
Di sebuah kamar yang dipenuhi dengan nuansa biru dan hitam terlihat seorang gadis yang sedang berjalan mondar-mandir dan terlihat begitu tidak tenang. Raut wajahnya terlihat begitu gelisah.
Sebuah benda pipih yang masih berada pada genggaman tangannya terus saja dia gunakan untuk menghubungi seseorang yang jauh di negeri seberang.
Sebenarnya sudah beberapa hari ini gadis ini berusaha untuk menghubungi seseorang tersebut, namun setiap usahanya belum membuahkan hasil sama sekali. Nomor orang tersebut tidak bisa dihubungi karena tidak aktif. Bahkan aeluruk media sosial dari orang tersebut juga sengaja dimatikan.
Gadis pemilik wajah yang begitu mungil itu kini mulai menghempaskan tubuhnya di pinggiran tempat tidurnya dan masih memandangi sebuah ponsel mewah yang baru saja dibelinya karena ponsel lamanya sudah rusak karena sebuah kecelakaan kecil.
"Huftt ..." nafas kasar mulai dihembuskan oleh gadis manis yang tak lain adalah Christal itu. "Kamu kemana, Li Zeyan? Mengapa dalam beberapa hari ini kamu sama sekali tak bisa dihubungi? Apa kamu baik-baik saja disana, Li Zeyan?" ucap Christal begitu lirih dan tentunya sedang sangat mengkhawatirkan pemuda bernama Li Zeyan itu.
Namun tiba-tiba saja Christal mulai terpikirkan sesuatu. Kini Christal mulai men-schroll layar kecil berukuran kira-kira 6 inchi itu, hingga akhirnya sebuah nomor pada kontak ponselnya mulai ditekannya untuk melakukan sebuah panggilan.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh seseorang dari seberang. Ada sedikit tergambar sebuah rasa kelegaan pada wajah mungil nan manis itu ketika menyadari jika panggilan Christal sudah diangkat oleh orang tersebut.
Karena itu berarti Christal akan segera mengetahui keadaan Zen melalui orang tersebut. Orang yang sangat dekat dengan Zen dan selama ini juga selalu ada untuk Zen.
"Hallo, Christal ..." terdengar sapaan ramah dari seberang line.
"Uhm. Hallo, Kak Kai ... apa kabar, Kak?" sahut Christal mulai sedikit bersemangat.
"Kabar kakak baik kok. Kamu sendiri apa kabar, Christal?" tanya Li Kai balik bertanya kepada Christal.
"Kabar aku baik, Kak Kai. Tapi ... uhm ... sebenarnya aku menghubungi kakak karena ..." ucap Christal belum sepenuhnya menyelesaikan ucapannya dengan sempurna karena Li Kai segera memotong ucapan dari Christal.
__ADS_1
"Kamu sangat ingin mengetahui keadaan Zen saat ini kan? Tenang saja, Christal. Zen baik-baik saja kok. Hanya saja dia sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah beberapa saat pasti semua akan segera kembali normal. Dan dia akan segera menghubungimu." ucap Li Kai menjelaskan kepada Christal.
Mendengar ucapan dari Li Kai tentu saja membuat Christal kembali bernafas begitu lega dan kembali tersenyum.
"Saat ini Zen sedang bersama kakek Li Feng. Kakak akan mengirim beberapa foto Zen untukmu. Tunggu sebentar ... kakak akan mematikan panggilan ini " ucap kak Li Kai yang berniat untuk mengirimkan beberapa foto Zen saat ini.
"Uhm. Baik, Kak Kai. Terima kasih banyak." sahut Christal begitu bahagia lalu mulai mengakhiri panggilan itu.
TRING ...
TRING ...
Setelah beberapa saat akhirnya mulai terdengar bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel Christal, menandakan jika ada beberapa pesan masuk di ponsel Christal.
Meskipun di dalam beberapa foto yang baru saja Li Kai kirimkan untuk Christal, Zen memang terlihat baik-baik saja dan masih bercumbu hangat bersama sang kakek. Namun Christal cukup memahami jika sebenarnya Zen tidak sedang baik-baik saja saat ini.
Bahkan Zen terlihat semakin kurus, wajahnya juga masih sedikit sedikit pucat. Matanya terlihat begitu sembab. Sangat terlihat jika Zen masih tetap tidak baik-baik saja saat ini.
Pemilik wajah tampan dengan sepasang mata kebiruannya terlihat memiliki beban hidup yang cukup berat, banyak pikiran, kurang tidur, dan kurang merawat dirinya dengan baik. Dan mungkin saja Zen juga melupakan pola makannya atau malah mungkin tidak makan sama sekali selama beberapa waktu yang lalu.
"Li Zeyan ..." ucap Christal begitu lirih dan menjadi sangat sesak dan sedih setelah melihat beberapa potret itu. "Aku tau ... pasti kamu sangat merasa terpuruk saat ini ... tapi kamu tidak boleh menyerah, Zen. Kamu harus bangkit kembali dan terus maju ..."
Christal mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai melenggang dengan lengkah yang sangat terburu dan berniat untuk mencari Kagami Jiro. Entah apa lagi kali ini yang sedang Christal rencanakan.
__ADS_1
Entah Christal akan memohon agar diijinkan oleh Kagami Jiro untuk pergi ke Beijing, ataukah mungkin Christal akan memohon kepada sang kakak untuk membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh Zen. Entahlah ...
...⚜⚜⚜...
"Zen, hubungilah Christal. Pasti dia akan sangat mencemaskanmu saat ini." seorang pria berkaca mata mulai duduk disamping pemuda bernama Zen itu.
"Tidak, Kakak ..." jawab Zen yang masih duduk di atas sofa dengan posisi meringkuk. "Aku bahkan tak memiliki kepercayaan diri lagi untuk menghubungi Christal." imbuh Zen apa adanya karena merasa tak pantas lagi untuk Christal.
"Tapi, Zen ..." sela pemuda berkacamata yang tak lain adalah Li Kai.
"Setelah aku mengakui semua itu, semua orang pasti akan sangat membenciku. Dan mereka pasti akan menilai buruk tentangku. Mungkin Christal juga akan sama. Bahkan tuan Kagami Jiro pasti juga akan berfikiran yang sama terhadapku. Mereka pasti tak akan mau mengenaliku lagi, Kak. Dan aku sendiri juga tak memiliki keberanian diri serta kepercayaan diri untuk menghubungi atau menemui mereka untuk saat ini. Sebelum aku membuktikan diriku memang tidak bersalah, maka aku merasa tak pantas untuk tetap bersama dengan Christal." Zen mulai menunduk dan menyandarkan keningnya pada kedua lututnya.
"Tapi kakak sangat yakin, jika Christal tak pernah berfikir seperti itu. Dan dia pasti sangat mengkhawatirkan kamu saat ini, Zen. Hubungilah dia ..." ucap Li Kai lagi menepuk bahu Zen.
"Tidak, Kak. Aku tidak mau ... aku malu ... aku tak cukup berani untuk melakukan semua itu saat ini." jawab Zen masih saja kekeh dengan keputusannya saat ini untuk tak mau menghubungi Christal.
Li Kai menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan terlihat sudah begitu menyerah untuk membujuk Zen agar menghubungi Christal. Hingga akhirnya Li Kai mengiyakan saja kemauan Zen saat ini.
"Ya sudah, ini sudah sangat larut. Lebih baik sekarang kamu istirahatlah dulu. Kakak akan segera pulang dan besok kakak akan kembali lagi kemari." ucap Li Kai mulai berpamitan kepada Zen.
"Hhm ... iya, Kak." sahut Zen tanpa menatap Li Kai dan masih pada posisi yang sama.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1