemarin cukup keren lo ..." Zen menyauti dengan jujur.
Keduanya bertatapan beberapa saat, rasa haru, bahagia dan begitu rindu memenuhi suasana hati keduanya saat ini.
"Zen ... maaf jika kakak tidak pernah memberitahumu selama ini mengenai kebenaran ini. Itu karena ..." ucap kak Kai terpotong.
"Karena kakak begitu membenciku? Dan kakak ingin menghancurkanku?" ucap Zen tiba-tiba yang membuat kak Kai begitu tercengang seketika dan tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik.
"Zen ... kakak ... kakak ..." ucap kak Kai terlihat begitu kebingungan untuk berkata-kata.
Sebuah tujuan awal kak Kai untuk pembalasan dendam terhadap keluarga Li, rupanya perlahan mulai sirna dengan seiring berjalannya waktu. Karena ikatan persaudaraan akan selalu menghangatkan dan melunakkan sebuah dendam. Ibarat sebuah penawar untuk racun yang begitu mematikan.
"Zen ... kakak ..."
Kak Kai masih saja tidak bisa melanjutkan ucapannya dengan sempurna, bahkan sepasang mata beningnya terlihat begitu berair dan bergetar saat ini.
"Kak Kai, sebenci apapun kakak padaku ... namun aku sangat yakin jika kakak juga sangat menyayangiku. Jangan khawatir ... aku sangat memahami perasaan kakak. Yang terpenting sekarang adalah kita sudah saling mengetahui. Dan kita harus bersama mulai sekarang." ucap Zen menatap kak Kai dengan begitu hangat.
Ucapan dari Zen semakin membuat hati kak Kai tersentuh dan sangat merasa bersalah atas dosa-dosanya terhadap Zen yang selama ini dilakukannya untuk berusaha mencelakai Zen.
__ADS_1
Tidak, Zen! Suatu saat kakak akan membayar semua kesalahan ini! Kakak sangat ingin bersamamu, namun terkadang kakak merasa sangat tidak pantas untuk menjadi kakakmu. Kakak selalu saja dihantui oleh rasa bersalah di masa lalu. Bahkan kakak juga merasa sangat tidak pantas untuk Amee. Dia gadis yang begitu baik dan tulus. Kakak merasa tidak pantas ada di dekat kalian.
Batin kak Kai yang tanpa sadar sudah menitikkan air matanya dan membasahi pipinya yang putih itu.
"Jangan menangis ... mengapa kakakku tiba-tiba saja berubah menjadi seorang pria yang sangat cengeng seperti ini?" ucap Zen menggoda kak Kai sambil mengusap bahu kak Kai.
"Zen ... bolehkah kakak memelukmu untuk beberapa saat?" ucap kak Kai begitu lirih dan sepasang manik-manik di balik kaca mata bening itu terlihat masih berkaca-kaca. Begitu indah seperti kristal.
Dengan senyum lebar Zen segera membuka dan merentangkan kedua tangannya lalu mulai memeluk kak Kai. Suasana begitu mengharukan saat ini, bahkan sepasang mata kebiruan Zen juga terlihat sudah berkaca-kaca saat ini.
Yosuke, adikku... aku harap bukan kau yang dibalik kasus penyerangan itu. Aku harap semua bukti yang mengarah padamu semua adalah sebuah kesalahan. Betapa hancurnya hatiku, jika semua itu adalah nyata dan benar ...
Batin Zen yang mulai teringat dengan sosok adik keduanya, Kagami Yosuke.
"Aku harap selamanya kita akan tetap bersama, Kak. Karena sampai kapanpun persaudaraan tak akan pernah terputus. Karena sampai kapanpun darah akan selau mengental dan menyatu dengan daging." ucap Zen dengan pelan dan begitu menenangkan.
"Kakak harap juga begitu ..." ucap kak Kai begitu lirih dan mengusap punggung Zen.
"Ayah kita pasti akan sangat berbahagia jika melihat kita bersama." celutuk Zen.
"Namun kakak masih begitu membencinya ..." sahut kak Kai datar.
"Kak. Ayah pasti melakukan semua itu karena memiliki alasan. Aku sangat yakin jika ayah juga sebenarnya sangat menyayangimu. Aku pernah menemukan barang-barang lama milik orang tua Zen ... uhm ... maksudku barang-barang lama milik orang tuaku, dan melihat sebuah gelang bayi yang bertuliskan namamu pada liontinnya. Namun saat itu aku masih belum mengetahui sebenarnya apa yang sudah terjadi saat itu. Dan sekarang aku baru paham, jika ternyata kau adalah putra pertama dari Li Zhi." ucap Zen kembali mengingat sesuatu.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...