Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Pria Dengan Almamater Putih Yang Mencurigakan


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Christal, seketika membuat Zen mengingat kondisi kakinya dan sedikit melirik kaki kirinya. Dengan cepat Christal juga segera berusaha untuk berdiri kembali karena mengkhawatirkan kondisi Zen.


Namun keadaan kaki Zen yang masih belum stabil, membuatnya kurang bisa menjaga keseimbangan badannya yang saat ini juga sedang menopang tubuh Christal, hingga akhirnya mereka berdua jatuh bersama dengan keadaan tubuh Christal terjatuh di atas tubuh Zen.


BRRUUGGHH ...


Lagi-lagi keduanya terpana satu sama lain selama beberapa saat. Terlebih Christal, apalagi sikap dan cara Zen memperlakukan Christal selama beberapa hari terakhir ini membuatnya begitu merasa istimewa di mata Zen. Padahal sebenarnya saat itu jiwa Kagami Jiro-lah yang melakukan semua itu. Huft ...


"Ma-maaf, Li Zeyan. Aku tidak sengaja ..." Christal berusaha untuk segera bangkit kembali. Lalu membantu Zen untuk segera bangun dengan meraih lengannya dan mengalungkannya pada pundak Christal dan mulai membantunya untuk duduk di kursi roda kembali.


"Aduh ... aku sungguh minta maaf. Gara-gara aku kau malah terjatuh seperti itu. Maaf ..." ucap Christal dengan raut wajah begitu menyesal dan menautkan kedua telapak tangannya menghadap ke atas.


Zen yang melihatnya malah tertawa kecil, karena Christal terlihat begitu lucu dan menggemaskan.


"Tidak apa-apa, Christal. Karena hal itu, malah membuat sedikit kemajuan untuk kesembuhan kakiku. Kau lihat kan aku sudah bisa berdiri dan sedikit berjalan." Zen menyauti dengan senyuman ramahnya.


"Iya juga sih. Tapi tetep saja aku malah jatuh dan menimpamu." sungut gadis berwajah mungil itu.


"Tidak masalah." sahut Zen masih tersenyum menatap Christal. "Jadi tahun depan kau akan masuk ke perguruan tinggi, Christal?"


Christal terdiam dan terlihat berpikir sejenak, "Iya. Tapi darimana kamu tau soal itu, Li Zeyan? Kita bahkan belum pernah berbincang soal hal itu."


Nah loh ... sepertinya pertukaran jiwa yang terjadi selama 4 bulan yang lalu sedikit membuat Kagami Jiro maupun Li Zeyan sering melupakan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Padahal saat itu Zen berbincang soal kuliah dan kekasih kepada Christal dengan menggunakan raga Kagami Jiro.


"Ehm ... sebenarnya aku tau dari tuan Kagami Jiro. Hehe ..." kilah Zen sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"Oh, kak Jiro ya. Sejak kapan kalian dekat? Terkadang aku sampai heran kepada kak Jiro lho."


"Memang kenapa? Baru-baru ini sih kita lumayan dekat." jawab Zen dengan jujur.


"Hhm. Dulu sekali kak Jiro itu tidak pernah tau menahu soal dunia entertaiment. Bahkan dia selalu melarangku dan selalu mengomel jika melihatku menyukai seorang idol dan mengkoleksi beberapa album mereka. Namun akhir-akhir ini dia sangat berubah. Dia mendukungku bahkan dia juga sangat menyukai bermain game. Bahkan kita terkadang bermain bersama." ucap Christal mulai menatap kembali kepingan-kepingan salju yang terjatuh itu.


Aku pasti akan merindukan saat-saat kita bermain game bersama, bernyanyi bersama, Christal. Sebentar lagi aku akan kembali ke Beijing dan mulai menjalani kehidupanku yang sebenarnya. Aku akan sangat merindukan saat-saat itu. Bahkan aku pasti juga akan merindukan semua keluarga Kagami yang begitu hangat. Paman Yukimura ... si kembar Kenzi dan Kenzou, tuan besar Kagami Gumi, tuan Kagami Yosuke ... maupun semua pengawal dan asisten keluarga besar Kagami. Selama ini mereka sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Rasanya begitu hangat saat berada di antara mereka. Aku bahagia karena jiwaku bisa kembali lagi pada ragaku yang sebenarnya. Tapi entah kenapa rasanya begitu berat untuk meninggalkan Jepang. Rasanya begitu membuat sesak dan bersedih.


Batin Zen mulai termenung dan menatap nanar lurus ke depan.


Ritme indah mulai mengalun dengan indah dan membuyarkan angan Zen. Sedangkan Christal mulai terlihat mencari sesuatu di dalam sling bag berwarna cream yang talinya masih menggantung manis di atas pundaknya.


"Christal kau ada dimana? Kakakmu sudah bangun dan mencarimu." ucap Yuna dari seberang.


"Aku sedang melihat taman. Aku akan segera kesana, Kakak ipar." sahut Christal dengan cepat.


"Hhm. Okay!"


"Okay!" sahut Christal lalu mengakhiri pangilan itu dan menyimpan kembali ponselnya di dalam sling bag-nya.

__ADS_1


"Kakakku sudah terbangun. Aku harus segera kesana." ucap Christal mulai beralih menatap Li Zeyan.


"Bolehkah aku ikut? Aku ingin sekali menjenguk tuan Kagami Jiro." pinta Zen.


Karena selama ini dia belum sempat untuk mengunjungi Kagami Jiro setelah kecelakaan malam itu yang mengakibatkan mereka bertukar tubuh kembali.


"Hhm. Tentu saja. Ayo!" Christal mulai melenggang mendekati Zen lalu mulai mendorong kursi roda itu.


Christal masih terlihat begitu bersemangat ketika mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh Zen. Senyum manisnya selalu terukir indah menghiasi wajah cantiknya.


Sementara Zen juga terlihat begitu menikmati saat-saat bersama Christal seperti ini. Kesamaan hobi bermain game, menonton beberapa film anime, kesukaan lagu, makanan faforit, diantara keduanya membuat Zen begitu nyaman saat berada di sisi Christal. Seakan memiliki teman satu server yang bisa selalu memahami.


Lorong di rumah sakit terlihat sedikit sepi, entah sepi karena tak ada pasien ataukah memang sepi karena mereka sedang beristirahat walau hanya sekedar tidur siang. Bahkan mereka hanya bertemu dengan beberapa perawat maupun keluarga dari pasien lainnya saja.


Namun ketika di pertengahan jalan tiba-tiba saja ada dua orang pria dengan jas almamater putih kebanggaanya dan memakai masker medis berwarna biru lembut sudah berdiri di ujung koridor, seakan sedang menantikan Christal dan Zen.


"Tuan Li Zeyan." ucap salah satu dari mereka yang membawa sebuah berkas di tangan kirinya. "Saat ini adalah jadwal tuan untuk melakukan beberapa pemeriksaan dan pelepasan gips di kaki tuan. Silakan ikut bersama kami terlebih dahulu, Tuan Li Zeyan." imbuhnya lagi dengan pelan namun penuh dengan penekanan.


Tanpa rasa curiga sama sekali, kini Christal segera mendorong kursi roda Zen ke arah kedua pria dengan almamater putih itu.


"Li Zeyan. Kamu pergilah bersama mereka. Aku akan mampir ke ruangan rawatmu dan aku akan memberitahu kak Kai." ucap Christal menatap Zen dengan seulas senyum.


"Hhm. Hati-hati, Christal." Zen tersenyum tipis menatap Christal.

__ADS_1


Salah satu dari pria itu mulai mendorong kursi roda Zen, sementara pria satunya malah terlihat masih berbincang dengan Christal, hingga akhirnya mulai mengajak Christal berjalan bersama entah mau kemana, karena Zen tak bisa mendengarkan percakapan mereka.


Disitulah sebenarnya Zen mulai curiga melihat tingkah kedua pria ini. Bukankah saat ini Zen yang sedang sakit dan akan segera melakukan sebuah pemeriksaan? Namun kenapa mereka harus membawa Christal ke suatu tempat?


__ADS_2