Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Penyelidikan


__ADS_3

Zen segera mendatangi ruangan arsip data dan mulai meminta data kepada petugas di sana untuk mencari data-data dosen maupun semua orang yang bekerja di Wan Chai University dua tahun lalu.


Lembaran demi lembaran dari beberapa dokumen itu dia buka dan baca dengan hati-hati dan berharap akan menemukan pria yang saat ini sedang dicarinya itu.


Beberapa saat akhirnya Zen menemukan sosok yang dia cari. Xu Han adalah seorang dosen yang mengajar kelas Kimia dua tahun yang lalu di Wan Chai University. Namun saat ini dia sudah dipindahkan tugas pada sebuah Universitas lain di Beijing.


Zen segera megambil beberapa gambar dan info mengenai Xu Han dengan ponselnya. Di dalam berkas itu tertulis lengkap mengenainya. Bahkan ada alamat dan nomor ponsel yang tertera di dalam dokumen itu.


Setelah puas mendapatkan apa yang dia cari, kini Zen segera undur diri dan berniat kembali ke ruang kuliah. Dia mulai menghapiri Bai Xi dan Jancent yang terlihat sedang asik berbincang.


"Ada berita menarik apa kali ini? Mengapa kalian terlihat begitu bersemangat?" tanya Zen setelah meletakkan ranselnya di atas meja kuliahnya. Kemudian sedikit melipat lengan pakaiannya.


"Ini soal Lu Yuan ... ada berita tak terduga darinya. Lihatlah! Saat ini dia sedang menjadi tranding topic saat ini." Ucap Bai Xi sambil menyodornya ponselnya untuk Zen.


Zen segera menerima ponsel itu dan melihatnya. Sepasang mata kebiruannya terlihat seperti sedang tersenyum meskipun bibirnya masih terlihat begitu datar.


Sebuah berita besar telah menjadi topik yang begitu hangat di Beijing saat ini! Seorang gadis bule yang melakukan sebuah pengakuan, bahwa dia dibayar oleh seorang idol besar, Lu Yuan untuk menjatuhkan Li Zeyan saat di pesta ulang tahun An Jiu.


Berita itu sudah sejak pagi hari tersebar melalui media, namun pihak Lu Yuan masih belum memberikan konfirmasi dan jumpa pers menyangkut hal ini.


"Hhm ..." Zen menyodorkan posel itu kembali kepada Bai Xi.


"Apa itu benar, Zen? Apa berita ini benar?" tanya Bai Xi begitu penasaran.


"Bukankah gadis bule itu sudah mengakuinya sendiri? Lagi pula apa keuntungan dari membuat sebuah berita palsu? Yang ada malah akan berurusan dengan hukum." jawab Zen begitu santai sambil menyandarkan badannya dengan begitu santai.


"Kau benar sekali!" sahut Jancent mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan dia setuju dengan ucapan Zen.


"Memang apa benar malam itu wanita bule ini mengaku menjadi kekasihmu di depan semua orang?" tanya Bai Xi lagi.


"Hhm ..." jawab Zen dengan malas.

__ADS_1


"Wah ... benar-benar gila ya!" timpal Bai Xi sedikit kesal. "Berani sekali dia melakukannya! Untung saja kau sangat cekatan dalam menghadapinya! Kau memang sangat manly setelah bangun dari koma!" imbuh Bai Xi takjub.


"Yeap! Kau sangat keren sekarang! Aku lihat badanmu juga sedikit bertambah kekar sekarang!" ucap Jancent saambil memijit lengan kiri Zen.


"Menjadi seorang pria itu harus kuat! Selain untuk melindungi diri sendiri, suatu saat kalian juga harus melindungi orang yang kalian sayangi!" jawab Zen dengan senyum tipis.


"Wow ... Li Zeyan sekarang benar-benar sangat keren!" celutuk Jancent menatap takjub Zen.


"Benar-benar bukan seperti Zen yang dulu ya ..." guman Bai Xi yang tak kalah takjub.


Tak lama kemudian terlihat seorang dosen mulai memasuki ruang kuliah. Mereka kembali melakukan aktifitas belajar di dalam ruangan itu.


...⚜⚜⚜...


"Dimana kak Kai? Mengapa dia tidak menjemputku hari ini?" tanya Zen kepada Vann yang hari ini bertugas menjemput Zen.


"Tuan Kai sedang pergi ke desa Nahui Guizhou. Tadi pagi dia mendapat kabar bahwa ibunya sedang dirawat karena sakit. Dia tidak sempat pamit kepada tuan Zen." jawab Vann dengan sopan.


"Ibu tuan Kai tinggal bersama adiknya sepupunya." jawab Vann dengan nada rendah.


"Mengapa tidak diajak ke Beijing saja dan tinggal bersama kak Kai?" tanya Zen yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Saya tidak mengerti, Tuan Zen. Mungkin karena tuan Kai pasti akan selalu sibuk bekerja saat di Beijing." jawab Vann seadanya.


"Hhm ... Oh ... oya, Vann. Tolong antar aku ke alamat ini sekarang!" kini Zen mulai memperlihatkan sebuah alamat melalui ponselnya kepada Vann.


"Baik, Tuan." jawab Vann lalu segera mencari alamat itu melalui map di ponselnya.


Mobil itu mulai mempercepat lajunya dan mulai membelah jalanan yang sudah sedikit ramai untuk menuju ke suatu tempat yang sudah Zen pinta.


Setelah beberapa saat akhirnya mobil itu mulai memasuki sebuah kawasan perumahan warga. Vann segera menempikan mobilnya dan parkir.

__ADS_1


"Sudah sampai, Tuan. Rumah yang di maksud ini seharusnya adalah rumah di seberang jalan itu." ucap Vann sambil menatap lurus ke depan.


Terlihat sebuah rumah bergaya eropa dengan design sangat minimalis..


"Baiklah. Kau tunggu aku di sini sebentar. Aku harus menemui seseorang." ucap Zen sambil melepas sabuk pengamannya.


"Boleh saya temani, Tuan?" tanya Vann yang terlihat sedikit khawatir.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar. Dan aku akan baik-baik saja! Tenang saja ..." jawab Zen sambil membuka pintu mobil itu dan bersiap untuk keluar.


"Baiklah, Tuan. Jika butuh sesuatu hubungi saja."


"Hhm ... karena jadwalku kosong, setelah ini kita akan menyusul kak Kai!"


"Baik, Tuan."


Kini Zen mulai menuruni mobil itu. Seperti biasa dia sudah lengkap memakai topi hitam dan masker hitam juga. Dia mulai melenggang dengan langkah lebar dan begiti gagah mendatangi rumah itu.


Terdapat beberapa tanaman hias di halaman rumah itu. Terasa begitu sejuk dan indah. Zen terus melenggang hingga dia sampai pada pintu utama dari rumah itu. Kemudian dia menekan bel tumah itu.


Beberapa saat pintu mulai terbuka. Terlihat seorang wanita paruh paya dibalik pintu itu. Keningnya berkerut menatap Zen yang masih memakai masker dan topi. Membuat guratan-guratan yang lebih nyata pada wajahnya yang menandakan dia sudah tidak muda lagi.


Zen yang tanggap segera menurunkan maskernya dan memperlihatkan wajah tampannya.


"Permisi. Selamat siang." sapa Zen dengan ramah. "Saya sedang mencari Pak Xu Han. Apa dia ada?" imbuhnya masih ramah.


"Xu han? Kamu siapa?" tanya wanita paruh baya itu masih dengan kening berkerut.


"Saya adalah salah satu mahasiswa yang pernah dia ajar." jawab Zen dengan asal.


"Oh ... baiklah. Masuklah, Nak. Akan aku panggilkan dia." jawab wanita paruh baya atau lebih tepatnya nenek itu lalu berbalik dan mulai memasuki rumah itu.

__ADS_1


Zen mulai mengikutinya dan memperhatikan sekitarnya. Ada beberapa benda-benda kuno di dalam rumah ini. Dan Zen juga menangkap sebuah figura besar yang tergantung di ruang tamu yang membuatnya terdiam beberapa saat.


__ADS_2