
Wajahnya terlihat begitu hangat menikmati panorama indah yang terbentang di hadapannya saat ini. Lautan luas itu membuatnya menjadi sedikit merasa lebih tenang, setelah dia mengalami beberapa liku-liku kehidupan yang begitu membuatnya sedikit jauh dari orang-orang tersayangnya.
"Yuna ... kau pasti sedang begitu mengkhawatirkanku saat ini. Lagi-lagi ragaku diserang oleh seseorang ..." guman Zen begitu pelan dan menerawang jauh mengingat istri tersayangnya.
"Zen ..." suara seorang pria yang begitu hangat terdengar mengalun memenuhi ruang telinga Zen seketika.
Zen masih saja menatap lurus lautan indah di hadapannya itu tanpa menatap pria yang baru saja datang menghampirinya.
"Apa kau baik-baik saja, Zen?" ucap pria itu lagi karena Zen masih saja terlihat menatap lurus lautan luas di hadapannya.
"Hhm. Aku baik-baik saja, Kak Kai." Zen menyauti dengan begitu datar namun tenang.
"Mengapa kamu bisa mengetahui jika gadis itu sudah meninggal? Padahal saat itu dia dalam posisi telungkup, bahkan saat itu darah segar belum mengalir dan membanjiri membasahi karpet itu." ucap kak Kai yang masih bingung dengan hal yang terjadi malam itu.
"Pisau itu tepat mengenai jantungnya. Meskipun pelaku melakukan tusukannya dengan begitu ragu, hingga membuatnya melakukannya berkali-kali karena dia melakukannya dengan sangat buruk ... namun akhirnya dia bisa melukai jantung korban. Setelah gadis itu ambruk, darah segar memang belum terlihat saat itu, namun aku sudah begitu mencium aroma dari darah segar itu! Dan hal seperti itu sudah begitu tak asing untukku." Zen menyauti dengan begitu santai, namun itu membuat kak Kai semakin mengerutkan keningnya.
"Lalu, bagaimana kamu bisa menemukan dan membaca pelaku yang sedang bersembunyi di atas atap ruang kebugaran saat itu? Bahkan anggota keamanan hotel saja tidak bisa membaca semua itu." selidik kak Kai yang masih mengamati sisi wajah tampan Zen dari samping.
Angin laut itu menerbangkan beberapa helai rambut kedua pria bersaudara itu dan membuatnya begitu menawan. Pakaian yang mereka kenakan juga melambai-lambai karena terpaan angin laut kala senja itu.
__ADS_1
"Hanya insting. Aku sudah banyak berkecimpung di dunia seperti ini, Li Kai. Namau sekarang akan berubah menjadi Li Kai bukan?" kini Zen menatap kak Kai dengan senyuman misteriusnya.
Kedua manik-manik kak Kai sedikit bergetar menatap Zen saat ini, "Kau bukan Zen ... siapa kau?"
"Aku? Tentu saja Aku adalah Li Zeyan! Adik satu-satunya dari Li Kai!" jawab Zen dengan senyum lebar dan mulai berbalik dan melenggang beberapa langkah. "Mari masuk ke dalam, angin laut sudah semakin kencang dan terasa cukup dingin! Amee dan kakek Li Feng juga sudah menunggu kita untuk makan malam." Zen mulai melenggang kembali meninggalkan kak Kai dan mulai bergabung bersama Amee dan kakek Li Feng.
Sementara kak Kai masih saja mengawasi kepergian Zen yang semakin melenggang meninggalkannya, dan akhirnya kak Kai mulai mengikuti Zen.
Zen begitu berbeda setelah mengalami kecelakaan saat itu. Kecelakaan 4 bulan yang lalu telah merubah semua tentangnya. Namun mengapa aku merasa jika sebeanarnya ada sesuatu lainnya yang sedang terjadi saat ini. Atau ... apakah ini hanya perasaanku saja? Zen yang sekarang memang lebih keren dan tegas, namun aku juga merindukan Zen yang dulu. Zen yang selalu ramah dan lembut dan tersenyum hangat kepadaku. Entah mengapa aku merasa jika saat ini mereka bukanlah orang yang sama. Sepertinya aku harus lebih mengawasinya kali ini.
Batin kak Kai yang masih berjalan di belakang Zen dan terus mengawasi Zen. Sementara Zen mulai berbincang kembali bersama kakek Li Feng dan Amee, dan mereka terlihat begitu akrab.
"Kakak ada masalah?" ucap Amee yang sepertinya sudah memperhatikan raut wajah kak Kai sedari tadi.
Raut wajah yang seperti sedang memikirkan sesuatu dan sedang menanggung sebuah beban saat ini.
"Tidak, Amee. Ayo masuk! Udara semakin dingin disini." ucap kak Kai dengan pelan lalu mulai melenggang melalui Amee begitu saja.
Amee segera mengikuti di belakang kak Kai. Kini mereka akan kembali ke kamar mereka untuk mandi dan bersiap-siap untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Keluarga Li mengambil suite stateroom, yaitu kabin dengan ukuran yang lebih besar dan ideal untuk para keluarga. Biasanya suite stateroom memiliki ruang tidur dan ruang tamu yang terpisah, serta dilengkapi sebuah balkon yang bisa melihat dan menikmati pemandangan hewan laut atau gletser yang lebih eksklusif.
Setelah membersihkan diri, kini mereka sudah terlihat begitu rapi dan harum. Kakek Li Feng, kak Kai dan Zen terlihat mengenakan setelan jaz berwarna gelap yang terlihat begitu mewah dan memukau. Sedangkan Amee terlihat mengenakan sebuah dress panjang berwarna tawny nut yang membuatnya terlihat begitu anggun dan menawan.
Kini mereka menuju ke salah satu restoran di dalam kapal pesiar yang mewah ini yang terletak di dek 10.
Restauran di dalam kapal pesiar World Dream Cruise dipenuhi dengan nuansa klasik yang begitu glamour dan fantastis. Semua dipenuhi dengan nuansa cream keemasan. Langit-langit di desain dengan begitu indah dengan ukiran dan lampu gantung yang begitu besar dan berkilau.
Meja-meja yang berbentuk lingkaran dan berdiameter kira-kira 2 meter dihiasi dengan taplak berwarna merah maroon yang berkilauan dan menjuntai hingga ke lantai. Karpet mewah dengan ukiran-ukiran klasik menghiasi segala penjuru restoran ini.
Lampu-lampu kekuningan yang berukuran sedang juga menghiasi mengitari bagian tengah ruangan restoran ini. Beberapa pilar penyangga juga berdiri dengan kokoh pada beberapa titik.
Kini mereka mulai memilih sebuah tempat duduk dan mulai mencicipi beragam hidangan mewah dengan kualitas terbaik yang sudah disajikan di meja bundar itu. Restoran ini bukan hanya di satu tempat dengan konsep buffet atau prasmanan, tetapi juga di restoran fine dining!
Restoran ini mempunyai spesialisasi hidangan Asia dan Western, berkonsep anytime dining, jadi penumpang bisa datang untuk melakukan santap malam tanpa harus melakukan reservasi sebelumnya.
Sama seperti restoran lainnya yang berada di kapal World ****** Cruise, nuansa klasiknya begitu kental. Kursi kayu, wallpaper bertema vintage, menciptakan kesan nan mewah. Menu makanan yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari salad, pasta, sup, aneka seafood, dan wonton soup.
Sepiring sup dengan kuah kaldu bening dan bokchoy segar memenuhi mangkuk. Di baliknya, ternyata ada potongan cumi dan udang segar. Kuahnya begitu gurih, segar, dan terasa hangat di tenggorokan. Potongan cumi dan udangnya terasa segar dan empuk. Cuminya pun tidakk alot. Sebuah hidangan pembuka yang ringan dan nikmat mulai dinikmati oleh keluarga Li.
__ADS_1