Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Mimpikah Ini?


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Christal, Yuna mulai berjalan mendekati brankar untuk mendatangi Kagami Jiro kembali. Perlahan dia menarik kursi dan duduk disamping brankar.


Yuna meraih jemari yang berukuran hampir dua kali lebih besar dari jemarinya itu. Sepasang matanya masih sedikit berair karena haru.


"Aku akan membantumu untuk mengingat semuanya ..." ucap Yuna begitu lirih dan menatap Kagami Jiro dengan hangat. "Semuanya ... bahkan tentang kenangan kita ..."


Kagami Jiro hanya terdiam dengan ekspresi datar menatap Yuna. Dia tidak tau harus berkata dan berbuat apa saat ini. Situasi yang begitu membingungkan untuknya membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.


Apalagi jiwa dari seorang Li Zeyan, pria yang selalu ramah, lembut, murah senyum, sopan dan menghargai orang lain. Bahkan dia sangat baik terhadap semua orang. Meskipun namanya pernah melambung dan menjadi nomor satu, namun dia tidak pernah sombong dan merasa tinggi. Karena dia pernah mengalami masa ketika dirinya berada di titik terendah dalam kehidupannya.


"Tidak apa-apa. Perlahan kamu pasti akan mengingat semuanya dengan baik. Kita lakukan pelan-pelan saja." ucap Yuna dengan tersenyum hangat menatap suaminya, dan dia juga mengusap lembut bagian wajah sisi kiri Kagami Jiro dengan jemarinya. Mereka masih melakukan kontak mata beberapa saat.


"Ehem ..." tiba-tiba Christal berdehem. "Kalau begitu aku akan pulang, Kak. Besok aku akan kembali setelah pulang sekolah!" imbuhnya lalu meraih dan menggendong ranselnya.


"Hhm. Hati-hati dan langsung pulang!" ucap Yuna yang kini melengos menatap Christal.


"Okay! Bye ..." Christal tersenyum dan melambaikan tangan lalu segera meninggalkan ruangan itu.


Kini suasana menjadi hening kembali.


"Sayang ... mau aku pesankan takoyaki?" ucap Yuna dengan wajah berbinar.


"Takoyaki?" ucap Kagami Jiro sangat kebingungan.


"Hhm. Takoyaki adalah salah satu makanan kesukaan kamu. Aku akan memesannya untukmu, Sayang." Yuna tersenyum lebar dan mulai perogoh ponselnya untuk memesan makanan.


"Ehm ... maaf. Tapi ... bolehkah aku memilih sesuatu untuk aku makan? Uhm ... saat ini aku sedang ingin memakan red velvet." ucap Kagami Jiro dengan sangat sopan.


"Red velvet?" tanya Yuna sangat terkejut. Tentu saja, karena selama ini Kagami Jiro tidak menyukai makanan manis. Suaminya lebih menyukai takoyaki atau makanan tradisional Jepang lainnya.


"Iya. Bolehkan aku?" tanya Kagami Jiro lagi.

__ADS_1


"Oh ... iya ... akan aku pesankan. Sebentar ..." kini Yuna terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kalau boleh tau ... apa hubungan diantara kita? Mengapa kau memanggilku sayang? Apa aku adalah kekasihmu, Kakak?" ucap Kagami Jiro dengan sangat hati-hati dan menghormati wanita yang terlihat sudah cukup dewasa tapi masih sangat cantik itu.


Dia memanggil Yuna kakak karena tentu saja Yuna terlihat seperti wanita dewasa yang tentunya memiliki umur yang lebih tua jika dibanding oleh Zen. Itulah pemikiran Kagami Jiro saat ini.


Seketika Yuna dibuat melongo oleh pertanyaan Kagami Jiro. Sepasang matanya indahnya membulat sempurna, dan mulutnya yang mungil kemerahan menganga cukup lebar. Mungkin lalat saja akan bisa masuk seketika.


"Sayang ... mengapa memanggilku kakak?" tanya Yuna sangat terkejut dan tidak mengerti.


"Eh ... itu ... karena aku menghormatimu tentu saja." jawab Kagami Jiro seadanya dan sedikit meringis.


"Kita bukanlah sedang perpacaran ... namun aku adalah istrimu."


Kini Kagami Jiro yang dibuat melongo cukup lebar oleh ucapan Yuna. Dia terlihat begitu shock saat ini. Bagaimana tidak, jiwanya adalah Li Zeyan! Seorang idol dan pemuda yang masih memiliki umur 20 tahun. Seumur hidupnya, dia bahkan belum pernah merasakan ikatan dengan gadis manapun sebelumnya.


Dan kini tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pernyataan dari seorang wanita cantik yang mengaku dia adalah istrinya. Bisa dibayangkan bagaimana shock-nya Zen saat ini? Kebenaran yang sulit dipahami dan sangat membingungkan bagi jiwa seorang Li Zeyan saat ini.


"Istri? Kamu adalah istriku?" tanya Kagami Jiro tak mengerti dan terlihat begitu sulit untuk mencerna apa yang sudah terjadi saat ini. Raut wajahnya masih terlihat begitu bingung.


"Aku? Punya anak kembar?"


Lagi-lagi pernyataan dari wanita cantik itu kini sukses membuat jiwa seorang Li Zeyan begitu terperangah dan tak tau harus bertindak seperti apa.


Seorang pemuda yang bahkan belum pernah memiliki kekasih di sepanjang hidupnya kini tiba-tiba dinyatakan sudah memiliki istri dan memiliki anak kembar begitu saja?


Aku bahkan belum pernah menjalin ikatan dengan gadis manapun. Aku tidak pernah menyentuh seorang wanita melebihi dari tuntutan akting ... tapi ... kapan aku melakukannya? Mengapa kakak ini mengatakan aku adalah suaminya dan akulah ayah dari anak-anaknya? Apakah aku mabuk saat itu? Dan tidak pernah mengingat apa yg sudah aku lakukan?


Batin Kagami Jiro sambil mengusap tengkuknya dan ekspresi wajahnya menggambarkan ekspresi sangat bersalah.


"Maafkan aku jika selama ini sudah membuat kesalahan. Namun ... pasti saat itu aku sedang mabuk. Dan aku khilaf ... dan hal itu terjadi begitu saja. Aku sungguh minta maaf, Nona." ucap Kagami Jiro dengan sangat sopan.

__ADS_1


Sungguh sebenarnya aku sangat merasa tidak yakin jika aku bisa melakukan hal seperti itu kepada seorang wanita. Apalagi wanita yang sedang duduk di hadapanku saat ini. Dia terlihat begitu elegant, dewasa dan sangat berkelas. Bagaimana mungkin aku bisa menakhlukkannya? Dan ... selama ini ... aku hanya menyukai Amee ... ini semua sangat konyol. Ternyata saat aku mabuk semua bisa berubah sangat drastis. Kak Kai akan benar-benar membunuhku kali ini! Hancur sudah semuanya. Aku sudah menghamili seorang wanita.


Batin Kagami Jiro dengan ekspesi yang tak bisa digambarkan.


"Sayang. Apa yang sedang kau bicarakan?" ucap Yuna yang semakin menatap lekat wajah pria itu dengan lebih dekat.


"Soal aku yang sudah ... uhm ... melakukan semua hal itu kepadamu ... dan membuatmu hamil ... aku sungguh minta maaf! Aku khilaf. Tapi aku ..."


"Sayang. Apa yang kamu bicakan? Kita sudah menikah. Dan tentu saja kita melakukannya setelah menikah. Dan kamu tidak sedang mabuk saat itu. Tepat 3 tahun yang lalu ... kita melangsungkan pernikahan."


"Tiga tahun yang lalu?"


"Iya. Sudahlah. Tidak apa-apa. Perlahan pasti kamu akan mengingat semuanya." ucap Yuna dengan seulas senyum yang begitu manis. "Besok aku akan mengajak Kenzi dan Kenzou mengunjungimu. Mereka pasti akan sangat senang melihat ayahnya sudah sadar." imbuhnya dengan wajah sumringah.


"Apa mereka anak-anakku?" tanya Kagami Jiro yang sebenarnya pertanyaan itu terdengar cukup konyol untuk dirinya sendiri.


Yuna mengangguk disertai senyum lebar menatap suaminya.


"Mereka sudah sangat merindukanmu, Sayang."


"Eh ... I-iya ..." ucap Kagmi Jiro sambil meringis dan kembali mengusap tengkuknya.


Tiba-tiba ponsel Yuna berdering dan dia segera merogoh benda pipih yang berada dalam slingbag super mewahnya.


"Aku angkat telpon sebentar ..." ucap Yuna meminta ijin.


"Uhm ... Baik."


Yuna segera bangkit dan mulai mengangkat panggilan itu sembari melenggang meninggalkan ruangan.


Kagami Jiro mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.

__ADS_1


"Apakah aku sedang bermimpi kali ini? Ini semua terlihat begitu aneh dan konyol. Aku? Sudah punya istri dan mempunyai anak kembar? Hah ..." gumamnya disertai tawa kecil. "Cepatlah bangun dari mimpimu, Zen!"


Kini Kagami Jiro mulai menatap sebuah cermin yang masih berada di atas pangkuannya. Sebuah cermin lucu milik Christal yang diberikan untuknya tadi. Perlahan Kagami Jiro meraih cermin itu dan berniat membuka penutupnya.


__ADS_2