
Terlihat dua orang pria yang yang masih cukup muda sedang duduk di sebuah ruangan VIP restaurant Turki itu. Sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah dan terpisah dari tempat lainnya dengan pembatas kaca.
Kedua pria muda itu berpakaian sangat rapi dan terlihat sangat berkelas dan necis. Tak lama kemudian dua orang pria yang tak kalah menawan mulai mendatangi mereka berdua.
"Selamat pagi ..." sapa kak Kai dengan ramah dan tersenyum lebar. "Jalanan sedikit macet, maaf kami sedikit terlambat."
Sementara Zen terlihat menatap tajam salah satu pria yang sedang terduduk itu.
"Tidak apa-apa. Silakan duduk!" ucap salah satu pria dengan style rambut rapi disisir kesamping dengan sangat ramah.
Kak Kai segera duduk di hadapan mereka diikuti oleh Zen dengan wajah sinisnya yang masih menatap pria di hadapannya itu. Zen menghempaskan tubuhnya di atas tempat duduk berwarna keemasan dan terlihat begitu mewah itu.
Seperti biasa Zen duduk dengan begitu santai, dengan kaki kanan diangkat di atas kaki kirinya. Sementara kedua tangannya saling disilangkan di depan dadanya.
"Ehm. Begini ... maksud kami mengundang Zen dan kak Kai adalah ingin membicarakan soal kejadian di pesta ulang tahun An Jiu malam itu." ucap salah satu pria yang terlihat sangat ramah. "Saat itu Lu Yuan sedang mabuk. Jadi dia sedikit membuat kericuhan malam itu. Kami meminta maaf atas kejadian malam itu." kini pria yang mungkin adalah manager dari Lu Yuan berganti menatap Zen dengan wajah yang begitu ramah.
Tidak seperti Lu Yuan yang terlihat seperti tidak bersalah saja. Wajah dan gayanya terlihat begitu dingin dan tidak ramah.
"Aku ingin mendengar permintaan maaf langsung dari dia!" potong Zen yang masih menatap sinis Lu Yuan dengan sedikit menyeringai manis.
Sesaat Lu Yuan sedikit menatap Zen dengan sinis dan terlihat begitu tidak menyukai permintaan Zen.
Manager itu seketika menunjukkan berekspresi tidak enak dan melirik Lu Yuan, "Lu Yuan. Minta maaflah dengan benar ..."
Lu Yuan menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan segera duduk dengan tegap.
"Aku minta maaf, Zen. Aku mabuk dan tidak sadar malam itu." ucap Lu Yuan yang terlihat begitu berat.
__ADS_1
"Sesuatu yang terjadi dan semua yang kita katakan saat sedang tak sadarkan diri ... biasanya itulah yang benar-benar sedang kita rasakan ... yang biasanya kita sembunyikan dengan baik." Zen menyauti dengan senyum misterius menatap Lu Yuan.
Sementara yang ditatap seketika sedikit terkejut dan membelalakkan mata. Lu Yuan juga terlihat mengeraskan rahangnya.
"Ehm ... Zen. Aku tidak tau pembicaraan kalian malam itu. Tapi tolong maafkan Lu Yuan. Dia mungkin memang benar-benar tidak sadar dan asal bicara malam itu." manager Lu Yuan dengan cepat menjawab Zen.
"Benarkah seperti itu?" jawab Zen masih menatap Lu Yuan dengan senyum sinis. "Tentang mengharapkan kematianku bahkan itu juga kau anggap lelucon?"
"Maaf ... aku benar-benar minta maaf. Aku sangat kacau saat mabuk." ucap Lu Yuan dengan nada rendah. "Aku bahkan tidak mengingat dengan baik kejadian malam itu."
"Baiklah. Aku akan melupakan kejadian malam itu. Tenang saja." lagi-lagi Zen menyunggingkan sebuah senyuman misterius. Mungkin saja Kagami Jiro bisa membaca bahasa tubuh dan aura dari Lu Yuan yang sedikit misterius dan ada yang masih tersembunyi.
"Terima kasih." sahut Lu Yuan dengan senyuman yang terlihat begitu terpaksa.
"Kalian adalah rekan. Jadi saling akrablah. Pasti juga akan sering bertemu karena pekerjaan." ucap kak Kai dengan ramah.
"Tentu saja, Kak. Aku tidak akan mungkin membuat masalah jika tidak ada seseorang yang menyulut api. Tenang saja." Zen menyauti dengan senyum lebar dan masih menatap Lu Yuan.
"Tidak sarapan dulu, Jihyun?" tanya kak Kai menawari.
"Kami take away. Karena sangat sedang terburu-buru." jawab manager itu dengan ramah.
"Oh baiklah. Hati-hati ..."
"Baik. Kami permisi." manager Jihyun dan Lu Yuan membungkukkan badan dan segera melenggang meninggalkan tempat itu.
Kak Kai dan Zen segera memesan makanan dan setelah menunggu beberapa saat seorang waitress muda dan cantik datang membawakan pesanan makanan mereka. Waitress itu sempat menatap Zen lama karena kagum, atau mungkin dia adalah salah satu penggemar dari artis Li Zeyan.
__ADS_1
"Ehem ..." kak Kai berdehem dan membuyarkan angan waitress cantik itu. Dengan malu dan tergesa-gesa dia segera undur diri.
Kak Kai dan Zen mulai menyantap makan pagi dengan sajian ala Turki. Kafe ini menyajikan berbagai pilihan menu sarapan ala Turki yang terdiri dari telur, börek, sosis, salami, hingga sup.
Kelezatan dari masakannya sudah sangat tersohor dan menjadi salah satu restoran yang digemari oleh masyarakat lokal maupun wisatawan Turki.
"Kau menyukainya Zen?" tanya kak Kai sambil menikmati sarapan paginya.
"Semua lelaki juga pasti akan menyukainya. Cantik dan molek. Tapi tentu saja suka sangat berbeda dengan cinta." Zen menjawab dengan santai.
Karena dihatiku hanya ada Yuna seorang. Tidak akan ada yang bisa menggantikannya lagi. Ah ... aku rindu dia. Aku bahkan rindu sentuhannya ...
Batin Zen tersenyum sendiri.
"Zen. Kakak sedang membicarakan masakan Turki. Apa kau sedang membicarakan waitress tadi?" ucap kak Kai sedikit membulatkan matanya menatap Zen.
Mendengar ucapan dari kak Kai membuat Zen tersedak seketika. Zen segera meraih segelas Turk Kahvesi-nya.
Turk Kahfezi adalah salah satu minuman khas Turki yang cukup populer. Minuman yang satu ini merupakan kopi Turki kenal memiliki cita rasa gurih. Cita rasa dan aroma yang kuat menjadikan minuman ini cocok dicoba khususnya untuk pecinta olahan kopi.
Minuman yang satu ini biasa disajikan dari teko dengan gagang panjang yang memiliki sebutan cezve. Kopi khas Turki yang satu ini biasa dikonsumsi bersama dengan hidangan permen Turki.
Sedangkan kak Kai juga mulai meraih segelas Turkish tea-nya. Sesuai dengan namanya, minuman yang satu ini merupakan teh khas Turki. Turkish tea juga sering disebut dengan cay. Minuman ini menjadi salah satu minuman wajib di Turki.
Hal yang membedakan teh ini dengan teh pada umumnya adalah Turkish tea memiliki rasa yang kuat dan manis alami. Minuman ini biasa disajikan pada gelas khusus yang berbentuk menyerupai bunga tulip. Proses pembuatan teh ini juga dikenal unik yakni dengan menggunakan pot tanah liat.
"Sory, Kak. Aku kira kakak sedang membicarakan gadis itu. Ahahaha ..." celutuk Zen dengan tawa kecil.
__ADS_1
Kak Kai yang mendengar ucapan Zen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan senyum gemas.
"Selamat pagi." tiba-tiba terdengar sapaan seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Seketika kak Kai dan Zen mulai mendongak menatap gadis itu.