Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kembali Shooting


__ADS_3

"Kakak melihat Lu Yuan baru saja keluar dari appartement kamu, Zen. Ada apa? Apa dia membuat masalah lagi?" tanya kak Kai saat di dalam Ferrary merah menyala itu.


"Hhm ... dia datang dan marah-marah padaku." ucap Zen sambil meraih sebuah majalah yang tergeletak di sampingnya dan mulai membukanya.


"Kenapa? Apa ini ada sangkut pautnya dengan berita itu?" tanya kak Kai begitu penasaran.


"Sebenarnya Lu Yuan sudah berencana untuk menjatuhkanku malam itu. Malam itu dia sengaja mencekoki kita dan membuat kita mabuk. Lalu dia dan para pengawalnya membawaku ke hotel itu. Dia berniat untuk meninggalkan aku yang sedang tak sadarkan diri berada di kamar itu bersama dengan seorang gadis. Bahkan dia juga menyalakan dupa pembangkit gairah dan penguat hasrat untuk merangsangku. Cckk ... dasar bocah bodoh!" ucap Zen dengan senyum mengejek.


Kak Kai membelalakkan matanya mendengar ucapan Zen. Tentu saja dia sangat terkejut dan tak akan mengira jika Lu Yuan akan melakukan hal senekat itu.


"Lalu ... bagaiamana kejadiannya malah berbalik seperti itu?" tanya kak Kai sangat ingin tau. Sesekali dia melirik Zen, namun kedua tangannya masih fokus menyetir.


Zen tartawa kecil mendengar pertanyaan dari kak Kai, "Mana bisa bocah itu mengelabuiku? Aku sudah sangat bisa membaca siasat dan rencananya!"


"Jadi kau juga sengaja meladeninya? Dan kau juga pura-pura mabuk malam itu?" tanya kak Kai menerka-nerka.


"Hhm. Benar sekali!"


"Lalu para pengawal?" tanya kak Kai juga sangat penasaran dengan keempat pengawal setianya.


"Tentu saja mereka juga sedikit membantuku untuk berpura-pura kalah dari para pengawal Lu Yuan." jawab Zen dengan tawa kecil. "Mengapa anak muda jaman sekarang begitu ekstrim ya ..."


"Kau sendiri malah lebih muda dari Lu Yuan, Zen!" celutuk kak Kai dengan senyum tipis.


"Oh ya ... aku lupa." sahut Zen dengan tawa kecil.


"Berarti hanya kakak yang tidak kau beritahu saat itu mengenai rencana dari Lu Yuan? Kau sungguh keterlaluan ya! Jelas-jelas kakak ini adalah managermu! Tapi kau malah membiarkan hal yang begitu serius ini terjadi tanpa sepengetahuan kakak!" celutuk kak Kai sedikit murung. "Kau tau ... kau adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawabku. Jadi selalu beritahu kakak semua hal yang menimpamu!"

__ADS_1


"Hhm. Baiklah ... semalam aku mengalami mimpi basah bersama seorang wanita Jepang bernama Yuna." ucap Zen tiba-tiba sambil melirik kak Kai dan menyipitkan sepasang mata kebiruannya.


Seketika ucapan Zen membuat kak Kai begitu terkejut hingga mengerem mendadak karena tidak menyadari ternyata lampu lalu lintas sedang menunjukkan lampu merah.


CCKKIITT ...


Tubuh keduanya terhentak sedikit ke depan dan menabarak meja mobil di hadapannya itu.


"Arghh ... kau bisa menyetir tidak?!" ucap Zen sambil memegangi keningnya yang baru saja mengenai pinggiran mobil itu.


"Kamu yang membuat kakak seperti ini!" ucap kak Kai tak mau kalah.


"Mengapa jadi aku yang disalahkan? Jelas-jelas kakak yang sedang mengemudi!" gerutu Zen tak mau kalah.


"Arghh ... dasar anak ini! Apa kau sudah lupa bahwa suami dari nyonya Yuna sangat menyeramkan, kejam, bengis dan menakutkan? Dia bisa saja mematahkan tulang-tulangmu jika berani melirik istrinya!" celutuk kak Kai sambil mengemudikan mobil Ferrary merah menyala itu kembali karena lampu lalu lintas sudah hijau kembali.


"Ah ... iya ... mereka berdua sangat serasi. Lalu mengapa kau bermimpi hal semacam itu dengan nyonya Yuna? Sungguh tidak punya etika!" celutuk kak Kai dengan wajah sedikit kesal.


"Mana aku tau?! Itu kan hanya mimpi! Dan tentu saja kita tidak bisa memilih dengan siapa kita mau melakukan itu." ujar Zen lalu meraih ponselnya dan mulai melakukan sesuatu dengan ponselnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di lokasi shooting. Kak Kai segera melakukan parkir. Sementara Zen segera pergi ke ruang make up untuk mendapatkan sentuhan ajaib dari sang make up artis.


Hari ini adalah hari untuk ber-akting bersama Jia Li. Sambil menunggu make up artis menyelesaikan tugasnya dan sentuhan ajaibnya, Zen juga mulai membaca beberapa naskah miliknya untuk hari ini.


Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya dan membentuk sebuah senyuman manis pada bibir tipis dan kemerahan itu. Sepertinya naskah dalam drama episode kali ini sungguh membuatnya merasa puas. Namun, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah saat jemarinya mulai membalik halaman selanjutnya. Kini sepasang mata indahnya membulat menatap naskah itu.


"Ini tidak benar!" ucapnya tiba-tiba dengan begitu lantang dan membuat seisi ruangan kini menatap ke arahnya. "Sial!" gumamnya pelan lalu bangkit begitu saja dari duduknya sebelum menyelesaikan make up-nya.

__ADS_1


"Kak Zen! Riasanmu belum selesai!" ucap gadis perias itu sedikit berteriak, namun Zen terus saja melenggang dan tak menghiraukannya sama sekali.


Zen terus saja melenggang dengan langkah lebar dan sedikit cepat untuk mencari seseorang di sebuah ruangan. Pandangannya dia tebarkan dan terlihat begitu terburu-buru. Hingga akhirnya netranya berhenti pada satu titik ke depan, dan Zen mulai mendekati seorang pria paruh baya yang sedang berdiri dan sedang menelpon seseorang.


Zen segera berdiri di hadapan pria itu dan terus menatapnya. Hingga pria paruh baya itu akhirnya mengakhiri penggilannya dan mulai menyambut Zen.


"Ada apa, Zen?" sapaan hangat terlontar dari bibir pria paruh baya itu dan dia juga tersenyum lebar menyambut Zen.


"Sutradara A Meng!" tandas Zen sedikit mengkerutkan keningnya. "Mengapa ada adegan seperti ini?!" imbuhnya sambil memberikan naskah itu kepada sutradara A Meng.


"Bukankah kau sudah melihat semua naskah ini sebelum menandatangani kontrak, Zen?" ucap sutradara A Meng dengan senyum lebar.


"Apa?!" ucap Zen sedikit melengking.


"Ya. Sebelum menyetujui dan menandatangani perjanjian kerja, bukankah kau sudah melihat semua ini? Dan sekarang kau harus melakukan semua ini." ucap sutradara A Meng dengan tenang, bahkan dia masih saja tersenyum menatap Zen.


"Tapi ..."


"Lakukan saja! Kau pasti bisa melakukan semua ini dengan baik." ucap sutradara A Meng dengan seulas senyum dan menepuk bahu Zen lalu mulai berbalik dan melenggang meninggalkan Zen.


"Semuanya segera bersiap!" ucap sutradara A Meng setengah berteriak.


"Haisshh ... sial! Sekarang aku harus bagaimana? Masa aku harus berakting seperti yang sudah tertulis di dalam naskah ini?! Ini sungguh tidak benar!!" ucap Zen mendengus kesal. "Haisshh ... sialan!!" imbuhnya terlihat begitu kesal lalu menendang sebuah tempat sampah kecil yang berada tak jauh darinya.


BRRAAKK ...


Kertas-kertas sampah itu kini berserakan di atas lantai begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2