
Gadis dengan balutan dress berwarna cream lembut yang sedang melenggang bersama pria dewasa itu kini mulai berhenti tepat di hadapan Kagami Jiro dan Yuna.
Kagami Jiro dan Yuna mendongak dan terdiam selama beberapa saat melihat mereka berdua yang terlihat bak sepasang kekasih. Kagum dan takjub rasanya melihat mereka berdua datang bersama seperti ini dengan penampilan yang begitu rapi dan elegan.
Namun tiba-tiba Kagami Jiro mulai tertawa renyah karena menurutnya ini sungguh terlihat begitu lucu saat menatap pria dewasa itu memakai pakaian seperti itu. Sebenarnya bukan lucu karena aneh, namun lucu karena pria dewasa itu sangat jarang mengenakan pakaian seperti itu.
"Yukimura!! Ternyata kamu sungguh keren dengan balutan jaz seperti ini! Kau terlihat semakin gagah dan mempesona!" ucap Kagami Jiro tak bisa lagi menahan tawanya, karena hal seperti sungguh sangat langka di dalam kehidupan seorang Yukimura.
"Jiro jangan menggodaku seperti itu!!" geram Yukimura sedikit risih dan merasa kurang nyaman. "Xia Feii bilang aku sangat cocok dengan pakaian ini."
"Memang sangat cocok. Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu barusan, Yukimura? Kau terlihat semakin gagah dan menawan! Aku jadi tak sabar ingin melihatmu mengenakan pakaian pengantin." imbuh Kagami Jiro semakin menggoda Yukimura.
"Ciihh ... sebaiknya kau siapkan saja hadiah untukku seperti yang sudah kau janjikan padaku!!" sahut Yukimura yang masih terlihat kesal.
"Kalian melakukan perjanjian apa? Apa kalian sudah mempertaruhkan sesuatu?" tanya Yuna mulai mencurigai kedua pria dewasa itu yang mulai terlihat mencurigakan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu saja.
Sementara Xia Feii juga terlihat mulai mencurigai mereka dan mulai mendongak menatap Yukimura, "Apa benar itu, Tuan Yukimura?"
"Oh ... tentu saja tidak, Xia Feii. Dia berjaji akan memberikan hadiah untuk kita saat kita sudah menikah. Hehe ... hanya itu saja kok." ucap Yukimura tak sepenuhnya berbohong.
"Oh ... begitu ya ..."
"Ya, Xia Feii. Tentu saja!! Mana mungkin sahabat terbaikku menikah tapi aku tak memberikan hadiah untuknya." imbuh Kagami Jiro meyakinkan Xia Feii.
"Ya sudah. Aku dan Xia Feii akan menemui Kai dan juga Amee dulu. Ayo Xia Feii!" kini Yukimura mulai melenggang kembali bersama Amee dan meninggalkan Kagami Jiro dan Yuna.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Di taman luar terlihat Zen yang sedang bersama Christal. Christal sedang duduk di sebuah ayunan berwarna putih. Sementara Zen berdiri di belakangnya dan mengayunnya dengan pelan.
Gerakan ayunan itu begitu pelan dan lembut. Di sisi-sisi ayunan itu sudah dihiasi dengan beberapa bunga melingkar yang begitu indah dan harum.
Keduanya begitu menikmati kebersamaan saat ini. Setelah berpisah selama satu bulan, kini mereka bertemu kembali di Beijing karena keluarga Kagami yang mendatangi pesta pernikahan kak Kai dan Amee.
Sekaligus akan menghadiri pesta pernikahan Yukimura dan Xia Feii, sebelum Xia Feii akan meninggalkan Beijing dan segera pindah ke Jepang lalu tinggal bersama Yukimura di rumah baru mereka. Dan tentunya rumah itu adalah pemberian dari Kagami Jiro sebagai hadiah yang sudah Kagami Jiro janjikan sebelumnya kepada Yukimura.
Bukan hanya rumah, namun Kagami Jiro juga sudah menyiapkan hadiah lainnya seperti mobil, dan segala furniture yang sudah sangat lengkap.
"Christal, aku dengar Rui menghilang. Apakah itu benar?" tanya Zen yang masih mengayunkan ayunan yang sedang diduduki oleh Christal dengan pelan.
"Hhm. Benar. Kak Jiro sudah menggerakkan seluruh klan Doragknshadou, namun mereka tak ada yang bisa menemukan Rui. Baru pertama kali ini Doragonshadou tak bisa menyelesaikan sebuah masalah. Ini karena saingannya adalah Kin Izumi yang sangat licik!!" sahut Christal yang juga merasa kesal dengan Kin Izumi.
"Benar, dia sangat licik. Hingga menjadikan tuan Yosuke sebagai kambing hitam saat itu." sahut Zen yang masih saja mengayukan ayunan itu.
"Semoga saja Rui baik-baik saja dimanapun dia berada. Dan semoga bisa segera berkumpul kembali." ucap Zen penuh harap.
"Hhm. Semoga saja. Kasihan sekali Rui kecil ..."
"Hhm ... Christal ..."
"Ya ..."
"Aku baru saja membuat sebuah lagu baru ... dan lagu itu aku buat untukmu." ucap Zen dengan pelan.
Sebenarnya Zen berencana untuk membuat sebuah kejutan untuk Christal saat di panggung konser pekan depan. Namun rasanya begitu tak sabaran ingin segera menyampaikan untuk Christal.
__ADS_1
"Benarkah itu?? Apa judulnya?? Dan apakah aku boleh mendengarnya sekarang?? Tolong nyanyikan untukku, Li Zeyan!" ucap Christal begitu antusis dan terlihat sangat bahagia.
"Menyanyikan sekarang? Tapi tak ada gitar disini ..." sahut Zen mulai kebingungan.
"Tunggu sebentar!!" tiba-tiba Christal turun dari ayunan lalu mulai berlari kecil meninggalkan Zen begitu saja.
"Kemana Christal pergi? Dia tidak sedang mencari sebuah gitar bukan?" gumam Zen yang masih saja menatap punggung Christal yang semakin menjauh dari pelupuk matanya.
Zen mulai duduk di atas ayunan itu sambil menunggu Christal kembali. Setelah beberapa saat menunggu, kini Christal mulai kembali dengan berlari kecil dan membawa sebuah gitar pada genggaman tangan kanannya.
Wajah Christal terlihat semakin berbinar dan sangat bersemangat. Mungkin karena mendengar jika Zen sudah menciptakan sebuah lagu untuk dirinya.
"Li Zeyan!!" ucap Christal begitu bersemangat dan masih berlari kecil semakin mendekati Zen.
Namun karena Christal yang terlalu bersemangaat, membuat Christal kurang berhati-hati karena terburu-buru hingga akhirnya Christal malah tersandung dan hampir saja jatuh terhuyung ke depan.
"Christal, awas!!" teriak Zen yang masih duduk di atas sebuah ayunan dengan khawatir.
"Aakhh ..." teriak Christal histeris.
GRREEPP ...
Zen berhasil menangkap tubuh Christal dengan meraih kedua lengannya, dan posisi tubuh Christal terjatuh ke dalam pelukan Zen. Tubuh Zen masih dengan kuat menahannya agar mereka berdua tidak terjatuh.
Pandangan mereka saling bertemu dengan hangat selama beberapa saat. Seperti dunia sekitarnya menjadi begitu gelap dan hanya ada sang kekasih hati saja di depan mereka berdua.
"Kau baik-baik saja, Christal?" ucap Zen membuyarkan angan gadis manis berwajah mungil itu.
"Oh ... i-iya ... aku baik-baik saja. Ma-maaf ..." Christal berusaha untuk segera mundur dan berdiri dengan tegap kembali.
Suasana menjadi kikuk selama beberapa saat, dan keduanya saling mengusap tengkuk masing-masing dengan wajah yang sudah merona. Yeap, bertatapan begitu dekat selama beberapa saat sudah sukses membuat membuat mereka berdua merasa sangat kikuk.
__ADS_1
"Ehm ... tidak perlu meminta maaf ... asal kamu baik-baik saja, itu sudah membuatku tenang." ucal Zen mulai membuka perbincangan kembali.
"Oh ... iya. Hehe ... terima kasih ya!" Christal tertawa kecil lalu mulai teringat dengan sesuatu. Yeap, sesuatu yang sungguh penting hingga membuat Christal lari dan terburu-buru hingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukan Zen begitu saja. "Oh iya! Aku sudah membawakan gitar untukmu! Ayo sekarang mainkan lagu baru itu!" pinta Christal mulai bersemangat kembali.