
Siang itu Wan Chai University masih terlihat sama seperti biasanya. Terlihat begitu kokoh dan sangat megah. Tawa canda para mahasiswa dan mahasiswi juga menghiasi seluruh penjuru kampus elit ini.
Terlihat seorang pemuda yang sedang menjadi bahan tertawaan oleh segerombolan teman satu servernya sendiri. Mereka adalah server 4 sekawan yang suka membuat onar di kampusnya? Apa kalian ingat siapa mereka? Yeap, siapa lagi mereka kalau bukan Zhang Wei, Lin Fang, Sang Yuan Yi, dan Lee.
"Sang Yuan Yi. Setelah melakukan oprasi plastik kau terlihat sangat menawan. Lihatlah kini alismu menjadi semakin simetris, hidungmu juga sedikit lebih mancung. Kau sudah sangat cocok menjadi seorang idol! Gyahahaha ..." kicau salah satu teman satu server mereka yang selalu memiliki gaya rambut rapi dengan disisir ke samping. Dia adalah Lin Fang,
"Sebenarnya kau pergi ke Korea untuk melakukan oprasi pada kulitmu yang terkena asam klorida atau merubah susunan pada wajahmu, Ayi?! Kau sungguh memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ya!! Cckk ..." timpal mahasiswa berambut jabrik berwarna kecoklatan yang bernama Lee.
"Haisshh ... apa kalian tidak bisa diam sebentar saja! Memang apa salahnya jika aku sedikit saja berubah menjadi lebih tampan?!" Sang Yuan Yi atau lebih sering dipanggil dengan Ayi mendengus kesal mendengar ucapan dari kedua sahabatnya.
"Salahnya karena itu bukan wajah aslimu! Kau sama saja dengan para idol penipu lainnya jika seperti itu!" celutuk Lin Fang sambil merapikan model rambut barunya di hadapan sebuah cermin kecil.
"Cckk!! Tidak bisakah kalian diam dan mentiadakan kosa kata idol?! Aku sungguh merasa sangat muak!!" tandas seorang mahasiswa dengan rambut kecoklatan dan sedikit gondrong yang sedang meletakkan kepalanya di atas mejanya. Sementara kedua matanya masih terpejam dengan kening sedikit berkerut karena sedikit risih dengan perbincangan ketiga sohibnya.
"Yosh, Zhang Wei! Maafkan aku, karena aku melupakan suatu hal ... jika kau sangat membenci para idol!" Lee nyauti sambil melirik ke arah tempat duduk bagian depan di tengah.
Disana terlihat ada 3 mahasiswa yang sedang duduk bersama. Mereka adalah Zen yang sedang bersama dengan Bai Xi dan Jancent. Dan mereka bertiga terlihat begitu menikmati perbincangan mereka, dan sesekali tertawa bersama.
"Sstt ... lihat ..." bisik Lee kepada para sohibnya dan melihat ke arah Zen, Bai Xi, dan Jancent dari kejauhan.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Sang Yuan Yi juga setengah berbisik.
Kini Lee mulai membisiki mereka bertiga dan terlihat sedang merencanakan sesuatu.
"Ah gila! Gimana kalau kali ini gagal? Aku tidak mau masuk penjara lagi!" sungut Zhang Wei membelalakkan sepasang matanya menatap Lee.
"Hhm. Tidak akan ... kali ini bukan kita yang akan melakukannya sendiri. Hehe ..." Lee menyauti dengan seringai menakutkan dan begitu menyebalkan.
__ADS_1
...⚜⚜⚜...
Kelas kimia telah dimulai, dan kali ini mereka akan mengadakan tugas kelompok pratikum di ruang labolatorium. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat sudah berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Kali ini pembagian kelompok secara acak. Dan Zen mendapatkan kelompok bersama Li Lian, Zhang Wei, Jancent, Lee, dan dua mahasiswi lagi.
Kegiatan pratikum berjalan dengan begitu lancar, tidak ada masalah. Namun tiba-tiba saja Lee yang sedang membawa sebuah beaker glass yang sudah berisi sebuah larutan bening asam klorida meminta Jancent untuk memindahkan ke tabung reaksi dengan pipet tetes.
"Jancent tolong pindahkan ini dulu. Aku akan mengambil gelas arloji dan juga batang pengaduk dulu." ucap Lee sambil menyerahkan beaker glass yang sudah berisi dengan cairan bening itu kepada Jancent.
"Oh baiklah." sahut Jancent tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Pastikan suhu destilasi 100 derajat celcius ya. Setelah itu matikan api." bisik Lee kepada Jancent.
Kini Jancent mengkerutkan keningnya menatap Lee karena merasa ada yang sedikit janggal, "Bukankah suhu destilasi hanya boleh 60-70 derajat celcius saja?"
"Tidak! Apa kamu tidak mendengarkan penjelasan dari profesor Ed dengan baik? Suhu destilasi bisa kita naikkan agar hasilnya maksimal." bisik Lee lagi.
"Hhm ..."Lee mengangguk dengan tegas. "Makanya kalau sedang berada di dalam kelas perhatikan dosen baik-baik dong." imbuhnya sambil menepuk bahu Jancent.
"Baiklah!"
"Okay. Lakukan dengan baik!" Lee menepuk bahu Jancent lagi dan tersenyum lebar, selanjutnya Lee mulai memanggil Zhang Wei yang terlihat sedang merapikan beberapa gelas ukur di sebelah Zen. "Zhang Wei, ayo bantu aku untuk mengambil beberapa labu ukur (folumetric flask). Kita akan memerlukannya untuk mengencerkan beberapa larutan hingga volume tertentu bukan?"
"Oh baiklah. Ayo!" Zhang Wei menyauti dan segera melenggang bersama Lee ke ruangan sebelah untuk mengambil beberapa benda itu.
Setelah beberapa saat Lee dan Zhang Wei masih belum juga kembali. Bahkan Sang Yuan Yi dan juga Lin Fang juga tak terlihat lagi keberadaannya. Situasi yang sedikit janggal seperti saat ini tentu saja tercium oleh Zen.
Yeap, Zen mulai mencurigai mereka berempat. Dan sepertinya mereka berempat telah merencanakan sesuatu yang begitu buruk. Zen mulai mengawasi sekitar untuk mencari tahu, apakah ada sebuah kejanggalan yang telah terjadi saat ini.
__ADS_1
Namun apa? Beberapa saat Zen masih juga belum menemukan sesuatu.
Mereka berempat sudah neninggalkan tempat ini. Itu berarti mereka sedang menghindari tempat ini. Aku rasa ada sesuatu di tempat ini. Ada yang tidak beres.
Batin Zen yang masih berusaha untuk mencari sesuatu. Pandangannya dia kerahkan untuk menyisiri seluruh yang ada di dalam ruangan ini. Zen juga mulai berjalan perlahan untuk memperhatikan lebih detail lagi di sekitar Jancent, karena orang terakhir yang berbincang dengan Lee adalah Jancent.
"Zen, tolong bawakan aku termometer ..." ucap Jancent yang masih terlihat sibuk di depan sebuah alat penyulingan yang sudah dirakit.
Zen tidak mengindahkan ucapan Jancent, dia masih terlihat mengawasi sesuatu. Kini netranya menatap dan mengamati alat penyulingan itu.
"Ini Jancent. Sepertinya Zen sedang sibuk ..." tiba-tiba saja datang seorang gadis dengan senyum lebar melirik Zen, lalu segera menyerahkan sebuah termometer untuk Jancent.
Kini sepasang manik-manik bak okavango blue diamond itu membulat sempurna setelah menatap sebuah angka di dalam alat penyulingan itu.
"Jancent! Matikan api! Segera berlari dan tinggalkan tempat ini!" perintah Zen dengan begitu serius. "Semuanya! Cepat tinggalkan ruanga ini sekarang juga!" kini Zen berteriak untuk memperingatkan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya.
"Apa maksudmu, Zen?" tanya Jancent tak mengerti.
"Cepat lakukan saja sekarang dan jangan banyak bertanya!!" tandas Zen dengan begitu tajam. "Semua cepat tinggalkan tempat ini!" teriaknya lagi memerintahkan teman-temannya.
Akhirnya mereka semua mulai berlarian untuk meninggalkan ruangan ini, dan hanya menyisakan Jancent, Li Lian dan juga Zen.
"Cepat matikan!" teriak Zen dengan suara melengking dan sudah terlihat begitu emosi karena Jancent yang sangat lambat mematikan api. "Li Lian kau juga cepatlah keluar!"
Kini Jancent mulai mematikan api dan bertepatan dengan itu, tiba-tiba saja sesuatu terjadi dengan begitu cepat. Sebuah ledakan yang begitu dasyat dan sangat fantastis.
DDUUAARR ...
__ADS_1