
Daxing International Airport
Seorang pemuda dengan pakaian kasual seperti biasanya yang memadankan T-shirt putih bergambarkan sebuah planet berwarna kebiruan, dibalut dengan jaket leather on leather berwarna hitam mengkilap serta memadankannya dengan sebuah celana jeans berwarna terang.
Tak lupa pemuda itu juga mengenakan topi dan masker berwarna hitam. Meskipun saat ini pemuda pemilik mata bak okavango blue diamond itu sudah memutuskan untuk mengundurkan dirinya dari profesinya di dunia hiburan, namun disaat bepergian seperti ini, terlebih di tempat umum, pemuda ini masih memerlukan beberapa peralatan untuk penyamaran.
Di sebelahnya sudah ada seorang gadis manis dengan penampilan nyentiknya yang menawan. Style pakaian yang sedang dikenakannya saat ini memberikan kesan yang begitu lucu dan menggemaskan namun sangat modis. Sebuah kacamata dengan sepasang lensa kecoklatan juga sudah bertengger dengan manis di atas tulang hidungnya yang mancung.
Mereka berdua adalah Zen dan Christal yang akan segera melakukan perjalanan udara untuk pergi ke Shanghai. Mereka melenggang bersama dan terlihat begitu bersemangat.
Zen juga terlihat selalu menggandeng Christal. Bahkan Zen juga tak terlihat ragu untuk melakukannya di hadapan para pengawalnya maupun pengawal keluarga Kagami.
Hanya saja, pengawal Key sebenarnya masih cukup tak terima melihat semua pemandangan dan kebersamaan mereka yang begitu manis. Namun tak ada pilihan lain, karena mungkin saja memang dirinya tidak ditakdirkan untuk Christal.
Sebuah maskapai mulai mulai mereka masuki melalui jalur khusus, untuk memasuki sebuah kabin khusus juga. Perjalanan yang ditempuh kira-kira selama 2 jam 20 menit digunakan Christal dan Zen untuk bermain console game bersama. Karena sudah cukup lama mereka berdua tidak bermain console game bersama.
...⚜⚜⚜...
Internasional Pudong Shanghai
Setelah sampai di Shanghai, mereka mulai memesan 3 buah taxi dan segera menuju ke sebuah hotel yang berada tak jauh dari kawasan The Bun.
__ADS_1
The Bund merupakan suatu kawasan perairan atau dermaga yang sangat terkenal di Shanghai. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara sering meramaikan tempat ini karena pemandangan indahnya yang begitu menakjubkan. Dan tentu saja Zen juga ingin mengajak Christal untuk melihatnya.
Keindahan dari Sungai Huangpu dan juga gedung-gedung tinggi di sekitar kawasan ini juga bisa dinikmati dari hotel dimana Zen dan Christal menginap.
Disaat malam hari, kilauan dari lampu-lampu kekuningan dan berbagai warna lainnya yang indah yang dipancarkan gedung-gedung tinggi dan bangunan megah pencakar langit akan terlihat begitu memukau.
Sebuah TV Tower, Oriental Pearl TV Tower yang begitu legendaris dan ikonik yang memiliki tinggi 468 meter ini juga sangat terlihat melalui kamar hotel Zen maupun Christal. Dan sebenarnya Zen dan Christal memilih 2 kamar yang bersebelahan.
...⚜⚜⚜...
"Aku sering melihat menara TV ini di dalam beberapa drama China. Rasanya masih tak percaya saat ini aku bisa mengunjungi dan melihatnya secara langsung. Terima kasih, Li Zeyan! Aku senang sekali! Menara ini begitu fenomenal!" ucap Christal begitu berbinar saat mereka berdua sedang berada di dalam deck di dalam menaranTV itu.
"Sama-sama, Christal." sahut Zen dengan sangat ramah. "Aku sudah sering datang ke tempat ini. Bahkan tempat ini sudah beberapa kali terlihat di dalam beberapa drama yang aku bintangi beberapa saat yang lalu." imbuh Zen mulai melamun dan menatap keindahan kota Shanghai kala siang itu dari atas menara TV itu.
"Li Zeyan ... jika kamu masih merasa begitu berat, seharusnya kamu tak perlu meninggalkan dunia entertaiment bukan? Kamu masih bisa kembali menjadi bintang." ucap Christal berusaha untuk menghibur Zen yang menurut Christal Zen sedang bersedih karena merindukan karir dan pekerjaannya sebagai seorang bintang nomor 1. "Namamu sudah bersih kembali. Dan semuanya juga sudah terbukti jika kamu memang tidak bersalah. Kamu bisa kembali jika kamu mau." imbuh Christal memberanikan meraih dan menggenggam jemari Zen yang saat ini sedang memegang sebuah pagar besi pembatas.
Zen tersenyum tipis, namun pandangannya masih menatap lurus ke depan. Wajah tampan itu terlihat begitu teduh dan tentunya membuat Christal merasa nyaman dan seakan tak ingin berpaling untuk berhenti menatapnya.
__ADS_1
"Rasa rindu pasti akan selalu ada, Christal. Apalagi itu adalah profesi dan kesibukanku dalam beberapa waktu ini. Perjuangan yang panjang dam keras pasti tak akan pernah aku lupakan. Hingga aku berhasil mencapai titik tertinggi dan kemudian terhempas lagi. Semua akan selalu tersimpan dengan manis di dalam memoriku." ucap Zen yang masih menatap dermaga dan beberapa gedung tinggi di hadapannya itu dengan senyum tipis.
"Namun kini semua sudah terjadi, Christal. Aku sudah memutuskan semuanya dan akan meniggalkan semua itu. Dan aku tak akan pernah kembali kepada Star Entertaiment lagi." ucap Zen lagi.
"Bukankah masih ada beberapa agensi lain selain Star Entertaiment yang sedang beomba-lomba untuk merekrutmu, Li Zeyan? Apa kamu juga tidak tertarik dengan semua itu?" tanya Christa sangat ingin tau.
Karena sebenarnya Christal sempat berfikir jika sangat sayang jika Zen melepaskan masa keemasannya begitu saja. Padahal Zen masih sangat berpotensi dan masih sangat muda.
"Tidak, Christal. Aku tidak mau lagi terikat dengan agensi manapun. Rasanya lelah sekali. Aku ingin beristirahat sejenak dulu dan akan berusaha untuk merintis agensiku sendiri. Dan aku juga akan lebih fokus dengan LZ Fashions." sahut Zen mulai menatap Christal dengan senyum tipisnya.
"Oh, baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, Li Zeyan. Aku akan selalu mendukungmu!" ucap Christal dengan senyum lebarnya yang begitu menggemaskan.
"Hhm. Terima kasih, Christal. Andai kamu tau, aku menjadi lebih kuat karena ada kamu yang selalu ada untukku dan mendukungku. Kehadiranmu benar-benar seperti kristal yang memberikan cahaya yang menerangi hidupku dan seperti sebuah energi positif dan armor yang membuatku semakin kuat untuk menghadapi semua masalah ini. Dan aku sangat beruntung karena kamu masih ada dan mau bersama denganku disaat aku sedang terjatuh dan terpuruk. Dan aku juga minta maaf, karena sudah berfikiran buruk tentangmu. Maaf dan terima kasih ..." ucap Zen begitu tulus dan mulai menggenggam kedua tangan yang masih saling bertaut itu dengan jemari Zen yang lainnya.
"Hhm. Sama-sama, Zen." sahut Christal dengan senyum lebar.
Mereka berdua masih saling bertatapan dengan begitu hangat. Namun tiba-tiba saja ada seorang gadis yang mulai berlari ke arah mereka dengan membawa sebilah pisau dan menatap Christal dengan begitu tajam dan penuh dengan kebencian.
"Dasar gadis penggoda!! Beraninya kamu selalu bersama dengam Li Zeyan dan menggodanya!! Rasakan ini!! Aku akan mengirimmu ke neraka!!"
Zen dan Christal cukup terkejut dan begitu terlambat menyadari kehadiran seorang gadis asing itu. Hingga akhirnya pisau itu mulai menghunus tubuh seseorang.
__ADS_1
JLLEBB ...