Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Kembali Namun Menyakitkan


__ADS_3

"Hhm, kakak tau itu. Dan kakak sudah mendengar semua dari Vann." sahut kak Kai yang mulai memperlihatkan wajah kesal, seperti saat dia sedang menemukan kenakalan yang dilakukan oleh artisnya. "Lalu kenapa kau begitu bersikap seperti pahlawan saat itu?! Bahkan kau hampir saja pergi seorang diri untuk menyelamatkan Christal! Katakan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi! Ada hubungan apa kau dengan Christal? Apa kau menyukai Christal? Bahkan saat itu kau begitu khawatir setelah mendengar Christal diculik ... " selidik kak Kai.


Zen terdiam dan menatap kak Kai selama beberapa saat.


Bagaimana aku akan mejelaskan semua itu kepada kak Kai? Sedangkan saat itu yang sedang berada di dalam ragaku adalah tuan Kagami Jiro? Dan tentu saja tuan Kagami Jiro akan sangat mengkhawatirkan Christal.


Batin Zen mengkerutkan keningnya dan mulai mengusap tengkuknya. Rasanya sedikit pusing juga untuk menjelaskannya kepada kak Kai. Namun Zen segera berpikir dan mencari alasan agar kak Kai tidak kembali mencurigainya.


"Hhm? Kenapa diam saja?! Apa kau tau itu sungguh sangat berbahaya, Zen?! Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadamu?! Apa kau tak sadar dengan siapa kau sedang berususan saat ini, Zen? Mereka adalah gangster yang cukup besar dan memiliki ribuan anggota! Mereka sangat berbahaya! Dan mereka tidak seperti Doragonshadou! Kau mau membuat kakak jantungan? Hhahh?? Bagaimana jika sampai kakek Li Feng mendengar semua ini?!" kini kak Kai mulai menarik telinga Zen dan sedikit menariknya.


"Aarghh ... sakit, Kak. Ampun, Kak ..." rintih Zen menahan rasa sakit. "Aku minta maaf, Kak. Aku tak akan mengulanginya lagi, Kak. Aku berjanji. Maafkan aku, Kak."


"Baiklah. Sekarang jelaskan kepada kakak semuanya!" ucap kak Kai yang akhirnya melepaskan jewerannya karena merasa tak tega.


Zen mengusap telinganya yang baru saja dijewer oleh kak Kai, hanya terlihat sedikit merah. Namum untuk Zen mungkin masih terasa sedikit sakit.


"Uhm ... begini, Kak. Aku terlalu bersemangat saat itu karena ..."


"Karena apa?" potong kak Kai mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan masih menatap Zen dengan serius, berharap Zen akan memberikan jawaban yang membuatnya merasa puas.


"Tentu saja aku juga sangat mengkhawatirkannya, Kak. Seorang gadis diculik oleh segerombolan preman. Pasti dia akan sangat ketakutan di sana. Seorang diri tanpa ada yang dikenalinya. Berada di antara para berandalan itu sangat menakutkan, Kak." ucap Zen apa adanya. "Dan aku hanya ingin menolongnya saja saat itu."


"Tak ada yang lain?" selidik kak Kai lagi memicingkan sepasang matanya menatap Zen.

__ADS_1


"Tidak ada, Kak." jawab Zen dengan cepat.


"Lalu mengapa Vann mengatakan kepada kakak, jika saat itu kau bertingkah kurang ajar kepada tuan Kagami Jiro? Dengan lancang kau merebut ponselnya. Apa itu benar?"


Nah loh ... kali ini harus berkata apa lagi untuk meyakinkan kak Kai, Zen?


Itu karena saat itu tuan Kagami Jiro yang menempati ragaku, Kak. Tentu saja dia bisa bebuat apa saja sesuka hatinya. Apalagi jika hanya merampas ponsel dariku. Sebenarnya bukan aku yang tidak sopan, namun itu karena tuan Kagami Jiro yang sangat berkuasa. Huftt ... susah sekali menjelaskannya.


Batin Zen terlihat begitu bingung dan pusing untuk menjelaskannya. Hingga akhirnya Zen mulai menyibak rambut sivernya yang sedikit gondrong ke belakang dan memejamkam matanya.


"Aku pasti sudah sangat kehilangan akal sehatku saat itu, Kak. Aku akan meminta maaf kepada tuan Kagami Jiro." ucap Zen akhirnya.


"Ya sudah. Sekarang fokus untuk kesembuhanmu dulu. Setelah tuan Kagami Jiro sadar dan sudah bisa dikunjungi, maka kakak akan mengantarmu."


"Hhm. Terima kasih, Kak." sahut Zen dengan senyum lebar menatap kak Kai. "Bolehkah aku memeluk kakak lagi? Aku masih sangat merindukan kakak?" rengek Zen dengan memlerlihatkan ekspresi mata kucingnya alias memelas.


Suasana hati keduanya kini menjadi begitu damai dan hangat. Bahkan kak Kai juga merasakan begitu bahagia, tenang dan damai saat memeluk adik tersayangnya.


...⚜⚜⚜...


Sementara itu di kamar VIP sebelah ...


Seorang pria dewasa sedang terbaring di atas brankar dengan beberapa perban yang melilit lengan kiri dan kepalanya. Sementara tangan kanannya masih di gips karena mengalami pergeseran pada tulangnya.

__ADS_1


Seorang wanita dewasa juga terlihat sudah duduk kursi di sisi brankar. Wanita cantik dengan balutan blazer berwarna merah maroon dan dipadankan dengan rok span itu menunggunya hingga dia tertidur dengan memeluk tubuh pria dewasa yang masih terbaring lemah itu.


Sepasang mata kecoklatan itu kini mulai terbuka dan menatap atap putih di langit-langi. Pandangannya kini dia tebarkan untuk melihat sekitarnya, hingga kini dia menyadari seorang wanita cantik masih tertidur dengan tangan kanannya memeluk bagian perut pria dewasa itu. Sementara kepalanya diletakkannya di atas brankar dan menghadap ke arah pria dewasa itu.


"Yuna?" ucapnya bergeming begitu pelan.


Mengapa Yuna malah menjaga bocah Li Zeyan di sini? Seharusnya dia kan menjaga ragaku! Apa yang sedang kau pikirkan, Sayangku? Mengapa kau melakukan semua ini? Sakit sekali rasanya melihatmu lebih mempedulikan bocah itu dibanding denganku.


Batin Kagami Jiro yang masih menatap nanar Yuna.


Aku sangat merindukanmu, Yuna. Sangat merindukanmu ...


Ucapnya dalam hati kembali dan perlahan Kagami Jiro mengangkat tangan kirinya untuk mengusap lembut rambut Yuna. Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya dan membuat sebuah senyuman hangat. Sepasang manik-manik kecoklatan itu tak pernah lepas menatap istri tersayangnya.


Namun usapan lembut itu kini disadari oleh Yuna, hingga Yuna mulai membuka matanya dan mendongakkan kepalanya menatap Kagami Jiro. Senyuman hangat mulai terukir menghiasi wajah ayu yang tak pernah membuat Kagami Jiro merasa bosan.


Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat dengan mata yang sudah semakin berair karena haru. Namun ucapan pertama dari Kagami Jiro setelah dia tersadar dari kecelakaan itu, membuat Yuna begitu terkejut dan membuatnya sedikit sakit hati.


"Apa yang sedang kau lakukan disini, Yuna?" ucap Kagami Jiro yang belum menyadari jika sebenarnya dia sudah bertukar tubuh kembali saat ini.


Nyuttt ...


Sesak dan sakit. Mungkin seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Yuna saat ini, karena keberadaannya saat ini tak diinginkan oleh suaminya sendiri.

__ADS_1


Senyuman hangat yang terukir manis di wajah Yuna seketika memudar karena mendengar ucapan itu, "Jika kamu tak menginginkanku untuk berada disini, maka aku akan pergi." ucap Yuna begitu lirih. "Dan mungkin aku memang tak akan pernah bisa menggantikan sosok Amane di hatimu."


Yuna memalingkan pandangannya karena tiba-tiba saja sudah ada sesuatu yang begitu hangat membasahi kedua pipinya yang putih.


__ADS_2