
"Nona, apa kau baik-baik saja?" kak Kai mencoba untuk mendekati gadis itu yang terjatuh dalam posisi telungkup untuk menolongnya.
Namun tak ada jawaban dari gadis itu, bahkan gadis itu juga tak bergerak sama sekali.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" kini kak Kai mulai jongkok dan berniat untuk menyibak rambut gadis itu.
"Kakak, jangan!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang membuat kak Kai berhenti tepat saat tangannya hampir saja menyentuh rambut gadis itu.
Seorang pemuda dengan balutan sebuah sweater hangat berwarna broken white dipadankan dengan celana kain selutut warna hitam mulai melenggang mendekati kak Kai.
"Zen ... mengapa kau menghentikkan kakak untuk menolong gadis itu?" tanyak kak Kai tak mengerti dan mulai berdiri kembali menatap Zen dengan raut wajahnya yang begitu kebingungan.
"Gadis itu sudah meninggal! Dan aku tak mau kakak terlibat dengan kasus ini!" ucap Zen terdengar begitu santai dan gayanya juga terlihat begitu santai seperti biasanya. Apalagi kalau bukan kedua tangan yang selalu rapi bersembunyi di dalam saku celana maupun coat!
Sedangkan kak Kai yang mendengar ucapan dari Zen, seketika semakin dibuat melongo karena begitu bingung. Dan tentu saja dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan, Dari mana Zen tau gadis itu sudah meninggal?
"Meninggal?" kalimat tanya yang begitu singkat terlontar begitu saja dari kak Kai.
Belum sempat Zen menjawab pertanyaan dari kak Kai, kini darah segar mulai mengalir membasahi karpet hotel yang berwarna cream kombinasi coklat itu. Dan darah segar itu berasal dari perut gadis itu.
Dan betapa super terkejutnya kak Kai menyaksikan semua itu, dan menyadari ucapan Zen yang mengetahui jika gadis itu sudah meninggal.
Beberapa saat mulai berdatangan pengujung lainnya dan juga beberapa keamanan hotel Repulse Bay. Bahkan Amee juga mulai keluar dari kamarnya karena kejadian itu tepat di depan kamarnya.
Amee terlihat begitu shock menyaksikan semua itu hingga membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Kak Kai segera menghampirinya dan berusaha untuk menenangkannya.
Seorang pria mulai mengecek nadi gadis itu dan setelah beberapa saat beberapa dari mereka mulai membawa tubuh gadis itu dengan menggunakan tandu.
"Periksa semua rekaman CCTV!" perintah seorang pria kepada dua orang pria lainnya.
__ADS_1
"Baik, Boss." dua orang pria itu menyauti dengan kompak.
Sementara pria yang dipanggil bos itu mulai mendatangi seorang tamu yang masih berada di situ.
"Apa yang terjadi? Apa ada yang melihat semua kejadian ini?" tanya pria itu.
"Aku tadi mendengar suara yang begitu keras. Karena penasaran aku segera keluar dari kamar untuk memeriksanya. Dan ternyata gadis itu sudah terjatuh dan aku hanya melihat pria berkacamata itu mulai mendekatinya." pria itu menunjuk kak Kai begitu saja.
Kak Kai sedikit terkejut dan membelalak, karena dirinya disangkutpautkan dengan kematian seseorang yang bahkan tidak dia kenal. Bahkan kini semua mata mulai memandang kak Kai. Dan pria yang mungkin adalah kepala keamanan di hotel Repulse Bay ini mulai melenggang mendekati kak Kai yang sedang bersama Amee.
"Ya. Aku baru saja keluar dari kamar tunanganku. Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja ada bunyi sesuatu yang terjatuh di belakangku. Setelah aku periksa ternyata gadis itu sudah terjatuh pada posisi seperti yang sudah kalian lihat." jelas kak Kai yang terlihat begitu tenang.
"Apakah tuan melihat orang lain lagi?" tanya kepala keamanan itu lagi.
"Aku tidak melihatnya. Lebih baik kalian cek rekaman CCTV saja." sahut kak Kai yang masih merangkul Amee karena Amee masih terlihat begitu shock.
"Baik. Terima kasih atas laporannya, Tuan. Kami akan menghubungi tuan kembali jika memang kami membutuhkan laporan dari tuan lagi."
Semua tamu yang sempat berkerumun kini mulai bubar kembali. Beberapa petugas kebersihan juga mulai datang untuk membersihkan darah dan segera mengganti karpet itu.
Zen masih tetap di tempatnya dan terlihat masih mengawasi tempat ini.
"Zen, kembalilah ke kamar! Malam ini kakak akan menemani Amee." ucap kak Kai kepada Zen.
"Hmm. Iya. Kakak temani Amee saja."
Namun malam ini masih ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Jika instingku benar, maka aku akan menemukan dan menangkap pelaku pembunuhan ini!
Batin Zen menatap sebuah ruangan kecil yang berada tak jauh dari kamar Amee.
__ADS_1
Kak Kai mulai mengajak Amee untuk memasuki kamarnya lagi. Dan kini hanya tertinggal Zen bersama ketua keamanan dan juga para petugas kebersihan.
"Paman. Ikut bersamaku!" bisik Zen kepada ketua keamanan itu.
"Ikut kemana?"
"Paman ingin segera medapat jawaban dari kasus ini tidak? Jika iya, ikutlah bersamaku!"
Kepala keamanan itu mengkerutkan keningnya menatap Zen. Namun akhirnya dia menyetujui ucapan Zen. Mereka berdua mulai melenggang besama dan berhenti di depan ruangan kecil itu.
"Paman. Ruangan apa ini? Dan terhubung kemana saja ini?"
"Ini hanyalah sebuah ruangan kebugaran. Dan saat ini sudah tutup karena memang sudah waktunya tutup."
"Kau yakin, Paman jika tidak ada seorangpun di dalam sini?" Zen menatap kepala keamanan itu dengan senyum misterius yang membuat pria itu akhirnya mulai membuka ruangan kebugaran itu.
Dan betapa terkejutnya kepala keamanan itu saat menyadari pintu tidak terkunci. Dengan cepat akhirnya pria itu segera memasuki ruangan kebugaran itu dan mulai menyalakan sebuah saklar untuk menghidupkan lampu.
Ruang kebugaran yang dipergunakan sebagai suatu wadah bagi mereka yang ingin menyegarkan badan dengan melakukan olahraga, yang dapat melenturkan tubuh, mengencangkan otot dan membuat tubuh menjadi kekar ini terlihat begitu rapi dan bersih.
Semua alat kebugaran tertata dengan rapi. Tempat yang cukup luas di tambah dengan lampu besar yang membuat tempat ini sangat nyaman untuk di kunjungi. Dan semua alat-alat olahraga di sendirikan berdasarkan jenisnya. Dan tentu saja itu dapat memudahkan pengunjung untuk memilih alat olahraga apa yang akan mereka pakai.
Pria ketua keamanan mulai menyisiri semua tempat ini, sementara Zen hanya mengawasi dan mulai memikirkan dimana sebenarnya pelaku bersembunyi di tempat yang bahkan tertup dan hanya memiliki satu pintu ini.
Seharusnya orang itu masih berada disini. Pembunuh itu menurutku adalah seorang gadis. Karena luka tusuk itu terlihat cukup buruk, hingga pelaku melakukannya tidak hanya sekali. Sangat terlihat jika sebenarnya pelaku belum memiliki keahlian yang cukup di dalam bidang ini. Namun dewi fortuna sepertinya telah berpihak kepadanya, karena tusukan itu benar-benar mengenai jantung dan menyebabkan korban meninggal seketika. Hhm ...
Batin si genius Kagami Jiro mulai menggunakan kepintaran dan nalarnya dalam menilai dan mengamati sebuah kasus pembunuhan meskipun hanya sekedar melihatnya dalam sekejap saja.
Kini pandangan Kagami Jiro mulai fokus menatap langit-langit putih yang memiliki sebuah kotak kecil seperti pintu yang masih memiliki sebuah celah, dan sepertinya belum tertutup dengan sempurna ketika gadis itu menutupnya.
__ADS_1
"Tidak ada orang disini. Mari kita keluar dan kembali mengecek rekaman CCTV saja, Tuan." ucap ketua keamanan itu yang sudah menghampiri Zen kembali.
Bersambung ...