
"Kai hanya kelelahan dan kurang istirahat saja kok. Kalian harus lebih memperhatikan dia juga ya. Karena dia juga memiliki penyakit magh kronis. Dan biasanya Kai hanya selalu memperhatikan kamu, Zen. Bahkan dia sampai melupakan kesehatannya sendiri." ucap seorang pria yang masih cukup muda dan masih mengenakan almamater putih kebanggannya menatap Zen
"Hhm. Tentu saja, Dokter Zhong Li." sahut Zen seadanya dengan gaya santai seperti biasanya. Apalagi kalau bukan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaz-nya dengan ekspresi super santai dan cool.
"Dan kau, Amee ... kau juga harus lebih memperhatikan Kai. Selalu ingatkan dia untuk makan tepat waktu agar magh-nya juga tidak sering kambuh." kini dokter muda itu bergantian menatap Amee.
"Baik, Dokter Zhong Li. Aku akan selalu mengingatkannya." Amee menyauti dengan begitu ramah.
"Setelah dia sadar, berikan obat yang sudah aku siapkan tadi. Dan berikan juga air hangat untuknya."
"Baik, Dokter Zhong Li." sahut Amee dengan begitu serius dan terlihat seperti seorang gadis teladan yang sedang mendapatkan tugas dan perintah dari dosennya.
"Baiklah. Aku harus segera pergi. Karena aku harus pergi ke rumah sakit lagi. Jika ada sesuatu segera hubungi saja, jangan sungkan-sungkan." ucap dokter Zhong Li yang sudah bersiap mententeng tas pipih hitam miliknya.
"Baik. Terima kasih, Dokter Zhong Li!" sahut Amee sambil membungkukkan badannya.
Dokter Zhong Li kini mulai melenggang dan meninggalkan appartement ini.
"Amee. Aku masih harus pergi untuk melakukan beberapa pemotretan. Bisakah kau menjaga kak Kai sendirian? Aku akan berangkat bersama Vann dan Yunxi. Jadi Nokto dan Jin Heng akan tetap stay di sini. Barangkali kau membutuhkan sesuatu, kau bisa meminta tolong kepada Nokto dan Jin Heng." ucap Zen sambil meraih sebuah coat sweet caramel di tempat penggantungan lalu segera memakainya.
"Hhm. Aku akan menjaga kak Kai. Jangan khawatir, Zen! Kamu harus tetap bersemangat ya. Dan jangan lupa makan tepat waktu." ucap Amee memperlihatkan senyum manisnya yang begitu hangat.
"Okay! Aku pergi!"
Zen segera bergegas meninggalkan appartement itu bersama kedua pengawalnya. Sementara Amee memutuskan untuk segera kembali ke kamar untuk menjaga kak Kai.
Terlihat seorang pemuda yang selama ini terbiasa dengan kacamata minus beningnya yang selalu bertengger manis di tulang hidungnya yang tergolong mancung. Seorang pemuda yang selalu bersikap dewasa dan begitu tenang dalam mengambil setiap keputusan maupun menyelesaikan setiap masalahnya.
__ADS_1
Pemuda yang selalu menjaga aktrisnya dengan baik, bahkan selalu membuat jadwal dari hal yang terkecil hingga terbesar. Dan tentu saja semua itu dilakukannya dengan begitu baik.
Namun, kini pemuda itu sedang terbaring dan masih terlihat sedikit pucat karena melupakan kesehatannya sendiri. Kak Kai memiliki magh kronis, dan dia harus benar-benar menjaga pola makannya dengan baik.
Amee menatap nanar kak Kai yang masih memejamkan matanya dengan begitu rapat. Perlahan gadis yang selalu terlihat cantik dan begitu anggun itu mulai menarik sebuah kursi lalu duduk di sebelah pembaringan.
"Kakak selalu saja bekerja keras ... sampai melupakan kesehatan sendiri." ucap Amee begitu lirih dan masih menatap sayu pemuda tampan yang sedang terbaring itu.
"Eemmhh ..." tiba-tiba terdengar rintihan pelan dari kak Kai dan dia juga sedikit merubah posisi tidurnya.
"Kak ..." Amee sedikit menyentuh kening kak Kai untuk memastikan demamnya sudah turun. Raut kelegaan terukir di wajah ayunya ketika mengetahui demam kak Kai sudah mulai turun.
Perlahan pemuda itu mulai membuka matanya dan menatap sekelilingnya, "Amee ... apa yang terjadi? Kakak kenapa?" ucapnya yang kini berusaha untuk duduk.
Amee segera berinisiatif untuk membantu kak Kai untuk duduk.
"Iya. Perut kakak masih terasa sedikit sakit." sahut kak Kai yang masih memegangi perutnya.
Amee segera memberikan segelas air putih hangat yang sudah dia siapkan sebelumnya di meja di samping ranjang. Lalu dia memberikannya untuk kak Kai, "Kak, minumlah dulu."
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, kak Kai segera meminumnya.
"Sebenatar aku siapkan obatnya ..."Amee mulai meraih sebuah botol bening yang di dalamnya ada beberapa biji kapsul berwarna kehijauan. Amee mulai mengambil satu butir dan memberikannya untuk kak Kai. "Minumlah ini, Kak ..."
Kak Kai menurut saja dan segera meminum obat itu, "Terima kasih ya. Tapi ... dimana Zen?" kini kak Kai mulai mencari sosok Zen yang sedari tadi tak terlihat di segala penjuru ruangan ini.
"Zen masih ada beberapa pemotretan, Kak. Yunxi dan Vann bersama mereka kok." kini Amee meraih sebuah mangkok yang sudah berisi bubur hangat dengan aroma yang begitu gurih dan menggiurkan saliva.
__ADS_1
Kini Amee berusaha untuk menyuapi kak Kai, namun tiba-tiba saja kak Kai menahan tangan Amee ketika tangan itu sudah berjarak hanya beberapa inchi saja darinya.
"Kakak akan makan sendiri saja..." tolak kak Kai begitu halus dan ramah sambil berniat mau merebut mangkok bubir itu darinya
"Tidak, aku akan menyuapi kakak kali ini!" sahut Amee yang masih kekeh untuk menyuapi kak Kai.
...⚜⚜⚜...
Di tengah malam yang begitu hening dan sedikit dingin, terlihat seorang pemuda tampan yang sedang menyibukkan dirinya di hadapan sebuah laptopnya. Sepasang manik-manik bak okavango blue diamond itu sesekali terlihat begitu memukau dan bersinar saat sinar lampu menyorotnya.
Jemarinya juga terlihat menari dengan cukup lincah di atas keyboard.
"Huft ... sudah lama sekali rasanya aku menunda kasus ini! Ini gara-gara aku yang selalu disibukkan dengan jadwal padat bocah ini!" Zen sedikit mendengus namun wajah tampannya masih terlihat begitu serius menatap layar monitor berukuran 14 inchi di hadapannya itu.
"King of war / Hwang Jeon?" gumam Zen mengkerutkan keningnya menatap sebuah nick name di layar monitor itu. "Apakah Li Zeyan mengenalnya? Hhhm ... baiklah, besok setelah pulang dari kampus aku akan mencari cecunguk ini!"
KKLLAAP ...
Zen mulai mematikan laptopnya dan menutupnya, "Hoam ... ngantuk sekali. Saatnya aku tidur!" pemuda tampan itu membuka kedua tangannya ke atas dan meregangkan ototnya.
BBRRUKK ...
Dengan cukup keras Zen menghempaskan tubuh rampingnya ke atas pembaringan dan mulai memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama dia sudah tertidur begitu saja. Karena memang kehidupannya sekarang sangat melelahkan untuk seorang Kagami Jiro. Kehidupan yang serba menggunakan permainan yang begitu manis, tanpa banyak mengandalkan kekuatan dan tenaga.
Masih beruntung ada beberapa drama yang memiliki adegan action yang bisa meregangkan otot-ototnya. Dan juga Kagami Jiro sedikit mengasah otaknya kembali dengan mencari pelaku cyber crime itu.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1