
Di sebuah kamar hotel VIP Legendale Hotel Beijing dua orang gadis terlihat sedang berbincang. Salah satunya sedang mengenakan sebuah masker wajah berwarna hitam, sementara gadis satunya terlihat sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju suatu tempat.
"Kakak ipar, aku akan pergi untuk sauna dulu." ucap Christal berpamitan ke kamar Yuna.
"Ajaklah Yukimura! Khawatir jika bepergian sendirian, setidaknya biarkan Yukimura berjaga dan menunggumu di luar. Kakak akan menyusulmu setelah menyelesaikan semua ini." ucap Yuna yang masih membersihkan black pearl mask dari wajah cantiknya.
"Baiklah ... aku akan meminta paman Yukimura untuk menemaniku. Aku pergi dulu, Kakak Ipar ... bye ..." ucap Christal lalu melenggang meninggalkan kamar Yuna.
"Hhm ... bye ..."
Yuna segera melanjutkan kembali rutinitasnya untuk membersihkan masker itu.
"Hhm ... segar sekali. Sekarang mandi dulu deh ..." ucapnya lalu melenggang menuju kamar mandi.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria dewasa dengan postur tubuh yang begitu besar terlihat sedang duduk santai di depan sebuah tempat sauna di Legendale Hotel Beijing.
TRRIINNGG ...
Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk dari ponselnya. Pria dewasa itu segera meraih ponselnya dari dalam saku dan membaca pesan itu.
Yukimura. Kirimkan alamat lengkap hotel kalian. Aku akan datang kesana. Jiro.
"Jiro akan datang kesini ya? Bukankah dia sedang menemui Zen bersama Luo Kai dan juga presdir Li Feng? Hhm ..." gumam pria dewasa yang tak lain adalah Yukimura. Dia menyipitkan matanya menatap pesan itu dan mengusap dagunya yang sedikit berbulu.
Yukimura segera membalas pesan itu, dan kembali menyimpan ponselnya kembali.
...⚜⚜⚜...
Seorang wanita dewasa terlihat mulai keluar dari dalam kamar mandinya dengan memakai handuk baju. Langkah kakinya terlihat seperti menari-nari setiap langkahnya. Dan wajahnya juga terlihat begitu bersinar.
Dia mulai duduk di depan meja rias, dan memperhatikan pantulan dari dirinya sendiri dengan senyum lebar.
"Wah ... terasa begitu segar setelah memakai black pearl mask dan mandi." gumamnya sambil memengang kedua pipinya dengan sedikit menekannya. "Segar sekali ..."
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar ritme teratur yang berasal dari arah pintu. Wanita dewasa itu kini segera bangkit dan melenggang menuju pintu untuk melihat tamu itu.
"Cepat sekali sayangku sudah pulang ..." gumamnya dengan senyum mengembang lalu menarik handle pintu itu dan membukanya.
CEKKLLEEKK ...
"Cepat sekali pertemuannya, Sa ... yang ..." wajah dan senyuman yang berseri itu kini tiba-tiba menjadi sedikit memudar dan wanita itu sedikit mundur.
Terlihat seorang pria muda yang memakai topi hitam dan masker hitam berdiri tegap di balik pintu. Sepasang mata kebiruan bak okavango blue diamond itu menyorot manis dan tak pernah lepas untuk menatap gadis cantik itu.
"Siapa kamu?!" ucap Yuna begitu waspada dan berhati-hati.
"Yuna ..." gumam pemuda itu begitu lirih dan sekarang berjalan beberapa langkah mendekati wanita yang dia panggil Yuna itu.
"Siapa kamu?! Jangan macam-macam padaku!" Yuna sedikit mundur, namun pemuda itu terus maju dan akhirnya mereka malah di dalam kamar itu bersama. Dengan cepat pemuda itu menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Baj*ngan gila! Jangan main-main padaku! Atau nyawamu akan benar-benar lenyap sebentar lagi!" ancam Yuna lalu meraih sebuah pisau buah, yang kebetulan ada di dalam kamar besar itu.
Pemuda itu tidak menjawab apapun dan malah semakin mendekati Yuna. Sementara beberapa kali Yuna mulai mengayunkan pisau buah itu ke arah pemuda itu.
Lagi-lagi pemuda itu tak mengindahkan peringatan dari Yuna, dan malah semakin mendekati Yuna.
"Baiklah jika sudah tidak sayang terhadap nyawamu sendiri!" geram Yuna lalu mengayunkan pisau itu ke arah pemuda itu beberapa kali.
Namun tentu saja serangan itu dipatahkan begitu saja dengan mudah oleh pria bertopi dan bermasker itu. Kini pemuda itu mencengkeram salah satu pergelangan tangan Yuna dan seketika membaringkan Yuna karena dibelakangnya sudah ada sebuah ranjang berukuran king.
Keduanya membuat kontak mata beberapa saat, dengan Yuna yang sudah terbaring di atas ranjang, dan pemuda itu yang sudah di tepat di atasnya.
Dengan cepat tangan kiri Yuna menarik masker dan juga topi pemuda itu. Sepasang mata beningnya kini membulat sempurna melihat pemuda yang saat ini berada hanya beberapa inchi darinya. Pemuda yang sangat tidak asing baginya.
"Dasar bocah Li Zeyan gila!! Apa yang sudah kau lakukan padaku?! Beraninya kau melakukan semua ini padaku!!" Yuna menggeram dan terlihat begitu murka.
Namun raut wajah Zen terlihat begitu sayu dan sedih, bahkan dia tak bisa berkata-kata saat ini untuk menjawab Yuna.
Aku sangat merindukanmu, Yuna istriku ... aku sangat kesulitan tanpamu selama ini ... bahkan aku hampir saja tidak akan bisa bertemu denganmu lagi karena racun mematikan itu. Saat ini ... aku hanya ingin melihatmu dan bersamamu ...
__ADS_1
Batin Zen dengan mata yang sudah sedikit berair karena begitu sedih.
"Apa kau tuli, Li Zeyan?!" geram Yuna lagi.
"Aku mohon ... sebentar saja biarkan aku disini ... aku tidak tau harus bagaimana untuk menghadapi semua ini ..." gumam Zen begitu pelan dan terlihat begitu bersedih.
"Apa maksudmu?!" tandas Yuna yang masih terlihat begitu kesal.
Zen merobohkan tubuhnya di atas tubuh Yuna seketika, dan mendaratkan kepalanya pada bahu Yuna, "Aku mohon ... sebentar saja ..." ucapnya dengan begitu lirih.
Cihh ... bocah ini lama-lama ngelunjak! Awas saja kau!
Batin Yuna yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kamar ini ada CCTV tersembunyi. Apa kau tidak takut jika aku membeberkan kepada dunia tentang sikapmu yang seperti ini? Menggoda wanita yang sudah menjadi istri orang lain!"
"Lakukan saja semua semaumu! Kau sendiri juga akan terkena imbasnya, bahkan nama baik keluarga besar Kagami akan tercemar, bahkan kau juga akan dilabeli sebagai pengkhianat karena sudah mengkhianati Kagami Jiro. Dan pasti Kagami Jiro juga akan menceraikanmu ... oh tidak ....mungkin saja dia akan membunuhmu ..." ucap Zen dengan senyum gemas dan semakin membenamkan kepalanya pada bahu Yuna.
Sepasang mata Yuna kini semakin membulat sempurna karena begitu terkejut mendengarkan ucapan dari pemuda bernama Zen itu.
"Dasar baj*ingan licik! Jelas-jelas kau adalah dalang dari semua ini! Kau yang datang dan melakukan semua ini padaku!!" kini wajah Yuna semakin memanas dan dia sedikit mendorong tubuh Zen namun entah mengapa Yuna merasa Zen terlalu berat dan cukup kuat, bahkan usahanya kini sia-sia untuk membuat Zen terbangun. Padahal Zen begitu ramping.
Kini Zen malah semakin sengaja menekan tubuh Yuna dan beberapa kali terjadi gesekan yang sangat membuat Yuna merasa risih karena semuanya saling menempel.
"Bangunlah!" perintah Yuna begitu tegas.
"Tidak mau ..." jawab Zen dengan begitu santai.
"Dasar bocah!!" geram Yuna berusaha mendorong tubuh itu kembali namun ternyata usahanya tak membuahkan hasil.
"Aku rindu sekali aroma ini ... aku rindu semuanya ... aku mohon biarkan dulu sebentar seperti ini ... atau aku akan melakukan sesuatu yang lebih ..." kini Zen merubah posisi kepalanya berbalik menghadap leher dan dagu indah Yuna.
"Lihat saja! Kau akan segera habis ditangan suamiku dan Yukimura!"
"Benarkah? Aku tak sabar menantikannya ..." tantang Zen dengan senyum manis dan semakin mendekatkan wajahnya hingga mengecup leher Yuna.
__ADS_1