Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Dekat Namun Jauh


__ADS_3

Kini Yuna menatap Zen dengan tajam dan auranya sangat menakutkan. Perlahan wanita cantik namun garang itu mulai melenggang mendekati Zen.


"Kau! Ikut denganku!" tandas Yuna sambil menatap Zen dengan tajam lalu melenggang begitu saja. Irama teratur yang berasal dari high heelsnya perlahan terdengar mulai menjauh.


Zen segera bangkit dari duduknya dan berniat untuk segera mengikuti Yuna.


"Tapi Zen ..." sergah kak Kai yang terlihat begitu khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku hanya pergi untuk berbicara sebentar dengan nyonya." sahut Zen dengan santai dan tersenyum tipis.


Zen menepuk bahu kak Kai lalu berbalik dan melenggang untuk segera menyusul Yuna.


Kini Yuna sudah berada di halaman samping rumah yang di depannya ada taman yang begitu indah. Begitu banyak jenis bunga yang ditanam di taman itu. Sangat indah. Beberapa saat Zen sudah menyusulnya dan berdiri di belakang wanita cantik itu.


Zen masih menunggu Yuna dengan sabar untuk berbicara dengan senyum tipisnya. Dia berdiri dengan tegap dan kedua tangan masih dimasukkan pada saku celananya. Senyumnya selalu terukir dengan manis ketika berhadapan dengan sang istri.


"Sebenarnya siapa kamu?!" tanya Yuna to the point. Kini wanita cantik itu berbalik dan menatap Zen dengan tajam. "Dan apa yang sedang kamu lakukan di rumahku?!" imbuhnya dengan tajam.


Sementara yang ditatap hanya tersenyum tipis namun begitu manis.


"Pemilik tubuh ini adalah Li Zeyan. Namun jiwaku adalah suamimu, Kagami Jiro ... Apa kau akan percaya jika aku berkata seperti itu?" ucap Zen datar. "Dan aku datang kesini adalah untuk memenuhi undangan Yosuke."


Kening Yuna mengkerut dan dia membuka mulutnya cukup lebar. Sepasang matanya kini juga membulat sempurna menatap Zen. Kini dia melangkahkan kakinya dengan lebih cepat untuk mencapai Zen.


"Kau fikir aku akan percaya dengan semua omong kosongmu, Bocah?! Jangan pernah berfikir kamu bisa mempermainkanku!" Yuna melayangkan bogemnya dan menjadikan dada Zen sebagai targetnya.


Namun dengan cepat, Zen bisa menangkapnya, "Huft ... sudah aku duga kau tidak akan mempercayaiku, Yuna!"

__ADS_1


"Kau sungguh tidak punya sopan santun! Panggil aku nyonya!" tandas Yuna lagi.


"Hufft ..." Zen menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sangat pusing. "Yuna, tidakkah kau mengenaliku sama sekali?"


Yuna masih menatap tajam Zen yang kini berdiri tepat di hadapannya. Dia mendongak karena Zen begitu tinggi seperti suaminya, Jiro. Hanya saja Zen sangat ramping.


Kontak mata yang terjadi antara keduanya cukup lama. Namun tetap saja Yuna tidak bisa mengenali Zen.


"Aku bisa membuktikan kalau aku adalah suamimu ..." ucap Zen kembali meyakinkan Yuna.


"Cukup!" tandas Yuna dengan tajam dan dingin.


"Kau memiliki tahi lalat tipis di bagian dada sebelah kanan, dan juga di paha bagian kanan." ucap Zen dengan penuh keyakinan.


Sontak saja sepasang mata Yuna membelalak kembali dan dengan cepat dia memperhatikan pakaiannya kembali untuk memastikan dia tak salah berpakaian pagi ini. Yeap, memang tidak salah. Hari ini Yuna sudah mengenakan pakaian formal dengan atasan kemeja putih lengan panjang dengan bagian lengan yang agak dinaikkan hingga mencapai siku. Sementara dia memakai bawahan celana kulot hitam dengan kancing mencapai bagian perut, kulot itu sedikit press body, tetapi sedikit longgar dan mengembang pada bagian bawahnya. Terlihat begitu cantik, modis dan stylish.


Batin Yuna sedikit bergidik ngeri, namun dia bisa mencovernya dengan sikap dinginnya.


"Dasar otak mesum! Beraninya kau!" cecar Yuna yang kini menarik tangan kanannya yang tadi masih digenggam Zen, kemudian melayangkan bogemnya kembali untuk mencapai wajah Zen.


Tentu saja dengan sigap Zen langsung menangkapnya. Dan malah tersenyum manis menatap Yuna.


"Apa aku harus menceritakan malam pertama kita saat itu juga? Malam yang begitu panas dan sangat menggairahkan ..." ucap Zen dengan senyum nakalnya.


"Dasar bocah mesum gila!" hardik Yuna lalu menjegal kaki Zen.


Sedangkan Zen hanya sedikit menghindarinya. Yuna kembali menghujani tubuh Zen dengan tinju-tinjunya, sedangkan Zen hanya menahannya dengan kedua tangannya dan tak kuat menahan tawa karena gemas melihat tingkah dari Yuna, istrinya.

__ADS_1


"Hentikkan, Yuna. Ini hanya akan membuang energimu ..." ucap Zen setelah sekian menit Yuna berusaha melayangkan tinju bertubinya untuk Zen.


"Aku sungguh tak mengerti dengan kak Yosuke! Mengapa bisa mengenal bocah gila sepertimu!" ucap Yuna dengan wajah begitu kesal. "Saat suamiku sudah sadar. Kupastikan kau akan habis di tangannya!" ancam Yuna.


Lagi-lagi Zen dibuat tertawa oleh ancaman dari Yuna, "Aku akan menunggu hingga saat itu tiba ..." kini Zen menangkap kedua lengan Yuna agar wanita itu menghentikkan serangannya.


"Yeap. Tunggu saja! Dan hitung saja detik-detik terakhir menuju kematianmu!" geram Yuna sambil menepis kedua tangan Zen dengan kasar. "Satu lagi aku ingatkan padamu! Jangan pernah kau mendekati Kenzi dan Kenzou!" imbuhnya dengan tajam.


Zen terdiam beberapa saat tak bisa menjawab permintaan dari Yuna yang sangat membuatnya bingung. Bagaimana seorang ayah harus menjauhi buah hatinya sendiri?


"Li Zeyan ..." tiba-tiba terdengar sapaan seorang pria dengan suara berat dan serak.


Zen dan Yuna segera menoleh ke arah pemilik suara, dan ternyata itu adalah suara dari Kagami Yosuke.


"Selamat pagi, kak Yosuke!" sapa Zen dengan ramah dan tersenyum lebar.


"Maaf sudah membuatmu lama menunggu." sahut Yosuke dengan ramah dan mulai berjalan mendekati Zen dan Yuna.


"Tidak kok, Kak." sahut Zen dengan senyum lebar. "Karena nyonya Jiro telah menemaniku untuk mengobrol. Jadi aku merasa tidak terlalu bosan." ucap Zen dengan begitu ramah.


"Apa?!" kini Yuna terlihat begitu tercengang karena melihat Zen yang berusaha bersikap manis dan berusaha mendapatkan hati dari adik iparnya. Tidak seperti saat berbicara dengan dirinya, begitu ceplas-ceplos dan suka asal bicara.


"Adik ipar!" kini Yuna berjalan mendekati Yosuke dan sedikit menarik Yosuke untuk sedikit menjauh dari Zen.


Zen hanya memicingkan mata menatap keduanya yang sedikit berjalan menjauh darinya. Kedua tangannya masih dimasukkannya ke dalam saku celananya.


"Darimana adik ipar mengenal bocah tengik tak tau diri itu?" tanya Yuna kepada Yosuke dengan ekspresi yang begitu serius.

__ADS_1


"Hhm? Kemarin dia menjengukku di rumah sakit. Dan aku merasa dia sangat baik. Dan hari ini aku mengundangnya untuk makan siang bersama." jawab Yosuke dengan begitu santai. "Dia adalah seorang Idol besar di Beijing. Dia juga sudah berjanji akan membantu kubu kita. Entah dalam segi apa dan bagaimana ... tapi aku rasa dia akan memberikan pengaruh yang cukup besar!" imbuh Yosuke dengan penuh keyakinan.


__ADS_2