Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Bangunlah, Zen!


__ADS_3

Xia Feii adalah gadis yang pada malam hari itu diselamatkan oleh Zen. Ketika raga Zen terbangun dari koma, dan jiwa dari Kagami Jiro memasuki tubuh Zen saat itu. Dan malam itu Zen yang kabur dari rumah sakit hanya untuk membeli baijiu dan rokok malah bertemu dengan seorang gadis yang hampir saja dicelakai oleh seorang preman di tengah gang sempit itu. Dan gadis itu adalah Xia Feii.


"Zen sudah berhasil melewati masa kritis. Dan dia sedang menjalani masa pemulihan. Untuk beberapa hari ini biarkan dia beristirahat disini dulu. Aku akan merawatnya dan akan memberikan obat herbal yang akan aku racik sendiri."


"Mengapa tidak membawanya ke rumah sakit saja? Dan memanggil dokter luar negeri jika memang lukanya serius?" ucap Yunxi tiba-tiba.


Namun kak Kai segera menatap Jin Heng agar dia diam dulu.


"Tuan, aku adalah juga seorang dokter spesialis bedah di sebuah rumah sakit besar. Dan luka dalam di tubuh Zen adalah disebabkan oleh racun, yang disebabkan oleh pisau parysatis. Racun itu bukan sembarang racun. Racun itu bahkan belum memiliki penawarnya di rumah sakit manapun. Maka dari itu, aku menawarkan diri untuk mengangkat kembali racun mematikan itu menggunakan jarum-jarum dengan teknik akupunturku. Dan pengobatan yang dilakukan adalah sebaiknya dengan pengobatan herbal. Dan aku akan meracik obat dengan resep yang sudah diturunkan turun temurun pada keluarga Xia." ucap Xia Feii dengan mimik wajah serius.


"Baiklah, Nona Xia Feii. Kami juga akan bergantian menjaga Zen." jawab kak Kai akhirnya. "Terima kasih sudah menyelamatkan Zen. Tidak tau bagaimana nasib Zen jika tidak bertemu nona Xia Feii malam ini."


"Tidak perlu berterima kasih. Karena sebelumnya Zen sudah pernah menyelamatkan hidupku." ucap Xia Feii dengan senyum manis.


"Zen menolong nona Xia Feii sebelumnya? Kapan?" tanya kak Kai mengkerutkan keningnya menatap Xia Feii.


"Hhm. Dan itu terjadi sudah 3 bulan yang lalu."


Tiga bulan yang lalu? Bukankah saat itu Zen masih dirawat di rumah sakit? Dan lagi Zen masih belum pulih sepenuhnya saat itu.


Batin kak kak Kai tidak mengerti.


"Nona. Kalau boleh tau mengapa nona Xia Feii langsung mengetahui jika Zen terkena racun itu sejak awal?" tanya kak Kai sedikit curiga.


Xia Feii tersenyum tipis lalu berbalik dan menatap tubuh Zen dari kejauhan yang masih saja terbaring lemah.

__ADS_1


"Karena setelah mendapat sayatan itu tiba-tiba saja tubuh Zen begitu pucat, berkeringat dan detak jantungnya mulai melemah."


Beberapa saat Jin Heng dan Nokto terlihat sudah kembali. Mereka berdua segera datang dan menghadap kak Kai.


"Tuan Kai ... kami sudah mengecek seluruh rekaman CCTV. Dan tidak ada yang mencurigakan yang terjadi. Setelah lampu menyala juga tidak ada yang meninggalkan bar itu sampai polisi datang." ucap Jin Heng melaporkan.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Ini sungguh tidak masuk akal!" ketus kak Kai terlihat begitu tidak puas akan laporan dari Jin Heng


"Aku akan memberikan info berharga untuk kalian!" ucap Xia Feii memotong pembicaraan mereka. "Senjata pisau parysatis bukanlah senjata biasa dan senjata itu hanyalah dimililiki oleh beberapa orang pembunuh bayaran di China."


"Pembunuh bayaran?" ucap kak Kai sangat terkejut bukan main. "Tapi ... siapa yang melakukan semua itu? Menyewa seorang pembunuh bayaran untuk mencoba mengakhiri Zen?" imbuh kak Kai hampir tidak percaya.


"Apakah Zen akhir-akhir ini punya masalah dengan seseorang?" tanya Xia Feii sangat ingin tau.


"Aakkhh ..." rintih Zen tiba-tiba.


Kak Kai segera melangkah cepat mendekati Zen diikuti oleh Xia Feii. Zen terlihat masih memejamkan matanya dan sedikit menggeliat.


"Sakit sekali ..." rintihnya pelan. "Yuna ..." gumamnya pelan sekali masih dengan mata terpejam.


Xia Feii segera berinisiatif mencari sesuatu di dalam lemari klasiknya dan lekas mencari sesuatu dengan terburu-buru. Kemudian dia kembali lagi dengan membawa sebuah botol kaca bening yang berisikan beberapa butiran obat yang bentuknya menyerupai kelereng berwarna keemasan.


Dengan hati-hati, Xia Feii membuka mulut Zen dan memasukkan sebutir obat keemasan itu, lalu mengusap dan sedikit memijat leher Zen agar obat itu tertelan oleh Zen.


Kak Kai hanya terdiam menyaksikan semua ini dan hanya bisa menunggu saja Xia Feii melakukan pengobatannya untuk Zen.

__ADS_1


"Tenang saja. Obat ini akan aman untuk dikonsumsi. Karena obat ini adalah ramuan herbal racikanku sendiri dan berasal dari dari rumput muzhi. Dan khasiat dari obat ini adalah sangat luar biasa." ucap Xia Feii yang berhasil menjawab kegundahan kak Kai dalam diam.


"Terima kasih banyak, Nona Xia Feii. Aku tidak akan melupakan kebaikan hati nona Xia Feii." ucap kak Kai begitu tulus.


"Hhm. Aku akan pergi ke kamarku. Kalian juga beristirahatlah." ucap Xia Feii lalu mulai melenggang beberapa langkah.


Namun tiba-tiba saja tubuh Xia Feii terhuyung dan mau terjatuh. Kak Kai yang berada tak jauh darinya, dengan cepat segera menangkap tubuh Xia Feii.


"Nona ... anda baik-baik saja?" tanya kak Kai sedikit khawatir karena tiba-tiba saja gadis itu terlihat begitu pucat.


"Aku baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit kelelahan karena mengeluarkan cukup banyak energi." ucap Xia Feii berusaha untuk kembali berjalan, namun dia kembali terhuyung dan mau terjatuh lagi. Dengan cepat kak Kai menangkap tubuh Xia Feii kembali.


"Mari ku antar. Nona Xia Feii sangat pucat." ucap kak Kai lalu memapah Xia Feii menuju kamarnya lalu membantu membaringkannya.


Kak Kai yang menyadari Xia Feii yang tiba-tiba saja demam, kini meminta Yunxi untuk menyiapkan air hangat untuk mengkompresnya. Bahkan tubuhnya sudah begitu panas dan dia sudah menggigil. Kak Kai menarik sebuah selimut dan memakaikan untuk Xia Feii.


"Pasti kau sangat kelelahan setelah mengeluarkan banyak energi untuk menyelamatkan Zen. Kini aku juga akan berusaha untuk merawatmu juga." gumam kak Kai pelan dan memandang wajah cantik yang kini menjadi pucat.


Setelah beberapa saat, Yunxi sudah datang dengan membawa sebuah baskom berukuran sedang yang berisi air hangat. Perlahan kak Kai mulai mencelupkan sebuah handuk kecil ke dalam baskom itu, lalu memerasnya. Kemudian dia mulai mengkompres kening Xia Feii.


Setelah melakukannya secara berulang-ulang, kini kak Kai meninggalkan kamar itu, agar Xia Feii bisa beristirahat.


Kak Kai mulai kembali untuk menjaga Zen. Dia mulai menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Zen.


"Zen ... kamu harus segera pulih kembali ..." gumam kak Kai lalu menyandarkan tangan dan sikunya di atas pembaringan itu, lalu kak Kai mulai meletakkan kepalanya di atas lengannya.

__ADS_1


__ADS_2