Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Sebuah Ide Dan Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Zen dan Christal terlihat duduk bersama di ruang tengah apartemen Zen. Mereka berdua menikmati beberapa kue yang sudah Christal bawakan untuk Zen.


Meskipun masih terlihat sedikit pucat, namun aura Zen sudah terlihat sedikit berbeda. Sudah ada senyuman penuh kelegaan yang menghiasi wajah tampannya. Beban hidupnya seakan juga sudah tiada sejak kehadiran Christa hari ini.


"Kamu datang bersama dengan siapa ke Beijing, Christal?" tanya Zen masih menikmati red velvet cake itu.


"Aku datang bersama Key dan Mitzuki. Mereka sedang makan di luar kok." jawab Christal seadanya dan juga mulai memasukkan sepotong red velvet cake ke dalam mulutnya.


"Oh, padahal kamu tidak harus jauh-jauh datang untukku, Christal." ucap Zen merasa sedikit tak enak.


"Uhm. Aku ingin melihatmu, dan aku ingin sedikit menghiburmu." jawab Christal dengan jujur. "Beberapa hari ini kamu tidak bisa dihubungi sama sekali. Semua sosial mediamu juga di-non aktifkan begitu saja. Tentu aku sangat khawatir padamu, aku khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, Li Zeyan."


Mendengar ucapan dari Christal membuat Zen ternyum tipis dan menatap kue berwarna kemerahan dengan sedikit wipe cream yang lembut itu yang masih berada di atas sebuah piring kecil dan sedang digenggamnya.


"Terima kasih, Christal. Dan aku juga minta maaf karena aku tidak menghubungi kamu sama sekali saat itu." ucap Zen masih menatap potongan-potongan kue berwarna merah itu. "Sebenarnya aku merasa tidak layak dan tidak pantas untukmu dengan keadaanku saat ini."


"Omong kosong! Mana bisa seperti itu? Kak Jiro sangat memahami dirimu! Dan aku juga mempercayai kamu. Berada di puncak tertinggi ataupun berada di titik terendah, aku akan selalu ada untuk menemani dan mendukungmu, Li Zeyan. Jangan berfikir yang macam-macam lagi! Dan intinya aku menyukaimu karena kamu apa adanya! Semangatlah selalu!!" ucap Christal sangat bersemangat.


"Benarkah itu, Christal? Disaat aku sudah kehilangan semuanya kamu masih mau bersama denganku?"

__ADS_1


"Tentu saja!!" jawab Christal penuh dengan keyakinan. "Jika kamu tidak bisa menjadi seorang idola nomor 1 lagi, maka kamu bisa menfiptakan produk sendiri! Kamu juga akan sukses meskipun kamu terlepas dari mereka! Orang sukses di dunia ini mereka juga pernah berkali-kali terjatuh, mereka bahkan juga berkali-kali ditolak. Namun takdir pahit itu tak pernah membuatnya merasa terpuruk. Mereka semakin semangat dan berambisi, dengan menciptakan produk sendiri dan membuka lapangan pekerjaan untuk membantu orang lain." ucap Christal menceritakan beberapa kisah dari pengusaha sukses duli dunia ini.


Zen mulai terdiam dan memikirkan ucapan dari Christal, lalu beralih menatap Christal dengan ekspresi yang begitu serius. Namun tiba-tiba wajahnya tersenyum dan mulai bersinat kembali.


"Kamu benar sekali, Christal. Jika aku tidak bisa menjadi produk untuk mereka kembali, maka aku akan membuat produkku sendiri. Aku akan mendirikan agensiku sendiri!! Bagaimana menurutmu, Christal?" sepasang mata dengan pupil kebiruan itu mulai membulat dan berbinar menatap Christal.


Christal menaggapinya dengan senyum lebar dan mulai mengangguk pelan, "Benar sekali, Li Zeyan! Kamu pasti bisa melakukannya dengan baik dan kamu juga akan sukses!"


"Tapi, Christal ... dengan kemampuanku yang seperti ini dan masih sangat terbatas, apakah aku bisa melakukannya? Mendirikan agensi sendiri?" ucap Zen mulai terlihat ragu-ragu kembali.


"Tentu saja kamu pasti bisa melakukannya dengan baik. Kamu harus percaya jika kamu biea melakukannya! Untuk idol, kamu bisa menggunakan dirimu sendiri, kak Amee, atau kak Kai untuk permulaan. Banyak kok idol yang sukses dengan membuka agensi sendiri. Hehe ..." ucap Christal berusaha untuk memberi Zen semangat. "Kemampuanmu saja sangat luar biasa. Menyanyi, menciptakan lagu, bermain musik, menari, berakting, menjadi foto model ... kamu sangat menguasai itu semua dengan baik, Li Zeyan! Ayoo ... semangat!!"


"Hhm ... iya, Christal. aku akan membicarakannya dengan kak Kai terlebih dulu."


"Hhm. Yeap!! Semangat!!" ucap Christal mengangkat tangan kanannya dengan jemarinya yang sudah mengepal.


"Hmm. Baiklah, Christal. Aku akan selalu bersemangat untukmu. Terima kasih ..." Zen tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala Christal.


Christal tersenyum lebar dan tiba-tiba saja Christal mulai teringat dengan sesuatu.

__ADS_1


"Uhm. Sebentar ..." Christal mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai mendatangi koper kecilnya yang masih berada di dekat meja.


Christal mulai membuka sebuah koper berwarna kebiruan itu lalu mulai mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah amplop kecoklatan yang berukuran cukup besar mulai diambilnya dari dalam koper itu, lalu Christal mulai kembali bersama Zen lagi.


"Li Zeyan. Ini adalah dari kak Jiro. Mungkin dengan ini akan sedikit bisa membantumu." Christal mulai memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat untuk Zen.


"Hhm? Apa ini, Christal?" pemuda yang masih terlihat sedikit pucat itu mulai menatap Christal kembali dan menerima amplop berwarna kecoklatan itu.


"Bukalah, Li Zeyan ... dan kamu akan segera mengetuinya." ucap Christal tersenyum tipis menatap Zen.


Zen mulai membuka amplop kecoklatan itu dan melihat beberapa berkas di dalamnya. Satu persatu halaman mulai dibuka dan dibaca oleh Zen dengan sangat teliti dan hati-hati. Setelah membaca beberapa halaman, kini kening Zen mulai berkerut dan kedua alis tampannya juga berkerut saling berdekatan.


Seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya, Zen mulai membacanya kembali. Bahkan tak cukup dua kali! Zen membaca hingga berkali-kali untuk memastikan jika semua itu adalah benar dan Zen memang tidak salah membaca.


"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Jiang Wushuang yang melakukan semua ini ..." ucap Zen hampir saja tak percaya dan sepasang mata kebiruannya masih mengamati dokumen yang berisikan beberapa laporan dana penghasilan Zen, serta kemana uang pajak yang seharusnya dibayarkan itu mengalir. Dan rupanya uang itu telah masuk ke dalam rekening seorang pemuda bernama Jiang Wushuang. Pemuda yang tak lain adalah putra sulung tuan Jiang.


Bahkan saat Li Kai memeriksa semua laporan penghasilan Zen beberapa hari yang lalu, Li Kai tak bisa menemukan hal seperti ini.


"Laporan transfer itu melalui beberapa rekening dan selalu dioper. Pihak bank sudah menghilangkan jejak dari rekam jejak itu. Dan kemungkinan itu semua adalah karena Jiang Wushuang yang memanfaatkan kekuasaan ayahnya yang juga memiliki sebuah bank. Kak Jiro meretas data itu dan berhasil mengambil semua ini." ucap Christal menjelaskan karena saat ini Zen terlihat begitu kebingungan.

__ADS_1


"Selanjutnya adalah kamu yang akan memutuskan untuk mengambil sebuah tindakan, Li Zeyan. Selama ini mungkin tuan Jiang sangat berjasa kepadamu, namun tindakannya kali ini sungguh salah. Dia melindungi putra bungsunya dari jerat hukum, dan menjadikanmu sebagai kambing hitam hingga menghempaskanmu terjatuh sejatuh-jatuhnya. Ini tidak benar ..."


__ADS_2