Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Mengunjungi Tuan Kagami Jiro


__ADS_3

Yuna mulai sedikit minggir untuk memberikan ruang untuk Zen dan Christal. Kini Zen sudah berada di samping brankar masih menatap haru Kagami Jiro.


"Apa kabar, Bocah Li Zeyan?" sapa Kagami Jiro penuh haru dan menepuk bahu kiri Zen.


"Aku baik, Tuan. Hari ini gips di kakiku baru saja di lepas. Namun aku belum diperbolehkan untuk berjalan secara langsung. Jadi harus memakai kursi roda dulu. Bagaimana kabar tuan Kagami Jiro?" sahut Zen menatap Kagami Jiro begitu hangat dan penuh kerinduan.


"Aku juga baik. Namun gips pada tanganku belum boleh dilepas, karena struktur tulang san sarafnya belum pulih sepenuhnya. Kemungkinan akan dilepas dalam 2 atau 3 hari lagi." jawab Kagami Jiro begitu beraemangat. "Kapan kau akan kembali ke Beijing?"


"Dalam satu hingga dua pekan lagi, Tuan. Karena dokter menyarankan agar aku melakukan kontrol di rumah sakit ini juga. Dan aku juga belum diperbolehkan untuk beraktifitas normal kembali." jawab Zen seadanya


"Ah ... pasti aku akan sangat merindukan Beijing dan suasana kampus dan juga lokasi shooting." celutuk Kagami Jiro tanpa sadar.


"Aku juga akan sangat merindukan Jepang dan juga kehangatan keluarga Kagami tentunya, Tuan ..." Zen menyauti dengan begitu sedih dan mulai membayangkan hal itu.


"Apa yang sedang kalian perbincangkan?" tanya Yuna menyela perbincangan kedua pria itu.


Nah lo ... Kagami Jiro dan Zen sudah melupakan sesuatu, jika masih ada Yuna dan juga Christal yang sedang berada bersama mereka di dalam ruanga rawat saat ini.


"Ahaha ... bukan apa-apa, Sayang!" kilah Kagami Jiro tertawa kecil. "Sayang tolong belikan aku takoyaki di kantin rumah sakit. Ajak juga Christal dan bawa beberapa pengawal ya." perintah Kagami Jiro tiba-tiba.

__ADS_1


"Hanya itu? Takoyaki saja?" tanya Yuna sambil meraih sling bag putih miliknya di atas nakas.


"Hhm? Zen apa kau mau red velved cake, brownis, atau apa? Katakan saja padaku! Yuna akan membelikannya untuk kita." ucap Kagami Jiro sangat bersemangat dan beralih menatap Zen.


"Tidak usah, Tuan. Terima kasih ..." sahut Zen menolak dengan sopan karena begitu segan, terutama dengan Yuna.


"Tidak masalah, Bocah! Baiklah, belikan saja takoyaki dan juga red velved cake, Sayang! Dan beli apa saja yang kalian mau." sahut Kagami Jiro masih terlihat begitu bersemangat.


"Hhm. Okay. Ayo kita pergi, Christal!" ajak Yuna mulai melenggang untuk meninggalkan ruangan rawat ini lalu diikuti oleh Christal.


Kini hanya ada Kagami Jiro dan Zen yang berada di dalam ruangan rawat ini. Dan tentu saja mereka akan lebih leluasa saat berbincang tentang hal unik yang sudah mereka berdua alama selama 4 bulan yang lalu.


"Ya, Tuan Kagami Jiro." Zen menyauti dengan nada yang begitu rendah.


"Terima kasih sudah berusaha untuk menyelamatkan Christal. Jika kemarin tak ada kamu, mungkin saja Death eyes akan kembali membawa Christal bersama mereka." ucap Kagami Jiro dengan tulus. "Aku sudah mendengar semuanya. Kamu yang mengalahkan mereka berdua. Kamu sangat keren dan hebat ya sekarang! Aku bangga sekali padamu! Aku suka sekali melihatmu yang seperti ini, Bocah Li Zeyan!" imbuh Kagami Jiro kembali menepuk bahu lebar Zen dan tersenyum lebar.


"Tidak, Tuan ... itu bukanlah hal yang besar. Aku hanya sedikit memberi pelajaran untuk mereka saja kok." sahut Zen merendahkan diri dan meringis karena malu.


"Tidak ... tidak ... menurutku itu sungguh hebat dan keren sekali! Apalagi saat seorang idol sepertimu yang melakukan semua itu." Kagami Jiro mengangkat kedua alisnya dan masih tersenyum lebar menatap Zen. "Anak didik Yukimura memang akan selalu hebat! Kau sudah berhasil, Li Zeyan! Selanjutnya kau harus bisa menjadi lebih baik lagi! Kau harus bisa menjadi lebih kuat lagi. Secara fisik dan mental kamu harus menjadi lebih baik lagi!"

__ADS_1


Zen yang mendengarkan ucapan dari Kagami Jiro mulai terharu kembali hingaa sepasang manik-manik bak okavango blue diamond itu kini mulai berkaca-kaca. Perlahan pemuda tampan ini juga mengangguk pelan, menandakan dia akan memegang janji dan perintah yang pernah diikrarkan oleh Kagami Jiro.


"Mulai sekarang, aku adalah Li Zeyan yang tak akan mudah ditindas dan dijatuhkan dengan mudah! Aku akan berusaha untuk menjaga janji ini, janji yang sudah aku buat bersama paman Yukimura dan juga tuan Kagami Jiro!" ucap Zen dengan penuh keyakinan.


"Hhm. Bagus! Memang harus begitu!" ucap Kagami Jiro menandaskan. "Dan aku juga sangat berterima kasih kepadamu, Li Zeyan. Saat di kota Fujinomiya, kau begitu berani dan kau rela menukarkan dirimu dan mengorbankan dirimu hanya agar mereka melepaskan Christal. Aku tidak tau jika malam itu tidak ada Amane ... mungkin saja ... kamulah yang sudah tiada saat ini. Dan aku akan selamanya terjebak di dalam tubuhmu." ucap Kagami Jiro mulai mengingat kejadian malam itu di kota Fujinomiya.


Tatapannya begitu sendu dan nanar menatap jendela yang berada di seberang brankar. Hanya cuaca luar yang sedikit berkabut dan kepingan-kepingan salju yang turun yang terlihat melalui kaca jendela itu. Dingin dan berkabut.


Zen mengeraskan rahangnya dan juga mulai mengingat kejadian malam itu kembali. Dadanya begitu sesak ketika mengingat sebuah peristiwa tragis yang terjadi di depan matanya sendiri saat itu.


Bahkan darah segar mengucur begitu banyak dan sempat membuat Zen begitu shock saat itu. Namun dia kembali menguatkan dirinya sendiri agar bisa melawan traumanya dengan darah.


"Amane ... hufftt ..." Kagami Jiro begitu sesak jika mengingat nama itu, apalagi jika menyebutnya.


Sebuah kesalahan di masa lalu, sebuah kebodohan di masa lalu yang begitu besar dan hampir menghancurkan dan membahayakan seluruh anggota keluarganya bahkan seluruh Doragonshadou. Bahkan hingga membuat nyawa Amane melayang begitu saja.


"Gadis itu pasti sangat menderita selama ini. Aku bahkan belum sempat meminta maaf dengan benar menggunakan tubuh ini. Namun kini dia sudah tiada ..." Kagami Jiro menunduk dan sedikit memijit keningnya. Suaranya terdengar begitu parau. "Aku sungguh tidak mengetahui jika Amane hamil saat itu. Aku sungguh tidak menyangka jika Rui adalah putriku ..."


Zen hanya diam dan menjadi pendengar yang baik saat ini. Karena dia tak tau harus berkata apa untuk menghibur pria dewasa yang sedang berada di hadapannya saat ini. Yeap, bahkan Zen saja belum menikah dan belum pernah memiliki riwayat berpacaran dengan seorang gadis.

__ADS_1


"Pantas saja Yukimura begitu mencurigainya selama ini. Yukimura mengatakan padaku bahwa gadis kecil Rui sangat mirip denganku, bahkan Yukimura mengatakan jika Rui adalah seperti diriku versi seorang gadis." ucap Kagami Jiro kembali. "Aku belum pernah bertemu dengan Rui sebelumnya. Apakah Rui begitu mirip denganku, Bocah Li Zeyan?" kini Kagami Jiro mendongak kembali menatap Zen.


__ADS_2